Jumat, 15 Mei 2026

Kejagung Duga Sritex Gulung Tikar karena Dana Kredit Disalahgunakan 

Penulis : Muhammad Aulia Rahman
23 Mei 2025 | 16:39 WIB
BAGIKAN
Partai Buruh dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Jawa Tengah menggelar aksi demo di depan rumah pemilik PT Sritex Iwan Kurniawan Lukminto. Demonstrasi dilakukan di Jalan Bhayangkara, Baron, Solo, Jumat (21/3/2025) siang. (Foto: B-Universe/ Rizka Ardina)
Partai Buruh dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Jawa Tengah menggelar aksi demo di depan rumah pemilik PT Sritex Iwan Kurniawan Lukminto. Demonstrasi dilakukan di Jalan Bhayangkara, Baron, Solo, Jumat (21/3/2025) siang. (Foto: B-Universe/ Rizka Ardina)

JAKARTA, investor.id - Kejaksaan Agung (Kejagung) menduga PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) menjadi pailit karena ada dugaan korupsi dana kredit bank. Dana yang semestinya untuk modal kerja justru digunakan untuk keperluan lain sehingga berakibat perusahaan tersebut oleng hingga dinyatakan pailit.

“Kalau manajemen yang baik dengan pemberian kredit yang sudah sangat signifikan, barang kali PT Sritex ini akan tetap berada pada perusahaan yang sehat," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Harli Siregar di Jakarta, Jumat (23/5/2025). 

Menurut Harli, pemberian kredit itu sejatinya mesti dimanfaatkan untuk modal kerja, dalam hal ini mendukung operasional perusahaan mulai dari pekerja hingga produksi.

ADVERTISEMENT

Kejagung menduga, salah satu tersangka dalam kasus ini yaitu Komisaris Utama Sritex, Iwan Setiawan Lukminto (ISL) justru memanfaatkan kredit itu untuk membayar utang.

"ISL justru menggunakan ini untuk hal-hal lain, katakan untuk pembayaran utang. Nah ini sekarang yang sedang didalami oleh penyidik apakah pembayaran utang perusahaan atau uang pribadi," ujar Harli.

Harli menekankan, kredit itu juga tak semestinya dimanfaatkan sekalipun untuk pembayaran utang perusahaan. Hal itu mengingat tidak sesuai dengan maksud tujuannya, yakni untuk modal kerja.

Selain itu, Kejagung juga mengendus kejanggalan terkait timpangnya keuntungan dan kerugian yang dimiliki Sritex dalam periode singkat.

Dijelaskan Harli, Sritex meraup keuntungan sekitar Rp 1,8 triliun pada tahun 2020, tapi pada tahun 2021, Sritex merugi hingga minus lebih dari Rp 15 triliun.

“Jadi ada deviasi yang cukup signifikan, yang barangkali itu menjadi anomali dan pintu masuk bagi kita untuk mengkaji, menganalisa. Kenapa sih harus sampai begitu. Nah makanya ternyata di sana ada juga tindak pidana korupsi," pungkasnya.

Diketahui, Kasus korupsi Sritex melibatkan tiga tokoh kunci, yaitu Dicky Syahbandinata (DS), Zainuddin Mappa (ZM), dan Iwan Setiawan Lukminto (ISL). Ketiganya telah ditahan oleh penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung untuk keperluan penyelidikan lebih lanjut.

Dicky Syahbandinata, yang menjabat sebagai pemimpin divisi korporasi dan komersial PT Bank BJB pada 2020, menjadi salah satu tersangka kasus korupsi Sritex. Ia diduga kuat memberikan fasilitas kredit kepada Sritex tanpa mematuhi prinsip kehati-hatian perbankan.

Proses persetujuan kredit yang dilakukannya diduga melawan hukum karena tidak didukung oleh analisis risiko yang memadai. Tindakan ini memungkinkan Sritex menerima kredit meskipun tidak memenuhi syarat kelayakan.

Zainuddin Mappa, mantan direktur utama PT Bank DKI, juga masuk dalam daftar tersangka kasus korupsi Sritex. Ia disinyalir menyetujui pemberian kredit kepada Sritex meskipun perusahaan tersebut tidak memiliki kelayakan kredit berdasarkan hasil pemeringkatan lembaga penilai keuangan. Keputusannya ini dinilai melanggar prosedur perbankan dan berkontribusi pada kerugian negara yang signifikan.

Editor: Maswin

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia