Jumat, 15 Mei 2026

Ekonom Usulkan Prabowo Deregulasi Total, Dorong Manufaktur, dan Telepon Trump

Penulis : Vinnilya Huanggrio
8 Apr 2025 | 19:02 WIB
BAGIKAN
Presiden Prabowo Subianto (kiri) didampingi Menkeu Sri Mulyani (kanan) dan Seskab Teddy Indra Wijaya mendengarkan paparan presentasi dalam Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden RI di Menara Mandiri, Senayan, Jakarta, Selasa (8/4/2025). Acara bertema Memperkuat Daya Tahan Ekonomi Indonesia di Tengah Gelombang Perang Tarif Perdagangan itu dihadiri jajaran menteri, Dewan Ekonomi Nasional, BI, OJK, LPS dan sejumlah pemangku kepentingan. (Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/sgd/Spt)
Presiden Prabowo Subianto (kiri) didampingi Menkeu Sri Mulyani (kanan) dan Seskab Teddy Indra Wijaya mendengarkan paparan presentasi dalam Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden RI di Menara Mandiri, Senayan, Jakarta, Selasa (8/4/2025). Acara bertema Memperkuat Daya Tahan Ekonomi Indonesia di Tengah Gelombang Perang Tarif Perdagangan itu dihadiri jajaran menteri, Dewan Ekonomi Nasional, BI, OJK, LPS dan sejumlah pemangku kepentingan. (Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/sgd/Spt)

JAKARTA, investor.id – Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengusulkan agar Presiden Prabowo Subianto melakukan gebrakan berupa deregulasi total, dorong manufaktur, hingga menelepon Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Tiga usulan konkret ini disampaikannya dalam sarasehan ekonomi bertema "Memperkuat Daya Tahan Ekonomi Indonesia di Tengah Gelombang Perang Tarif Perdagangan" di Menara Mandiri, Sudirman, Jakarta, Selasa (8/4/2025) yang juga dihadiri Presiden Prabowo.

Ia mengatakan, deregulasi secara menyeluruh, penguatan sektor manufaktur, serta pendekatan bilateral dengan Presiden Trump akan membantu ekonomi Indonesia.

ADVERTISEMENT

Dalam paparannya, Wijayanto menekankan pentingnya deregulasi besar-besaran untuk menarik investasi dan menciptakan efisiensi ekonomi. Dirinya menekankan, pemerintah mendatang perlu melakukan deregulasi secara total dan bukan setengah-setengah seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.

Wijayanto Samirin pun menyarankan agar Indonesia menggunakan Vietnam sebagai satu-satunya negara pembanding atau benchmark. Bukan tanpa alasan, Vietnam dinilai berhasil menciptakan iklim usaha yang kondusif dan menarik investasi asing secara masif.

“Vietnam punya apa, kita harus punya juga. Syukur-syukur bisa lebih baik. Di sana tidak ada premanisme di kawasan industri, izin usaha cepat, tanah murah, dan TKDN fleksibel. Semua itu membuat kontrol pemerintah jadi lebih mudah,” paparnya, Selasa.

Ekonom itu pun menyoroti sektor manufaktur sebagai peluang pertumbuhan ekonomi yang belum dimaksimalkan pasca pandemi. Wijayanto Samirin menyebut, sebelum Covid-19, utilisasi sektor manufaktur mencapai 75%. Namun angka itu sempat turun ke 50% dan saat ini baru menyentuh 60%.

Menurutnya, jika pemerintah mampu mendorong sektor ini kembali ke level sebelum pandemi maka pertumbuhan ekonomi nasional bisa naik hingga 3% tanpa perlu tambahan investasi yang besar.

Ia pun mengusulkan agar pemerintah memberikan insentif dan “karpet merah” kepada pengusaha lokal yang tetap bertahan di Indonesia di tengah tekanan global. Dengan pendekatan ini, diharapkan utilisasi manufaktur bisa meningkat signifikan, bahkan hingga 90% dalam jangka menengah.

Dalam konteks hubungan internasional, Wijayanto Samirin mengusulkan agar Presiden Prabowo mengambil pendekatan bilateral yang lebih personal terhadap AS dengan secara langsung berbicara dengan Presiden Trump.

Menurutnya, Trump memiliki gaya kepemimpinan yang top-down dan cenderung menolak pendekatan multilateral seperti ASEAN. Oleh karena itu, ia menyarankan Prabowo untuk tidak ragu mengambil inisiatif melakukan panggilan telepon langsung ke Trump sebagai langkah awal membangun komunikasi strategis.

“Kalau rame-rame datang, dia tidak bisa bully, Pak. Jadi inginnya bilateral. Kami yakin, satu telepon dari Bapak akan sangat membantu menteri-menteri yang Bapak tugaskan untuk negosiasi dengan pihak Amerika,” tambah dia.

Wijayanto juga menilai ASEAN bukan platform yang efektif untuk negosiasi tarif dagang karena perbedaan kepentingan antar negara anggota yang terlalu besar. Jalur mandiri dinilai lebih realistis untuk menghadapi kebijakan dagang Amerika di bawah kepemimpinan Trump.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia