Harga Minyak Brent Naik, tapi Ambruk Nyaris 8% Sepekan
NEW YORK, investor.id – Harga minyak dunia naik pada perdagangan Jumat (19/6/2026), tetapi tetap mencatatkan penurunan mingguan nyaris 8% setelah Israel dan Hizbullah menyepakati gencatan senjata di Lebanon.
Dikutip dari Reuters, kesepakatan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah dan memicu ekspektasi meningkatnya pasokan global.
Harga minyak Brent naik 0,53% menjadi US$ 80,38 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 1,23% ke level US$ 77,54 per barel.
Meski mencatat kenaikan harian, Brent masih menuju penurunan sekitar 7,96% sepanjang pekan ini. Koreksi tajam tersebut mencerminkan berkurangnya premi risiko geopolitik setelah tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik di kawasan.
Volume perdagangan relatif tipis karena pasar AS libur nasional. Namun demikian, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan di Timur Tengah, khususnya terkait pemulihan arus pasokan energi melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Setelah gencatan senjata mulai berlaku pada Jumat, produsen minyak di kawasan Teluk dilaporkan mulai bersiap meningkatkan ekspor. Data MarineTraffic menunjukkan sedikitnya empat kapal tanker yang mengangkut minyak mentah, produk minyak, dan liquefied petroleum gas (LPG) memasuki Selat Hormuz menuju pelabuhan di Teluk Irak.
Meski aktivitas pelayaran mulai meningkat, Iran memberikan sinyal pengawasan yang lebih ketat terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz harus berkoordinasi dengan angkatan laut Garda Revolusi Iran.
Dalam pemberitahuan yang beredar di industri pelayaran, Otoritas Selat Teluk Persia Iran menyatakan tidak ada kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz tanpa izin pelayaran resmi.
Pendiri Commodity Context Rory Johnston mengatakan, ketentuan baru dari Iran tersebut menjadi salah satu faktor yang menahan penurunan harga minyak lebih dalam. “Pasar sebelumnya memperkirakan kesepakatan dan implementasinya akan berjalan mulus. Namun sejauh ini situasinya belum sepenuhnya seperti yang diharapkan,” ujar Johnston.
Meski demikian, pasar tetap menilai risiko gangguan pasokan telah berkurang signifikan dibanding beberapa pekan sebelumnya.
Harga Minyak Pulih
Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn mengatakan, harga minyak perlahan bergerak menuju level sebelum konflik pecah karena pasokan tambahan diperkirakan segera masuk ke pasar. “Meski harga belum kembali ke level sebelum perang, arahnya mengarah ke sana. Pasokan tambahan kemungkinan akan mulai mengalir dalam beberapa hari ke depan,” kata Flynn.
Menurut dia, antrean kapal tanker yang sempat tertahan dapat terurai lebih cepat apabila kerja sama antara Iran dan AS berjalan lancar.
Pasar juga menyoroti perkembangan diplomatik terbaru setelah pertemuan pejabat Iran dan AS yang semula dijadwalkan berlangsung di Swiss ditunda. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan penundaan tersebut tidak mendesak karena nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik telah ditandatangani secara digital oleh kedua pihak.
Para analis memperkirakan kesepakatan tersebut dapat membuka jalan bagi lebih dari 85 juta barel minyak yang selama ini tertahan di kawasan Teluk untuk kembali masuk ke pasar global. Selain itu, pencabutan sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran diperkirakan akan menambah pasokan dunia dalam beberapa bulan mendatang.
Sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global melewati Selat Hormuz. Meski demikian, normalisasi penuh arus pasokan dan produksi diperkirakan membutuhkan waktu beberapa bulan.
Citigroup memperkirakan pasar minyak berpotensi memasuki kondisi surplus dalam enam hingga 12 bulan mendatang. Dalam skenario dasarnya, harga minyak diproyeksikan turun ke kisaran US$ 60-65 per barel pada kuartal I-2027.
Sementara itu, Commerzbank menurunkan proyeksi harga Brent akhir tahun menjadi US$ 80 per barel dari sebelumnya US$ 85 per barel. Kendati demikian, bank tersebut memperkirakan harga minyak masih bertahan di atas level sebelum konflik selama sebagian besar tahun depan.
Dari sisi produksi, Menteri Perminyakan Irak Basim Mohammed mengatakan, ladang-ladang minyak negaranya siap kembali beroperasi penuh dan produksi akan meningkat secara bertahap hingga kembali ke tingkat normal.
Di tengah prospek tambahan pasokan tersebut, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) tetap optimistis terhadap permintaan jangka panjang. Dalam laporan World Oil Outlook 2026, OPEC memperkirakan konsumsi minyak global meningkat menjadi 113,3 juta barel per hari pada 2030 dari 105,1 juta barel per hari pada 2025.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






