Jumat, 15 Mei 2026

Menumpas Kekhawatiran Ekonomi Indonesia Pasca Penurunan Suku Bunga Acuan

Penulis : Grace El Dora
23 Mei 2025 | 16:47 WIB
BAGIKAN
Head of Macroeconomic & Financial Market Research Department Bank Mandiri Dian Ayu Yustina  dalam media briefing secara virtual pada Senin (19/5/2025). (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)
Head of Macroeconomic & Financial Market Research Department Bank Mandiri Dian Ayu Yustina dalam media briefing secara virtual pada Senin (19/5/2025). (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar pada Rabu (21/5/2025) lalu. Sejatinya, penurunan suku bunga acuan ini telah diprediksi oleh banyak ekonomi dan pelaku pasar. Namun, Masih ada dampak negatif yang membayangi perekonomian Indonesia usai BI mengambil langkah tersebut.

Secara teori, penurunan suku bunga acuan berpotensi memperlemah nilai tukar mata uang dan mengurangi daya tarik aset keuangan di mata investor asing. Meski demikian, Ekonom Bank Mandiri Dian Ayu optimis penurunan suku bunga acuan BI telah melalui berbagai pertimbangan untuk menjaga kestabilan ekonomi Indonesia.

"Tentunya sudah ada assessment yang hati-hati melihat perkembangan di pasar keuangan, terutama terkait dengan currency atau nilai tukar rupiah. Sejauh ini secara fundamental, sebenarnya posisi rupiah masih cukup baik," ungkap Dian kepada B-Universe, Jumat (23/5/2025).

ADVERTISEMENT

Dian menyoroti data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2025 yang mencatatkan defisit US$ 800 juta, yang lebih rendah dibandingkan NPI kuartal I-2024 sebesar US$ 6 miliar.

"Artinya, secara fundamental nilai tukar rupiah kita sebenarnya lebih kuat, dan juga cadangan devisa kita juga masih cukup tinggi. Artinya memang periode Q1 dan Q2 mungkin kita akan melihat ada permintaan dolar yang lebih tinggi, biasanya untuk dividend payment atau untuk impor. Secara historis, kegiatan ekonomi biasanya naik pada periode tersebut. Itu juga akan memengaruhi dinamika nilai tukar rupiah," terang Dian.

Sebagai informasi, BI mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2025 sebesar US$ 152,5 miliar. Angka ini mencerminkan penurunan dibandingkan posisi pada Maret 2025 sebesar US$ 157,1 miliar.

"Tapi, sejauh ini kita lihat situasi pasar cenderung cukup baik. Pasar saham menguat, nilai tukar rupiah juga menguat, pasar obligasi juga cukup bagus performanya. Jadi menurut saya ini timing yang tepat untuk menurunkan suku bunga," tandasnya.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 10 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 21 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 25 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia