Sabtu, 4 April 2026

Agus Salim Soroti Restorasi Ekologi Daerah Perbatasan dan 3T

Penulis : Thresa Sandra Desfika
15 Jan 2026 | 08:36 WIB
BAGIKAN
Salah satu di antaranya Prof. Dr. Agus Salim, S.Ag, M.Si yang diangkat menjadi Guru Besar Bidang Biologi Terapan (Ekologi). Ist
Salah satu di antaranya Prof. Dr. Agus Salim, S.Ag, M.Si yang diangkat menjadi Guru Besar Bidang Biologi Terapan (Ekologi). Ist

JAKARTA, investor.id - UIN Jakarta baru saja melaksanakan Sidang Senat Terbuka (14/9/2025). Bertempat di Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, seremoni ini ditujukan guna mengukuhkan 7 Guru Besar di berbagai bidang keilmuan.

Salah satu di antaranya Prof. Dr. Agus Salim, S.Ag, M.Si yang diangkat menjadi Guru Besar Bidang Biologi Terapan (Ekologi).

Mengambil judul orasi ilmiah "Restorasi Ekologi Wilayah Perbatasan dan Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar): Menuju Kedaulatan Lingkungan dan Keadilan Ekologis" ia menyampaikan pandangannya.

"Perbatasan bukan sekadar garis titik koordinat di peta. Ia beranda kedaulatan bangsa. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar  yang  memiliki kerentanan ekologis tinggi namun akses pembangunanya terbatas," paparnya.

Advertisement

Suami dari Profesor Nur Hidayah ini menyampaikan guna menerapkan Tridharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian,dan pengabdian masyarakat, ia menggagas Bio Maritime Centre dengan Nama Centre for Research and Development of Bio - Maritime Border Areas and 3T Region.

"Lembaga ini akan kami deklarasikan dalam waktu dekat guna memberikan sumbangsih kepada masyarakat wilayah perbatasan dan daerah 3T. Pertama akan kita deklarasikan dari ujung Sabang dan menyusul daerah terluar lain hingga ke ujung Merauke berturut-turut,” serunya.

Menurut Profesor yang mencintai lingkungan alam ini, latar belakang penelitiannya dikarenakan adanya fenomena krisis ekologi di perbatasan & daerah 3T sebagai cermin krisis keadilan sosial-ekologi Indonesia.

"Degradasi lingkungan yang terjadi, antara lain berupa deforestasi skala besar, pencemaran laut akibat penambangan ilegal, dan hilangnya kearifan lokal, mengancam fungsi ekologis sekaligus identitas serta martabat komunitas yang menggantungkan hidupnya pada alam,” gugahnya.

Agus melanjutkan, prinsip fundamental dalam restorasi ekologi mencakup beberapa dimensi strategis. "Pertama, penggunaan spesies lokal menjadi prioritas utama guna menjaga keseimbangan rantai makanan melalui pelestarian flora asli di wilayah tersebut. Kedua, restorasi menitikberatkan pada pemulihan fungsi sistemik yang mencakup reaktivasi siklus air, siklus nutrisi, serta interaksi biologis antarorganisme. Ketiga, pendekatan ini memandang ekosistem sebagai satu kesatuan geografis yang terintegrasi, terutama dalam mengelola ekosistem lintas batas negara atau transboundary ecosystems yangg memerlukan koordinasi dalam skala luas,” yakinnya.

Pria yang pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Sains Teknologi UIN Jakarta ini menggunakan teori implementasi restorasi di wilayah 3T secara strategis mengadopsi kerangka kerja Solusi Berbasis Alam atau Nature-based Solutions (NbS) yang dikemukakan Seddon. "Pendekatan ini memposisikan ekosistem alami sebagai infrastruktur hijau yang jauh lebih efisien dan berkelanjutan dibandingkan dengan pembangunan infrastruktur fisik konvensional berbahan beton, kita bisa mengukur dengan Formulasi Shannon,” jelasnya.

Orasinya menegaskan bahwa restorasi ekologi di wilayah perbatasan dan daerah 3T merupakan perwujudan nyata dari paradigma ekoteologi yang  diyakini. "Upaya menghidupkan kembali ekosistem yang rusak adalah sebuah amanah spiritual untuk memulihkan martabat alam dan manusia secara simultan. Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa kedaulatan lingkungan dan keadilan sosial-ekologis mutlak bagi masa depan Indonesia,” ungkapnya.

Lebih dalam ia membahas bahwa tidak akan pernah ada keadilan sosial yang sejati di atas planet yang rusak, sebagaimana tidak akan ada kelestarian alam yang tangguh di tengah masyarakat yang tertindas. "Menuju jalan kedaulatan ini memang penuh tantangan, namun hal tersebut merupakan satu-satunya cara untuk memastikan bahwa kemajuan ekonomi bangsa tidak dibayar dengan kehancuran ekosistem yang menjadi pondasi kehidupan generasi mendatang,” tegasnya.

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Lifestyle 56 detik yang lalu

Cara Daikin Dongkrak Kepercayaan Konsumen 

Saat ini AC tidak hanya sekadar pemberi kesejukan, melainkan juga menjadi pendukung bagi produktivitas.
International 43 menit yang lalu

Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang

Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.
Market 53 menit yang lalu

Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.
Business 1 jam yang lalu

Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data 

Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah Putih
InveStory 2 jam yang lalu

Ketika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel

Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.
International 2 jam yang lalu

Warren Buffett Beri Peringatan Keras Sistem Perbankan Global Sedang Rapuh

Warren Buffett peringatkan kerapuhan sistem perbankan global. Berkshire Hathaway timbun kas US$ 373 miliar saat risiko properti meningkat.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia