Kamis, 14 Mei 2026

Menilik Peluang Saham Saat Pasar Linglung

Penulis : Rama Sukarta
17 Apr 2025 | 15:02 WIB
BAGIKAN
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memegang perintah eksekutif yang telah ditandatangani selama acara di Ruang Timur Gedung Putih, Selasa (8/4/2025) di Washington, AS. (Foto: AP/ Evan Vucci)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memegang perintah eksekutif yang telah ditandatangani selama acara di Ruang Timur Gedung Putih, Selasa (8/4/2025) di Washington, AS. (Foto: AP/ Evan Vucci)

JAKARTA, investor.id – Pasar saham dunia diguncang ketidakpastian akibat perang tarif yang dicetuskan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Usai mengumumkan tarif resiprokal yang tinggi kepada puluhan negara di dunia, Trump memilih untuk menahan implementasi kebijakan kontroversial tersebut selama 90 hari sejak 9 April 2025.

Mencermati Hal tersebut, Direktur KISI Asset Management Arfan F. Karniody mengatakan pada saat ini investor dapat membidik saham saham berbasis ekspor yang dapat mendulang dolar AS.

"(Stabilitas global) ini kita nggak ada yang tahu. Ini hanya di benaknya Donald Trump. Jadi begitu kita melihat kemungkinan rupiah akan melemah, kita langsung beralih dan mulai melakukan repositioning, yaitu kita melakukan penambahan kepemilikan di beberapa saham yang export-based," papar Arfan kepada B-Universe di PIK2 Tangerang, Kamis (17/4/2025).

ADVERTISEMENT

Menurut Arfan, selain sektor komoditas berbasis ekspor, komoditas emas dan saham emas juga patut untuk diperhatikan. Sebab, menurut pengamatannya selama beberapa hari terakhir, harga saham emas cenderung naik.

Sektor ketiga yang dapat dicermati oleh investor, menurut Arfan, adalah konsumer. Alasan sektor konsumer masuk dalam radar Arfan adalah karena sektor tersebut dianggap agile.

Terakhir, Arfan menjelaskan peluang yang bisa diintip oleh investor pada saham saham yang harganya telah terdiskon.

"Saya bilang sudah cukup, waktunya sudah minimal mulai melirik-lirik dan melihat-lihat. Terbukti juga dengan banyaknya perusahaan yang mulai melakukan dan mengumumkan, paling nggak mengumumkan untuk melakukan buyback. Ya, artinya mereka tahu value-nya sekarang lagi di bawah, lagi tertekan, tapi mereka tidak melihat adanya gangguan yang signifikan, sehingga langsung mengumumkan buyback. Ditambah lagi ada relaksasi peraturan untuk buyback nggak perlu RUPS lagi, jadi langsung cepat bisa. Saya bilang sih, itu berita yang sangat baik," pungkas Arfan.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 1 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 1 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 1 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia