Apindo: Sertifikasi Halal Alkes Butuh 3 Prasyarat agar Pelaksanaannya Berhasil
JAKARTA, investor.id - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan sertifikasi alat kesehatan (alkes) masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Oleh karena itu, keberhasilan program ini perlu mendapat dukungan penuh dari pemerintah.
Ketua Bidang Kesehatan Apindo, Irawati Setiady, menyampaikan bahwa industri kesehatan mendukung penuh pelaksanaan sertifikasi halal. Namun demikian, suksesnya pelaksanaan akan bergantung beberapa tiga faktor, yang mencakup sisi pemerintah, industri, serta kolaborasi keduanya.
“Keberhasilan bergantung pada regulasi yang jelas, transisi yang realistis, dan kolaborasi erat dengan pelaku usaha agar tidak berdampak pada ketersediaan dan keterjangkauan alkes bagi masyarakat,” ungkap Irawati di Jakarta, pada Rabu (13/5/2026).
Di Indonesia, sertifikasi halal alkes diwajibkan secara bertahap berdasarkan PP No. 42 Tahun 2024 dan Permenkes No. 3 Tahun 2024, dimulai dari kelas A pada 2026. Fokusnya pada alkes dengan bahan hewani, kontak langsung dengan tubuh/darah, dan prosedur invasif/bedah.
Irawati juga menyinggung perlunya melihat kondisi pasar global agar alat kesehatan yang diproduksi di dalam negeri tetap kompetitif. Hal ini salah satunya merujuk pada kemudahan sertifikasi halal pada alkes impor asal Amerika Serikat (AS), seiring kesepakatan datang dengan Indonesia.
Di samping itu, industri kesehatan juga didorong untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di berbagai lini. Pendekatan teknologi termutakhir itu dapat diterapkan mulai dari tahap perencanaan, produksi, hingga distribusi, termasuk peningkatan efisiensi operasional agar biaya dapat tetap terjaga.
AI juga didorong pemanfaatannya untuk mendukung inovasi, termasuk analisis data kesehatan dan pengembangan solusi terapi yang lebih tepat sasaran. Meski begitu, Irawati mengakui saat ini tantangannya yaitu kesiapan sumber daya manusia (SDM) perihal kompetensi dan aplikasinya.
Terlepas dari sertifikasi halal alkes dan pemanfaatan AI, industri kesehatan kini sedang menghadapi badai sempurna alias "perfect storm". Tantangan-tantangan datang sekaligus, antara lain gangguan rantai pasok global (global supply chain), lonjakan biaya bahan baku dan kemasan, pelemahan kurs, regulasi yang ketat, serta tuntutan reformasi industri.
Untuk itu, Irawati mengingatkan supaya industri perlu terus melakukan upaya efisiensi, melakukan strategi supply chain yang tepat, memitigasi nilai tukar rupiah untuk impor bahan baku mentah, meningkatkan ekspor, dan peningkatan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dalam jangka panjang.
“Strategi menghadapinya bukan hanya efisiensi, tapi juga resilience (supply chain), kemandirian (lokalisasi), dan inovasi (produk & teknologi),” tandas Irawati.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden
Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum
Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.Dharma Pongrekun Ajukan Uji Materi UU Kesehatan ke MK
Mantan Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Dharma Pongrekun resmi mendaftarkan permohonan uji materi Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (13/5/2026).Jasa Marga: Volume Lalin Keluar Jabotabek Naik 25,12%
Total volume lalu lintas yang meninggalkan wilayah Jabotabek di H-1 (13/5) Hari Kenaikan Yesus Kristus meningkat 25,12%.Wamen Nezar: Permainan Tradisional Jadi “Tombol Jeda” Anak dari Dominasi Ruang Digital
Wamen Komdigi Nezar Patria sebut permainan tradisional jadi "tombol jeda" efektif bagi anak untuk imbangi hidup di ruang digital.Tag Terpopuler
Terpopuler






