Jumat, 15 Mei 2026

Kejagung Telusuri Aliran Dana Kredit Sritex  Rp 692 Miliar yang Diduga Dikorupsi

Penulis : Muhammad Aulia Rahman
23 Mei 2025 | 15:06 WIB
BAGIKAN
Buruh dan karyawan mendengarkan pidato dari direksi perusahaan di Pabrik Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (28/2/2025). (ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)
Buruh dan karyawan mendengarkan pidato dari direksi perusahaan di Pabrik Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (28/2/2025). (ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha)

JAKARTA, investor.id - Kejaksaan Agung (Kejagung) tengah mendalami aliran uang Rp 692 miliar dalam kasus dugaan korupsi pemberian fasilitas kredit ke PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex. Uang itu merupakan kredit yang dikucurkan dari Bank BJB dan Bank DKI ke Sritex.

"Itu yang sedang terus didalami, ke mana aliran penggunaan uang Rp 692 miliar, sehingga itu dikatakan sebagai kerugian keuangan negara," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Harli Siregar di Jakarta, Jumat (23/5/2025). 

Harli menyampaikan, pemberian kredit itu sejatinya mesti dimanfaatkan untuk modal kerja, dalam hal ini mendukung operasional perusahaan mulai dari pekerja hingga produksi.

ADVERTISEMENT

Hanya saja, Kejagung kemudian menduga salah satu tersangka dalam kasus ini yaitu komisaris utama Sritex, Iwan Setiawan Lukminto (ISL) justru memanfaatkan kredit itu untuk membayar utang.

"ISL justru menggunakan ini untuk hal-hal lain, katakan untuk pembayaran utang. Nah ini sekarang yang sedang didalami oleh penyidik apakah pembayaran utang perusahaan atau uang pribadi," ujar Harli.

Harli menekankan, kredit itu juga tak semestinya dimanfaatkan sekalipun untuk pembayaran utang perusahaan. Hal itu mengingat tidak sesuai dengan maksud tujuannya, mengingat dalam kontrak akad kredit sudah disepakati diperuntukkan demi modal kerja.

"Belum lagi misalnya ada indikasi bahwa uang ini juga untuk dipergunakan terhadap penggunaan, pembelian aset-aset yang tidak produktif, yang tidak produktif bagi berlangsungnya kinerja dari perusahaan ini," ungkap Harli.

Harli memandang, bisa saja Sritex saat ini masih dalam kondisi yang sehat jika manajemennya memanfaatkan pemberian kredit tersebut dengan baik.

"Sebagaimana informasi yang sudah disampaikan di tahun 2020 perusahaan ini mengalami keuntungan sekitar Rp 1,8 triliun. Tetapi pada tahun 2021 itu sudah minus Rp 15 triliun lebih. Jadi ada deviasi yang cukup signifikan, yang barangkali itu menjadi anomali dan pintu masuk bagi kita untuk mengkaji, menganalisa. Kenapa sih harus sampai begitu. Nah makanya ternyata di sana ada juga tindak pidana korupsi," pungkasnya. 

Diketahui, Kasus korupsi Sritex melibatkan tiga tokoh kunci, yaitu Dicky Syahbandinata (DS), Zainuddin Mappa (ZM), dan Iwan Setiawan Lukminto (ISL). Ketiganya telah ditahan oleh penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung untuk keperluan penyelidikan lebih lanjut.

Editor: Maswin

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia