Jumat, 15 Mei 2026

BMKG: Potensi El Nino di Indonesia Capai 50% dan Terus Meningkat

Penulis : Hendro Situmorang
20 Jun 2023 | 07:30 WIB
BAGIKAN
Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto meminta semua mengantisipasi peluang El Nino melanda Indonesia dengan sejumlah langkah
Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto meminta semua mengantisipasi peluang El Nino melanda Indonesia dengan sejumlah langkah

JAKARTA, Investor.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi El Nino di Indonesia telah mencapai 50% dan dipastikan peluang ini terus meningkat. 

“Saat ini, BMKG memprediksi peluang terjadinya El Nino di Indonesia sudah 50% dan terlihat kenaikan peluang terjadi,” ungkap Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto dalam diskusi daring yang digelar Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk "Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan" Senin (19/6/2023).

Kemarau panjang akibat El Nino diprediksi terjadi hingga akhir tahun dan hal tersebut harus diantisipasi secara serius. 

ADVERTISEMENT

"Indeksnya saat ini sudah 0,9 dan ini pertanda akan merambat menuju moderat, yaitu dari lemah menuju moderat. Apabila tidak ditangani seirus dengan antisipasi, maka kekeringan, kekurangan air hujan itu akan menjadi nyata," urai dia.

Guna menghadapi musim panas berkepanjangan, dia mengatakan,  perlu dilakukan sejumlah langkah. Pertama, masyarakat harus diedukasi untuk bisa menghemat air.

"Karena hari ini, wilayah-wilayah di Indonesia masih ada yang menerima hujan yang disimpan dalam bentuk waduk atau embung untuk dikelola dengan baik," ucapnya.

Guswanto juga meminta untuk dilakukan antisipasi khusus di wilayah-wilayah yang memiliki lahan gambut, khususnya Sumatra dan Kalimantan. Antisipasi yang dilakukan dapat berupa pembasahan baik dialiri air melalui tanah maupun menggunakan teknologi modifikasi cuaca (TMC).

"Dan terakhir yang perlu diantisipasi adalah apabila ada kebakaran, asap lintas batas ini perlu diwaspadai. Jangan sampai asap lintas batas bisa mengganggu negara tetangga," ungkap dia.

Lebih lanjut, Guswanto menuturkan, berbicara mengenai kekeringan, ada sejumlah krisis yang mengikuti seperti krisis air, krisis energi, hingga krisis pangan.

"Kedua bisa juga nanti krisis energi atau listrik. Karena sebagian besar sumber listrik di Indonesia menggunakan PLTA. Yang ketiga krisis pangan. Hal-hal inilah yang perlu kita antisipasi. Antara lain misalnya melakukan edukasi kepada masyarakat. Ada namanya Sekolah Lapang Iklim (SLI)," ujarnya.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia