Rupiah Melemah ke Level Rp 15.266, Begini Penjelasan BI
JAKARTA, Investor.id - Rupiah lanjutkan pelemahan ke level Rp 15.266 per dolar AS sampai Rabu (28/9) sore. Mata uang Garuda itu melemah 142 poin atau 0,94% dari perdagangan sebelumnya.
Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp15.243 per dolar AS.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Edi Susianto mengatakan, dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang, seperti Euro, Poundsterling, Yen, Australia dolar, termasuk rupiah.
"Faktor penyebabnya adalah karena para investor (pelaku pasar) mengambil langkah hati-hati karena kekhawatiran stagflasi,"ucapnya di jakarta, Rabu (28/9)
Selain itu bank-bank sentral sangat agresif menaikkan suku bunganya karena mengatasi inflasi. Kemudian ada pula faktor pelemahan ekonomi global. Alhasil semua faktor ini berujung pada kekhawatiran resesi global.
Begitu juga dengan hampir semua saham dan obligasi mengalami pelemahan, dan terjadi aliran outflow ke USD. Itu mengapa indeks USD (DXY) terus menguat dari dibawah angka 100 sampai hampir mencapai 115. "Ini menyebabkan pelaku pasar hati-hati dulu dengan menempatkan dananya di cash market di USD,"ucapnya.
BI Kawal
Dengan kondisi rupiah yang melemah , BI berjanji terus mengawal dengan triple intervention dan operation twist agar mekanisme pasar dan supply demand terjaga di pasar dimestik.
"Untuk menjagan jangan sampai ada pelemahan yang berlebihan. Banyak pihak atau analis market melihat fenomena ini akan sementara"tukasnya.
Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman mengatakan penguatan dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir telah menimbulkan pelemahan mata uang di berbagai negara dan menyebabkan aliran net outflow dari pasar obligasi.
"Yang jadi titik permasalahan, dolar AS makin kuat, maka investasi pasar portofolio terjadi penyesuaian. Orang ingin memegang aset aman, jadi berbalik ke aset tersebut," Aida S. Budiman dalam diskusi publik bertajuk Memperkuat Sinergi untuk Menjaga Stabilitas Perekonomian, Rabu (28/9).
Meski demikian, ia meyakini kinerja rupiah masih berpotensi terus menguat. Adapun depresiasi rupiah sebesad 4,97% secara year to date.
"Rupiah dibandingkan negara lain kita berhasil jaga tekanan depresiasi, seharusnya nilai fundamental rupiah akan lebih kuat lagi," terangnya.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi
Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas AntamDPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah
Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.Ujian Berat bagi Saham BUMI
Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China
Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya
Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karatDuit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Tag Terpopuler
Terpopuler






