Jumat, 15 Mei 2026

Pakar UGM Sebut Nikel Jadi Senjata Tawar Ekspor Indonesia di Tengah Tarif Trump

Penulis : Chandra Adi Nurwidya
19 Mei 2025 | 12:57 WIB
BAGIKAN
Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). (Foto: Istimewa)
Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). (Foto: Istimewa)

YOGYAKARTA, investor.id – Pakar Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebutkan nikel bisa jadi senjata tawar ekspor Indonesia di tengah penerapan tarif Trump. Pasalnya, Presiden Amerika Serikat (AS) telah menetapkan tarif dagang tinggi terhadap 10 negara termasuk Indonesia. Kebijakan ini berupa tarif resiprokal sebesar 32%, meski belum diberlakukan karena masih dalam masa penundaan selama 90 hari terhitung sejak 9 April 2025.

Sebagai perbandingan, China baru saja sukses merundingkan penurunan bea masuk produk mereka dari 145% menjadi 30% setelah negosiasi dengan pemerintah AS. Situasi ini memunculkan harapan Indonesia juga memiliki ruang untuk negosiasi.

Guru Besar Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum UGM Mailinda Eka Yuniza menilai posisi Indonesia dalam negosiasi cukup strategis, terutama karena kekayaan sumber daya mineralnya. “Pada dasarnya hal ini memperkuat akses Amerika terhadap sumber daya tersebut dan membuat ketersediaan globalnya menjadi semakin strategis,” katanya, Senin (19/5/2025).

ADVERTISEMENT

Mailinda menjelaskan, pemerintah AS kini mencabut bea masuk atas sejumlah mineral penting yang dibutuhkan untuk industri teknologi dan pertahanan. Negara-negara penghasil mineral pun kini memiliki daya tawar lebih besar. Ia mencontohkan langkah pemerintah China yang menghentikan ekspor berbagai mineral penting dan berdampak besar bagi pasokan global. Menurutnya, Indonesia yang memiliki 34% cadangan nikel dunia dapat menempuh langkah serupa.

“Kekuatan dari tawar ini bukanlah sekadar teori. Baik pembatasan dari China maupun Indonesia disebut sebagai hambatan non-tarif dalam National Trade Estimate Report on Foreign Trade Barriers terbaru dari United States Trade Representative,” paparnya.

Di sisi lain, Mailinda juga menilai Indonesia berada dalam dilema antara memanfaatkan kekuatan jangka pendek atau melanjutkan agenda industrialisasi jangka panjang.

“Sebagai negara berkembang, Indonesia mungkin tidak sanggup menanggung dampak finansial dari tarif berkepanjangan,” ujarnya. Ia menyebutkan, sejauh ini pemerintah cenderung memilih pendekatan kooperatif dengan memberikan beberapa konsesi seperti menurunkan kuota impor dan melonggarkan aturan kandungan lokal untuk produk elektronik dari AS.

“Saya kira ini langkah-langkah yang jelas bertujuan mengakhiri konflik dagang dengan cepat,” kata dia. Meski demikian, Mailinda mengingatkan kebijakan perdagangan bebas dengan AS dapat mengganggu kebijakan hilirisasi mineral yang ditegakkan sejak Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 diberlakukan. Investasi besar telah digelontorkan untuk pengolahan dalam negeri, termasuk pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti Danantara.

“Membalikkan arah saat ini akan menyia-nyiakan upaya dan investasi selama bertahun-tahun,” kata Mailinda.

Salah satu opsi negosiasi yang mungkin ditempuh adalah mengaktifkan kembali Trade and Investment Framework Agreement (TIFA). Namun, Mailinda menilai kesepakatan baru ini berpotensi membuka tuntutan AS untuk akses lebih besar terhadap mineral Indonesia. “Tanda-tanda hal ini sudah terlihat dalam pembicaraan perdagangan terbaru, di mana Indonesia menunjukkan kesediaan untuk memperdalam kerja sama dalam rantai pasokan mineral penting meskipun cakupan dan mekanismenya masih belum jelas,” sebutnya.

Lebih lanjut, Mailinda menggarisbawahi regulasi domestik Indonesia masih melarang ekspor bijih mineral mentah. Karena itu, perjanjian yang membuka akses lebih luas bagi AS kemungkinan memerlukan revisi besar terhadap kebijakan dan hukum nasional. “Jika AS menekan untuk liberalisasi pasar secara luas di sektor ini, Indonesia perlu melakukan perubahan struktural kebijakan yang lebih dari sekadar komitmen diplomatik,” tukasnya.

“Jika tren ini berlanjut, dunia bisa bergerak semakin jauh dari kerja sama global dan menuju sistem di mana hanya kelompok-kelompok negara tertentu yang bekerja sama,” tambah dia.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia