Jumat, 15 Mei 2026

Jumlah Pemudik Lebaran 2025 Turun Disinyalir karena Daya Beli Merosot dan PHK

Penulis : Grace El Dora
30 Mar 2025 | 21:30 WIB
BAGIKAN
Penumpang berjalan membawa barang bawaan saat menunggu jadwal keberangkatan kereta di Stasiun Gambir, Jakarta, Sabtu (29/3/2025). (Foto: ANTARA FOTO/ Dhemas Reviyanto)
Penumpang berjalan membawa barang bawaan saat menunggu jadwal keberangkatan kereta di Stasiun Gambir, Jakarta, Sabtu (29/3/2025). (Foto: ANTARA FOTO/ Dhemas Reviyanto)

JAKARTA, investor.id – Lebaran merupakan momen yang sangat dinantikan oleh umat Muslim di Indonesia, di mana tradisi mudik ke kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Hari Raya Idul Fitri. Namun, menjelang Lebaran 2025, sejumlah data dan penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam jumlah pemudik.

Penurunan ini disinyalir karena penurunan daya beli masyarakat Indonesia yang terpengaruh oleh kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Hal ini memang telah menjadi perhatian utama dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan survei terbaru, sekitar 15% hingga 20% masyarakat Indonesia yang biasanya melakukan perjalanan mudik pada tahun-tahun sebelumnya mengurangi atau bahkan membatalkan rencana mudik mereka pada Lebaran 2025.

ADVERTISEMENT

Sebagai perbandingan, jumlah pemudik Lebaran 2024 berdasarkan survei Kementerian Perhubungan (Kemenhub) diperkirakan mencapai 193,6 juta orang, atau sekitar 71,7% dari jumlah penduduk Indonesia.

Sedangkan jumlah pemudik Lebaran 2025 menurut proyeksi Kemenhub akan mencapai 146,48 juta orang, yang berarti terjadi penurunan sekitar 24% dibandingkan tahun sebelumnya.

Faktor utama yang mempengaruhi keputusan ini adalah penurunan daya beli masyarakat akibat inflasi yang tinggi, harga barang-barang kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, serta kenaikan harga bahan bakar yang turut memengaruhi biaya transportasi.

Reuters melaporkan, per Februari 2025 Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,09% secara tahunan, yang merupakan deflasi pertama dalam lebih dari dua dekade.

Penurunan harga ini terutama disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang memberikan diskon besar pada tagihan listrik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Meskipun demikian, deflasi ini juga mencerminkan lemahnya permintaan domestik dan penurunan daya beli masyarakat.

Pada kuartal III-2024, konsumsi rumah tangga Indonesia hanya tumbuh 4,91% secara tahunan (YoY) yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang lemah sebesar 4,95% pada periode tersebut. Hal ini menunjukkan indeks belanja konsumen, yang merupakan pendorong utama ekonomi Indonesia, mengalami perlambatan signifikan.

Selain karena penurunan daya beli masyarakat, fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran juga menjadi faktor yang menyebabkan penurunan pemudik Lebaran 2025.

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mencatat, pada awal 2025 hampir 14.000 pekerja formal kehilangan pekerjaan akibat penurunan di sektor manufaktur.

Hal ini mempengaruhi pendapatan rumah tangga dan secara langsung berdampak pada penurunan daya beli masyarakat, kata Guru Besar Ilmu Manajemen UMS Anton Agus Setyawan seperti dikutip dari laman resminya pada 19 Maret 2025.

Gelombang PHK terus meningkat di awal 2025. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat sebanyak 3.325 pekerja terkena PHK per Januari 2025, sehingga total tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan mencapai 81.290 orang. Angka ini meningkat 4,26% dari Desember 2024 yang mencatat 77.965 kasus PHK.

Meskipun pemerintah telah berupaya untuk menstabilkan harga barang dan meningkatkan daya beli melalui sejumlah kebijakan ekonomi, seperti bantuan sosial dan subsidi, namun dampaknya belum terasa signifikan bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah.

Sejumlah pekerja dengan penghasilan rendah merasa kesulitan untuk menabung dan membiayai perjalanan mudik yang membutuhkan biaya tidak sedikit.

Penurunan jumlah pemudik pada Lebaran 2025 merupakan fenomena yang cukup mencerminkan kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Daya beli yang merosot akibat inflasi dan biaya hidup yang tinggi telah mengubah kebiasaan mudik yang sudah menjadi tradisi.

Meski demikian, dengan adanya upaya yang tepat dari pemerintah dan sektor terkait, diharapkan momen Lebaran tetap dapat menjadi ajang kebersamaan yang bermakna bagi seluruh masyarakat Indonesia, meskipun dalam kondisi ekonomi yang penuh tantangan.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia