Industri Persepatuan Sangat Terpukul, Tolong Diselamatkan
JAKARTA, investor.id – Pelemahan ekonomi global telah berdampak besar pada industri manufaktur Indonesia, termasuk persepatuan.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anton Supit mengungkapkan, di industri persepatuan yang banyak melayani permintaan ekspor, permintaan dari luar negeri rata-rata turun 50%. Bahkan untuk tujuan beberapa negara, permintaan anjlok hingga 70%.
Baca Juga:
Kemenaker Ungkap Fakta-fakta soal PHK“Di industri persepatuan, order rata-rata menurun 50%. Bahkan ada yang sampai 70%, ada yang kurang dari 50%, tergantung pasarnya di mana. Kalau pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa, itu drastis menurun. Kalau pasar Asia, ini masih bagus,” ungkap Anton Supit dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi IX DPR, Selasa (8/11/2022).
Selain industri persepatuan, permintaan karet juga mengalami penurunan 40%. Kondisi ini dinilai Anton sangat mengkhawatirkan karena menyangkut karet rakyat.
“Artinya kalau permintaan dunia menurun, lantas karet rakyat ini tidak akan terserap maksimal. Ini juga tentu akan menimbulkan masalah baru lagi. Kemudian di elektronik juga menurun, walaupun ada kabar gembira ekspor otomotif ke Timur Tengah dan Asia lainnya naik. Jadi tidak bisa dikatakan ekonomi nasional mengalami masalah sama. Tetapi yang menjadi serius sekarang adalah tujuan ekspor, terutama industri yang labour intensive,” ungkapnya.
Industri persepatuan dan lainnya yang menyerap banyak tenaga kerja, menurutnya, harus diselamatkan. Pasalnya, tidak semua angkatan kerja Indonesia yang bisa diserap di industri padat modal karena pendidikan rendah.
Anton menyinggung tantangan yang saat ini dihadapi sektor ketenagakerjaan. Adopsi teknologi digital semakin pesat di berbagai sektor industri, salah satunya didorong pandemi Covid-19. Di satu sisi, hal ini berdampak positif pada efisiensi. Namun, di sisi lain, digitalisasi juga bisa memberi dampak pada penyerapan tenaga kerja.
“Proses digitalisasi menjadi tantangan buat lapangan kerja, karena orang akan lebih memikirkan efisiensi. Ini terasa sekali, memang investasi secara makro naik dari segi angka-angka, tetapi dari segi penyerapan tenaga kerja menurun. Dari data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), beberapa tahun lalu rasio Rp 1 triliun masih mempekerjakan 3.000-an orang, sekarang Rp 1 triliun mempekerjakan 1.000-an orang,” ujar Anton.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






