Jumat, 15 Mei 2026

Industri Persepatuan Sangat Terpukul, Tolong Diselamatkan

Penulis : Herman
8 Nov 2022 | 14:24 WIB
BAGIKAN
Karyawan beraktivitas di dalam pabrik pembuatan sepatu. (Dok. B Universe)
Karyawan beraktivitas di dalam pabrik pembuatan sepatu. (Dok. B Universe)

JAKARTA, investor.id – Pelemahan ekonomi global telah berdampak besar pada industri manufaktur Indonesia, termasuk persepatuan.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anton Supit mengungkapkan, di industri persepatuan yang banyak melayani permintaan ekspor, permintaan dari luar negeri rata-rata turun 50%. Bahkan untuk tujuan beberapa negara, permintaan anjlok hingga 70%.

“Di industri persepatuan, order rata-rata menurun 50%. Bahkan ada yang sampai 70%, ada yang kurang dari 50%, tergantung pasarnya di mana. Kalau pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa, itu drastis menurun. Kalau pasar Asia, ini masih bagus,” ungkap Anton Supit dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi IX DPR, Selasa (8/11/2022).

ADVERTISEMENT

Selain industri persepatuan, permintaan karet juga mengalami penurunan 40%. Kondisi ini dinilai Anton sangat mengkhawatirkan karena menyangkut karet rakyat.

“Artinya kalau permintaan dunia menurun, lantas karet rakyat ini tidak akan terserap maksimal. Ini juga tentu akan menimbulkan masalah baru lagi. Kemudian di elektronik juga menurun, walaupun ada kabar gembira ekspor otomotif ke Timur Tengah dan Asia lainnya naik. Jadi tidak bisa dikatakan ekonomi nasional mengalami masalah sama. Tetapi yang menjadi serius sekarang adalah tujuan ekspor, terutama industri yang labour intensive,” ungkapnya.

Industri persepatuan dan lainnya yang menyerap banyak tenaga kerja, menurutnya, harus diselamatkan. Pasalnya, tidak semua angkatan kerja Indonesia yang bisa diserap di industri padat modal karena pendidikan rendah.

Anton menyinggung tantangan yang saat ini dihadapi sektor ketenagakerjaan. Adopsi teknologi digital semakin pesat di berbagai sektor industri, salah satunya didorong pandemi Covid-19. Di satu sisi, hal ini berdampak positif pada efisiensi. Namun, di sisi lain, digitalisasi juga bisa memberi dampak pada penyerapan tenaga kerja.

“Proses digitalisasi menjadi tantangan buat lapangan kerja, karena orang akan lebih memikirkan efisiensi. Ini terasa sekali, memang investasi secara makro naik dari segi angka-angka, tetapi dari segi penyerapan tenaga kerja menurun. Dari data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), beberapa tahun lalu rasio Rp 1 triliun masih mempekerjakan 3.000-an orang, sekarang Rp 1 triliun mempekerjakan 1.000-an orang,” ujar Anton.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 19 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 30 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 34 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia