Purbaya: Banyak Masyarakat Kaya Jadi Penikmat BBM Bersubsidi
JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah telah mengucurkan anggaran sebesar Rp 386,9 triliun untuk subsidi energi dan kompensasi selama tahun 2024. Purbaya menyebut, subsidi dan energi tidak sepenuhnya oleh masyarakat miskin sebab masih terdapat masyarakat yang termasuk dalam golongan sangat mampu tetapi malah ikut menikmati subsidi dan kompensasi.
Menkeu Purbaya mengutip Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada Maret 2024 yang menunjukkan, 30% masyarakat yang termasuk dalam kelompok desil 8-10 yang menjadi penerima subsidi energi dan kompensasi. Angka ini terbagi dalam 11% di desil 8, 10% di desil 9, dan 9% di desil 10.
“Ini adalah bentuk keberpihakan fiskal yang akan terus dievaluasi agar lebih tepat sasaran dan berkeadilan. Sejalan dengan hal tersebut, ke depan kita akan terus berusaha agar subsidi dan kompensasi lebih tepat sasaran dan lebih berkeadilan,” ungkap Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR, Jakarta, pada Selasa (30/9/2025).
Dia mengatakan selama ini, pemerintah menanggung selisih antara harga keekonomian dan harga yang dibayar masyarakat melalui pemberian subsidi dan kompensasi baik energi dan non-energi.
Untuk pertalite, masyarakat hanya membayar Rp 10.000 per liter dari harga keekonomian Rp 11.700 per liter. Sehingga APBN harus menanggung Rp 1.700 per liter atau 15% melalui kompensasi. Lalu solar masyarakat hanya membayar Rp 6.800 per liter dari harga keekonomian sebesar Rp 11.950 per liter.
Hal itu menunjukkan, APBN menanggung Rp 5.150 per liter atau sekitar 43%. Untuk LPG 3 kg, subsidi mencapai 70% dari harga keekonomian. Dari harga keekonomian Rp 42.750 ditanggung Rp 30.000 atau 70% sehingga masyarakat hanya membayar Rp 12.750.
“Ini adalah bentuk keberpihakan fiskal yang akan terus dievaluasi agar lebih tepat sasaran dan berkeadilan,” tegas Purbaya.
Adapun realisasi subsidi dan kompensasi hingga 31 Agustus 2025 mencapai Rp 218 triliun atau sekitar 43,7% dari pagu sebesar Rp 498,8 triliun. Realisasi subsidi dan kompensasi dipengaruhi oleh fluktuasi minyak mentah Indonesia, depresiasi nilai tukar rupiah, serta peningkatan volume BBM, LPG, listrik, dan pupuk bersubsidi.
“Realisasi ini menunjukkan penyaluran subsidi yang berjalan sesuai dengan target anggaran, meskipun pengawasan dan evaluasi tetap diperlukan untuk penyempurnaan efektivitas ke depan,” kata Purbaya.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






