Jumat, 15 Mei 2026

FSPI Ancam Mogok Nasional bila Pemerintah dan DPR Abaikan Nasib Pekerja

Penulis : Andrew Tito
28 Aug 2025 | 14:00 WIB
BAGIKAN
Presiden Federasi Serikat Pekerja Indonesia (FSPI) Said Iqbal
Presiden Federasi Serikat Pekerja Indonesia (FSPI) Said Iqbal

JAKARTA, investor.id – Presiden Federasi Serikat Pekerja Indonesia (FSPI) Said Iqbal mengancam akan menggelar mogok nasional dan menghentikan produksi di berbagai sektor. Ancaman ini disampaikan bila pemerintah dan DPR terus mengabaikan nasib para pekerja.

Dalam orasinya di atas mobil komando, Said Iqbal menyoroti ketimpangan kesejahteraan antara buruh dengan wakil rakyat. Ia menegaskan bahwa selama bertahun-tahun, upah buruh tidak pernah mengalami peningkatan signifikan, sementara biaya hidup terus melonjak.

“Buruh rata-rata hanya digaji Rp 5 juta. Di daerah, bahkan masih banyak yang hanya Rp 3 juta. Bandingkan dengan gaji anggota DPR yang bisa mencapai Rp 100 juta per bulan. Sangat jauh berbeda!” tegas Said disambut riuh sorakan massa

ADVERTISEMENT

Said juga menyoroti sulitnya perjuangan buruh untuk mendapatkan kenaikan upah yang layak. Menurutnya, untuk sekadar menambah Rp 200 ribu, buruh harus turun ke jalan berulang kali dan berunding berbulan-bulan. Sementara itu, anggota DPR dapat menetapkan kenaikan gaji mereka sendiri dengan mudah.

“Giliran DPR, tinggal putuskan sendiri, selesai. Bahkan masih bisa joget-joget setelahnya. Ini tidak adil bagi pekerja yang berjuang demi hidup layak,” tambahnya. 

Pernyataan tersebut langsung disambut teriakan protes dari massa aksi yang menyoraki gedung DPR sebagai simbol ketidakadilan. Energi demonstrasi semakin menguat ketika Said Iqbal melontarkan seruan untuk menyiapkan aksi mogok nasional.

“Kalau pemerintah dan DPR tetap menutup telinga, kita siap hentikan produksi! Kita tunjukkan bahwa kekuatan buruh tidak bisa dianggap remeh!” seru Said dengan lantang.

Aksi unjuk rasa kali ini bukan sekadar ajang ekspresi kekecewaan, melainkan juga membawa enam tuntutan utama yang dianggap krusial demi peningkatan kesejahteraan buruh di seluruh Indonesia. Tuntutan tersebut antara lain: 

  1. Menghapus sistem outsourcing yang dianggap merugikan pekerja karena tidak memberikan      kepastian kerja dan hak penuh.

  2. Menolak kebijakan upah murah yang menekan daya beli buruh.

  3. Menuntut kenaikan upah minimum 2026 sebesar 8,5–10,5 persen.

  4. Mendesak pencabutan PP Nomor 35 Tahun 2021 yang mengatur sistem outsourcing.

  5. Menuntut pemerintah menghentikan gelombang PHK massal dengan membentuk satuan tugas khusus.

  6. Mendorong reformasi pajak nasional, termasuk menaikkan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) dari Rp 4,5 juta menjadi Rp 7,5 juta per bulan.

Gelombang aksi ini tidak terlepas dari kondisi perekonomian yang kian menekan buruh. Biaya kebutuhan pokok, transportasi, dan pendidikan terus meningkat, sementara upah riil buruh stagnan. Selain itu, maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam dua tahun terakhir menambah beban psikologis dan ekonomi para pekerja.

Sistem outsourcing dan kontrak jangka pendek juga dianggap memperburuk situasi, karena membuat buruh kehilangan kepastian kerja jangka panjang. Situasi ini, menurut FSPI, hanya akan melahirkan generasi pekerja “rentan” yang mudah tereliminasi dari pasar kerja.

Seruan mogok nasional yang digaungkan Said Iqbal berpotensi memberikan dampak luas terhadap perekonomian. Bila benar dilaksanakan, penghentian produksi secara serentak di sektor manufaktur, transportasi, hingga energi dapat melumpuhkan aktivitas industri nasional.

Para pengamat ketenagakerjaan menilai bahwa ancaman mogok nasional merupakan sinyal kuat bahwa buruh tidak lagi ingin hanya dijadikan objek kebijakan, melainkan subjek yang harus dilibatkan dalam perumusan aturan ketenagakerjaan.

Editor: Maswin

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia