Dino Patti Djalal: Posisi Indonesia Terbatas pada Konflik Iran-Israel
JAKARTA, investor.id – Terlepas dari prinsip politik luar negeri yang bebas aktif, namun ruang keterlibatan Indonesia cenderung terbatas dalam konteks konflik di Timur Tengah. Praktisi hubungan internasional sekaligus Wakil Menteri Luar Negeri RI tahun 2014 Dino Patti Djalal melihat posisi Indonesia masih ada pada lini dua.
Mantan duta besar (dubes) RI di Amerika Serikat (AS) itu membagikan pandangannya perihal posisi Indonesia dalam konflik yang melibatkan Iran dan Israel, di tengah diskusi yang dilaksanakan secara daring, Senin (15/4/2024).
"Saya kira kita harus realistis. Kalau kita mau jujur, untuk segala konflik di Timur Tengah, Indonesia dan Asia Tenggara itu bermain di lini kedua. Lini pertama itu biasanya Amerika, Norwegia, atau negara-negara Arab sendiri," jelas Dino, Senin.
Menurut dia, tak semua negara di Asia Tenggara memiliki perhatian khusus terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
"Jadi memang (posisi) kita agak terbatas. Di Asia pun (pendapat) juga terpecah-belah juga mengenai hal ini. Ada yang perhatian lebih besar terhadap Timur Tengah, tapi ada juga negara-negara yang tidak begitu perhatian dengan apa yang terjadi di Timur Tengah," imbuhnya.
Ia mengatakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) belum tentu dapat menelurkan resolusi yang solutif terkait konflik ini. Ia mengambil contoh konflik di Timur Tengah lainnya, yakni antara Israel dan Palestina, saat langkah PBB diveto besar-besaran oleh AS.
"Kalau PBB, waktu kemarin saja Israel-Gaza itu susah banget mengeluarkan suatu resolusi di dewan keamanan, karena selalu diveto oleh Amerika. Nah kalau ini akan menjadi ajang perbenturan di dewan PBB antara kubu Amerika, Inggris, Perancis dengan kubu Rusia dan China," tutur Dino.
Dengan adanya perbenturan dua pihak yang sangat bertentangan ini, kemungkinan besar tidak akan ada suatu resolusi yang efektif dari dewan keamanan PBB karena juga banyak yang melihat Iran sebagai momok.
“Kalau kita melihat Iran biasa saja, bahkan sebagai negara sahabat dan lain sebagainya. Tapi kalau Amerika, mereka melihat Iran itu sudah sangat ideologis. Jadi kalau ada pihak pemerintah yang mencoba merangkul Iran itu akan mendapat kecaman," lanjutnya.
Meski demikian, Dino melihat ada peluang dari hubungan antara Indonesia dan Iran yang bisa menjadi langkah Indonesia untuk menunjukan eksistensinya di dunia internasional.
"Kalau kita bicara peluang yang bisa dilihat Indonesia itu, please make the call. Telepon pemerintah Iran, karena kita kenal dengan (menteri luar negeri) menlu dan presidennya. What's going on? What's on your mind? Dari sana kita bisa telepon Amerika. Mungkin kita bisa cari jalan tengah," jelas dia.
Dino berpandangan, pengambilan langkah yang normatif seperti merilis siaran pers bukanlah hal yang menarik dan berdampak.
"Kalau kita hanya buat statement dari Jakarta, apalagi yang dikeluarkan oleh juru bicara di (Kementerian Luar Negeri) Kemlu, it has little impact. Karena semua orang bikin statement. Menurut saya kita punya akses terhadap Iran, kita bisa gocek bola di lapangan," tandasnya.
Diketahui, Iran melancarkan aksi pembelaan diri atas serangan Israel ke konsulat Iran di Damaskus, Suriah pada awal April 2024. Ini dibalas oleh Iran dengan mengirimkan 300 rudal dan kapal nirawak (drone) ke Israel pada Sabtu (12/4).
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






