Jumat, 15 Mei 2026

Waduh! Subsidi Energi Bakal Menggelembung Jadi Rp 698 Triliun jika Harga BBM Tak Naik

Penulis : Arnoldus Kristianus
24 Aug 2022 | 20:24 WIB
BAGIKAN
Menkeu/Ketua KSSK, Sri Mulyani Indrawati.
Menkeu/Ketua KSSK, Sri Mulyani Indrawati.

JAKARTA, investor.id - Anggaran subsidi energi yang telah membengkak dari Rp 152,5 triliun menjadi Rp 502,4 triliun tahun ini bakal menggelembung menjadi Rp 698 triliun jika harga bahan bakar minyak (BBM) tidak dinaikkan. Namun, pemerintah masih mengkaji apakah alokasi tambahan tersebut akan dimasukkan dalam APBN 2022 atau 2023.

“Berdasarkan mekanisme yang ada, kalau nanti ada tagihan yang lebih banyak diaudit oleh BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) berarti dia meluncur tahun 2023 dan membebani APBN 2023,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati di Gedung DPR pada Rabu (24/8).

Pemerintah melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 98 Tahun 2022 menaikkan anggaran subsidi energi dari Rp 152,5 triliun menjadi Rp 502,4 triliun akibat pelemahan nilai tukar, kenaikan harga minyak mentah, dan meningkatnya konsumsi.

ADVERTISEMENT

Sri Mulyani mengatakan, anggaran dalam perpres tersebut sudah disetujui DPR. Namun, bila ada kenaikan anggaran subsidi BBM lagi maka pemerintah harus menunggu restu DPR.

“Dalam hal ini kami mengikuti apa yang sudah di-approve, karena kami tidak bisa melakukan alokasi yang belum disetujui DPR,” kata Sri Mulyani.

Picu Inflasi 

Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Gerindra, Kamrussamad mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum mendapatkan penjelasan dari Kementerian Keuangan mengenai rencana penaikan harga BBM bersubsidi. Bila pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi, kebijakan itu dikhawatirkan berdampak langsung terhadap kenaikan harga barang lainnya.

“Saya berharap jangan sampai itu dilakukan karena berpotensi menimbulkan masalah baru, khususnya inflasi di sektor pangan yang sudah mulai tidak terkendali di atas 10%. Selain itu, jalur distribusi dan pengendalian harga bahan pokok belum sepenuhnya terkendali,” papar Kamrussamad saat ditemui di Gedung DPR, Rabu (24/8).

Menurut Kamrussamad, saat ini pemerintah belum memiliki alasan yang cukup kuat untuk menaikkan harga BBM. Harga minyak, misalnya, sudah mengalami penurunan.

"Impor minyak mentah harganya sudah turun sekarang, Rusia menawarkan sumber BBM yang baru, harganya lebih rendah dengan harga yang ditetapkan OPEC (Negara-Negara Pengekspor Minyak). Berarti harusnya tidak ada masalah mengenai ketersediaan,” ucap Kamrussamad.

Sebelumnya, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal mengatakan, penaikan harga BBM bersubsidi akan meningkatkan inflasi dan memukul daya beli masyarakat. Bila harga Pertalite naik menjadi Rp 10 ribu dari saat ini Rp 7.650 maka inflasi akan naik menjadi 6,5%.

“Akibatnya daya beli rakyat, terutama rakyat kecil, termasuk kaum buruh petani nelayan akan terpukul, khususnya buruh pabrik yang sudah tiga tahun tidak naik upah minimum,” tandas Said.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia