Kemenkeu: Kenaikan Suku Bunga The Fed akan Lemahkan Mata Uang Negara Berkembang
JAKARTA,investor.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan jika Bank Sentral (Federal Reserve) Amerika Serikat (AS) menaikan suku bunga acuan lagi, mata uang dollar AS bakal meningkat. Namun saat yang sama akan terjadi pelemahan mata uang di negara berkembang termasuk Indonesia.
Analis Kebijakan Ahli Madya Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Rahadian Zulfadin mengatakan, jika terjadi kenaikan suku bunga acuan The Fed, tingkat imbal hasil instrumen yang memakai dolar AS juga akan meningkat. Hal ini akan mendorong investor untuk memilih instrumen dengan suku bunga yang lebih tinggi.
“Kalau tingkat suku bunga Federal Reserve naik, dolar pulang ke AS dilihat dampaknya, semua mata uang di seluruh dunia melemah terhadap dolar AS. Indikasi ini menunjukan bahwa memang kenaikan suku bunga The Fed membuat dolar pulang ke AS,” ucap Rahadian dalam acara Indef School of Political Economy di ITS Tower Jakarta pada Rabu (14/12).
Pada Desember ini, Federal Federal Open Market Committee berlangsung pada 13-14 Desember 2022. Sebelumnya pada Rabu (2/11) Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin menjadi 3,75-4%.
Dia mengungkapkan, jika Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan, Bank Indonesia menaikan suku bunga acuan agar selisih supaya instrumen investasi rupiah masih tetap menarik. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia akan meningkatkan suku bunga di perbankan hingga imbal hasil dari Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia.
“Bila suku bunga naik akan membuat biaya investasi naik(cost of fund) artinya orang akan lebih memilih untuk menyimpan uang di bank daripada untuk aktivitas ekonomi seperti konsumsi dan produksi,” kata Rahadian.
Kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve dilakukan untuk mengantisipasi inflasi yang terjadi di Amerika Serikat. Rahadian mengatakan kondisi harga pangan dan energi menjadi faktor yang membuat inflasi banyak negara meningkat.
“Instrumen yang memang secara tradisional sering dipakai untuk mengendalikan inflasi adalah tingkat suku bunga,” tandas Rahadian
Menurutnya kenaikan inflasi yang sangat cepat direspon kenaikan suku bunga yang juga dipercepat. Dia menuturkan ada indikasi keterlambatan respon kebijakan moneter di banyak negara. Sehingga saat ini terjadi percepatan kenaikan suku bunga di banyak negara dan membuat likuiditas mengetat.
“Kalau inflasi tinggi dan direspon kebijakan suku bunga cepat, pasti ada penurunan pelemahan pertumbuhan ekonomi, Jadi ini ada potensi dua hal terjadi dalam waktu bersamaan, tekanan inflasi tinggi yang dibarengi pelemahan pertumbuhan ekonomi,” kata Rahadian.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






