Kamis, 14 Mei 2026

Rupiah Melemah, Biaya Produksi Industri Membengkak

Penulis : Triyan Pangastuti
7 Nov 2022 | 16:45 WIB
BAGIKAN
Industri kimia. Foto ilustrasi: cci-indonesia.com
Industri kimia. Foto ilustrasi: cci-indonesia.com

JAKARTA, Investor.id - Pelemahan nilai tukar rupiah membuat biaya produksi sejumlah industri membengkak. Alasannya, biaya pengadaan bahan baku impor naik.

“Namun, sejauh ini, industri belum menaikkan harga jual demi menjaga kinerja penjualan dan daya beli konsumen,” kata Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Sarman Simanjorang di Jakarta, Senin (7/11).

Dia mengatakan, rupiah yang sempat melemah ke level Rp 15.700 per dolar AS pekan lalu memicu kekhawatiran pengusaha yang komponen produksinya lebih banyak impor. Sebab, hal ini bisa memangkas margin, jika kenaikan biaya produksi tidak diteruskan ke harga jual.

"Saat ini, industri yang masih tergantung bahan baku impor antara lain farmasi, industri kimia dan pengerajin tahu tempe," kata dia.

ADVERTISEMENT

Menurut dia, tantangan lainnya berasal dari eksposur utang valuta asing perusahaan. Meski menghadapi tantangan yang berat, dunia usaha masih akan sangat hati-hati dalam menaikkan harga jual di tingkat konsumen. Sebab, apabila harga dinaikkan, akan berdampak pada penurunan daya beli masyarakat yang berujung pada pertumbuhan ekonomi.

Artinya, dia menyatakan, opsi menaikkan harga jual belum digunakan oleh pelaku usaha dalam merespons pelemahan rupiah. Saat ini, pengusaha masih memantau perkembangan pelemahan rupiah, apakah ini berlangsung sementara, jangka menengah, atau jangka panjang.

“Namun, jika dalam jangka menengah panjang, rupiah tetap melemah, tidak ada pilihan lagi. Memang, bagi produk tertentu, seperti tahu tempe, masih bisa disiasati dengan mengurangi ukuran produk dengan harga sama,” kata dia.

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 7 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 16 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 33 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 1 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia