Jalan Menuju Kejayaan atau Malapetaka?
Untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi negara, pemerintah harus lebih fokus kepada kebutuhan dasar inti untuk semua jenis investasi agar mencapai perkembangan. Kebutuhan dasar inti tersebut adalah infrastruktur, teknologi informasi, kesejahteraan sosial, dan pasar finansial.
Orientasi strategi untuk memastikan bahwa kebutuhan dasar inti tersebut dapat terpenuhi adalah melalui cara-cara kreatif dan inovatif yang dapat memperluas dan memperdalam segmen-segmen pasar serta diversifikasi produk.
Peran pemerintah dalam orientasi strategi ini adalah memiliki blueprint yang komprehensif, relasional dan transparan untuk masing-masing dari ke-empat kebutuhan dasar inti tersebut sambil memperhatikan jangka waktunya; menyediakan semua regulasi yang diperlukan agar ke-empat area kebutuhan inti tersebut dapat berkembang dengan cepat; dan memiliki prioritas yang jelas untuk proyek-proyek pembangunan di ke-empat area tersebut.
Infrastruktur lebih baik berfokus kepada interkonektivitas infrastruktur udara, laut, darat dan transportasi yang efisien. Teknologi informasi berfokus kepada penciptaan system informasi terintegrasi yang efisien seperti sistem real-time untuk mendukung pasar dan distribusi barang dan jasa.
Kesejahteraan sosial berfokus kepada pembangunan program kesejahteraan sosial yang mengintegrasikan pendidikan di tiap tingkat, layanan kesehatan untuk semua segmen pasar, dan layanan masyarakat.
Sistem kesejahteraan sosial yang efisien dapat meningkatkan kualitas, aksesibilitas, keterjangkauan dan pemerataan bagi masyarakat, agar mereka dapat mengikuti program kesejahteraan sosial manapun yang ada di dalam sistem tersebut.
Inisiatif pasar keuangan sebaiknya berfokus kepada efisiensi pasar keuangan di Indonesia dengan memiliki kebijakan-kebijakan ekonomi yang terintegrasi dan konsisten yang memperhitungkan struktur pasar dan ketersediaan sumber daya di pasar untuk mendukung pembangunan pasar keuangan yang inovatif melalui pemikiran strategis yang relasional.
Persoalan utama di sini bukan membangun keunggulan komparatif atau kompetitif, namun keunggulan inovatif yang berkelanjutan untuk sebuah negara.
Untuk membiayai ke-empat area pembangunan tersebut, pemerintah harus lebih mengandalkan budget internal melalui penerbitan Surat Utang Negara, daripada investorinvestor swasta atau pendanaan dari bank.
Orientasi Strategi Industri Perbankan
Kondisi industri perbankan saat ini menunjukkan adanya tren peningkatan non-per forming loan dan/atau provision for bad debt, penurunan laba, serta kemungkinan terjadinya pengurangan dana pihak ketiga karena adanya sindrom “mengejar yield yang lebih tinggi” oleh para deposan yang lebih memilih untuk berinvestasi melalui Surat Utang Negara.
Secara umum, Surat Utang Negara yang diterbitkan memiliki return yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan bunga deposito yang ditawarkan oleh bank-bank di Indonesia.
Jika perbedaan antara SUN dan bunga deposito terus terjadi, maka ada saatnya likuiditas pasar bank akan terpengaruh. Tujuan pemerintah untuk mencapai bunga pinjaman single-digit tampaknya akan menciptakan kemungkinan peningkatan risiko tidak hanya kepada industri perbankan, namun juga bisnis-bisnis pada umumnya.
Bunga pinjaman single-digit yang tidak memperhitungkan risiko dan maturity profile akan sama halnya dengan menyamaratakan bahwa semua aktivitas kredit “sama saja” dan karakteristik debitor akan menjadi homogen.
Bunga pinjaman single digit memang merupakan praktek umum dalam industri perbankan yang memiliki kualitas debitor tertinggi (yaitu, debitor dengan peringkat AAA) sehubungan dengan profil risiko.
Jika bunga pinjaman singledigit diterapkan tanpa kriteria yang jelas, bank akan bereaksi terhadap syarat tersebut dengan hanya memberikan kredit kepada debitor yang memiliki peringkat kualitas tertinggi. Pendekatan tersebut akan menghambat pertumbuhan pinjaman serta pendapatan potensial bank.
Di sisi lain, dengan rata-rata yield SUN yang lebih tinggi daripada suku bunga pasar uang antarbank, bank akan menjadi terdorong untuk menempatkan dana menganggur dalam bentuk SUN untuk menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi. Hal demikian dapat menekan likuiditas pasar, terutama bagi bank-bank kecil sampai menengah untuk mengakses sumber pendanaan yang terjangkau.
Di lingkungan ini, bank perlu memiliki orientasi strategi untuk melindungi pangsa pasarnya dan pada saat yang bersamaan mencari segmen pasar dan/atau produk baru dengan menggunakan teknologi kreatif dan inovatif yang berfokus kepada transactional banking serta produk dan jasa consumer banking.
Dengan kata lain, bank harus mulai berpikir untuk mengubah bisnis modelnya agar lebih inovatif sehingga bank akan lebih tangkas dalam mengelola bisnisnya di masa depan.
Komunitas Bisnis
Tantangan bagi komunitas bisnis sehubungan dengan fenomena ini adalah mendapatkan pembiayaan dari pihak eksternal dan mempertahankan proses bisnis yang efisien. Orientasi strategi bagi komunitas bisnis lebih mengarah kepada memastikan terjaganya pangsa pasar mereka dan meningkatkan efisiensi proses bisnis mereka melalui caracara yang kreatif dan inovatif.
Sumber pembiayaan eksternal bagi komunitas bisnis sehubungan dengan rezim bunga rendah dapat menjadi tantangan akibat adanya permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh industri perbankan yang disebabkan oleh adanya tekanan dari pemerintah untuk menyediakan bunga pinjaman single-digit.
Pentingnya melaksanakan change management atau turnaround management dalam proses bisnis adalah salah satu cara untuk meningkatkan risk profile bisnis agar berada di level yang cocok bagi bank sehingga bank akan lebih nyaman untuk menyediakan pinjaman dengan bunga single-digit.
Di sisi lain, peningkatan proses bisnis bagi bisnis-bisnis yang dapat mengalokasikan modal untuk melaksanakan hal tersebut sangatlah bagus, namun juga dapat menjadi bumerang bagi bisnis-bisnis yang memiliki modal dan akses pembiayaan yang terbatas.
Meskipun demikian, orientasi strategi di atas tidak akan dapat diimplementasikan secara efektif apabila tidak terdapat kepemimpinan yang kuat dan autentik.
Kepemimpinan autentik didefinisikan sebagai “sebuah proses perilaku pemimpin yang mengacu pada dan mempromosikan kapasitas psikologis positif dan iklim etika positif, untuk meningkatkan kesadaran diri yang lebih baik, perspektif moral yang diinternalisasi, pengolahan informasi yang seimbang, dan transparasi hubungan antara pemimpin dengan pengikut, sehingga memelihara perkembangan diri yang positif” (Walumbwa et al., 2008).
Kesadaran diri dalam kepemimpinan autentik memastikan bahwa pemimpin-pemimpin autentik menjadi lebih sadar akan kekuatan dan kelemahan mereka. Dengan demikian, mereka dapat mengenali keterbatasan mereka dan akan mencari informasi dari orang lain serta mau mendengarkan argumenargumen orang lain dan mengurangi terjadinya one-man show. Kesadaran diri juga akan mendorong para pemimpin untuk terus mencari cara untuk meningkatkan performa organisasi melalui cara-cara yang kreatif dan inovatif.
Perspektif moral yang diinternalisasi melibatkan perilaku pemimpin dengan standar moral dan nilai internal, daripada tekanan dari luar. Pemimpin-pemimpin dengan perspektif moral yang tinggi diharapkan dapat berpikir lebih luas dan lebih dalam mengenai proses masalah etis sehubungan dengan dampak dan timbal-balik dari keputusan mereka terhadap organisasi (internal) begitu juga dengan komunitas lain (eksternal).
Pengolahan informasi yang seimbang adalah pencarian input, ide dan opini dari orang lain secara aktif. Dengan melakukan hal tersebut, para pemimpin akan dapat semakin meningkatkan pemikiran relasional mereka dengan mengerti apa yang penyebab masalah dan akibatnya. Oleh sebab itu, sikap mengambil risiko dapat membantu pemimpin untuk mengelola organisasinya dengan tangkas.
Yang terakhir, transparansi relasional dalam kepemimpinan autentik mengacu kepada kemauan mengkomunikasikan informasi secara terbuka dan jujur kepada orang lain untuk memastikan adanya kejelasan tujuan pemimpin tersebut. Kejelasan tujuan tersebut akan membangun kepercayaan, stabilitas, dan meningkatkan kerja sama tim dalam organisasi.
Dengan demikian, ketidakpastian dan ambiguitas dalam proses pengambilan keputusan akan semakin berkurang. Kepemimpinan autentik lebih mengenai pengambilan keputusan yang cepat, tegas dan transparan yang memperhitungkan risiko serta input dari orang lain agar sebuah organisasi dapat menjadi lebih tangkas dalam mengelola pertumbuhan dan perubahan.
Soebowo Musa, CEO, PT Kiran Resources Indonesia, perusahaan yang bergerak dalam bidang konsultan strategi, manajemen, manajemen risiko, dan corporate finance
Sumber : Investor Daily
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

