Kapan Puncak Pemulihan Ekonomi Nasional? Ini Kata BI
23 Feb 2022 | 20:58 WIB
JAKARTA, investor.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia baru akan menuju pemulihan yang diproyeksikan terjadi pada kuartal III dan IV-2022.
Selanjutnya, pada 2023, ekonomi RI diproyeksi akan pulih. Dengan demikian, puncak pemulihan diprediksi akan terjadi pada 2024. "Puncaknya baru 2024, ekonomi kita akan terus naik," ujar Perry dalam FGD bersama pimpinan redaksi media massa secara virtual, Rabu (23/2/2022).
Meskipun siklus ekonomi mulai naik, namun transmisi kepada kepada kenaikan di sektor keuangan seperti pertumbuhan kredit baru akan mencapai titik tertinggi pada 2024 dan puncaknya pada 2025.
Tahun lalu, pertumbuhan kredit perbankan nasional mencapai 5,2%. Tahun ini, kredit diperkirakan tumbuh di kisaran 6-8%.
"Tahun 2023 akan tinggi, tapi belum pada titik tingginya. Pertumbuhan kredit kemungkinan titik tertinggi itu 2024, dan paling tinggi 2025. Karena itu makroprudnesial akan tetap longgar,” jelasnya.
Dengan pemulihan ekonomi yang baru berlangsung di tahap awal, Perry memastikan kebijakan makroprudensial akan terus dilakukan, bahkan kemungkinan hingga tahun depan.
“Kita tidak akan lakukan normalisasi makroprudensial tahun ini, bahkan kemungkinan sebagian besar tahun depan. Jadi, makroprudensial masih akan tetap longgar. Tahun 2023, kita baru akan melakukan assessment, perlu ada countercyclical atau tidak untuk 2024 dan 2025. Kita belum memikirkan normalisasi (makroprudensial), dia akan terus longgar,” tegasnya.
Perry juga menegaskan, BI memberikan insentif kepada bank yang menyalurkan kredit pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas dan pembiayaan inklusif dan/atau bank-bank yang memenuhi target rasio pembiayaan inklusif makroprudensial atau RPIM, berupa pengurangan kewajiban giro wajib minimum (GWM) harian sampai dengan 100 bps mulai berlaku 1 Maret 2022.
Selain itu, BI akan melanjutkan kebijakan makroprudensial akomodatif dengan mempertahankan rasio countercyclical capital buffer sebesar 0%, serta rasio intermediasi makroprudensial (RIN) pada kisaran 84-94% dengan parameter disinsentif batas bawah sebesar 84% sejak 1 Januari 2022. (C02)
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






