BKF: Defisit APBN 2022 Diprediksi Hanya 2,8% dari PDB
JAKARTA,investor.id - Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) memperkirakan defisit APBN 2022 dapat mencapai 2,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB). angka ini lebih rendah dari target defisit APBN 2022 sebesar 4,5%.
“Kami melihat sangat besar peluang defisit bisa di bawah 3%. Nanti kita lihat, defisit APBN bisa 2,8% atau lebih rendah lagi,” ucap Kepala BKF Febrio Nathan Kacaribu di Kompleks Parlemen pada Kamis (8/12).
Catatan Kemenkeu menunjukan hingga akhir Oktober 2022, terdapat defisit anggaran sebesar negatif Rp169,52 triliun atau sekitar negatif 0,91% terhadap PDB . Sementara itu, realisasi Pembiayaan
Anggaran hingga akhir Oktober 2022 ini mencapai Rp439,87 triliun atau tumbuh 52,4%. Realisasi pembiayaan utang sampai akhir Oktober 2022 mencapai Rp506,03 triliun, tumbuh 53,6%.
“Arahnya sangat baik, terakhir 0,91%. Kita on track defisit lebih rendah dari yang diprediksi di awal,” kata Febrio.
Dari sisi penerimaan negara, hingga 6 Desember 2022 realisasi penerimaan pajak telah mencapai Rp1.580 triliun. Angka ini berada di atas target pajak dalam APBN 2022 yang sebesar Rp 1.485 triliun. Sedangkan realisasi belanja negara hingga akhir Oktober 2022 sudah mencapai Rp 2.351,1 triliun atau terserap 75,7% dari target dalam APBN 2022 yang sebesar Rp 3.106,4 triliun.
Pemerintah menggenjot belanja negara agar memberikan efek langsung ke pertumbuhan ekonomi. Realisasi belanja negara ditargetkan agar dapat mencapai 95% dari target dalam pagu APBN. Belanja negara terutama digunakan, untuk masyarakat yang miskin dan rentan melalui program perlindungan sosial dan keberpihakan. Dalam konteks yang lebih besar belanja digunakan untuk penciptaan lapangan kerja agar tingkat pengangguran dan kemiskinan bisa terus menurun.
“Rata-rata belanja negara selalu di atas 95%. Kita lihat apakah tahun ini, harapannya bisa. Namun, dalam konteks ini bukan masalah berapa persennya, tetapi bagaimana dampak dari belanja itu terhadap indikator ekonomi yang kita mau. Kalau yang paling sering kami harapkan tentunya untuk pertumbuhan ekonomi,” kata Febrio.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






