Jumat, 15 Mei 2026

Ekonom Sepakat Dampak Resesi Global ke Ekonomi RI Minim

Penulis : Triyan Pangastuti
11 Jan 2023 | 20:26 WIB
BAGIKAN
Para pekerja melintas di Jalan Jend Sudirman, Jakarta Pusat. (Foto ilustrasi: B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)
Para pekerja melintas di Jalan Jend Sudirman, Jakarta Pusat. (Foto ilustrasi: B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)

JAKARTA, investor.id – Pengamat sekaligus Rektor Unika Atma Jaya Jakarta Agustinus Prasetyantoko mengatakan, dampak resesi global tahun ini terhadap ekonomi nasional sangat minim. Sebab kinerja ekonomi domestik hingga akhir tahun lalu terpantau sangat baik dibandingkan negara lain.

Meski demikian, terdapat beberapa gejolak yang akan menekan ekonomi dalam negeri. Pertama, kenaikan suku bunga The Fed akan menekan likuiditas pasar yang berujung pada keluarnya aliran modal asing (net outflow) dan pelemahan rupiah.

"Indikator bahwa kita alami tekanan sudah cukup terasa dari sisi kurs rupiah yang lebih tinggi dari beberapa waktu lalu, sekarang di kisaran Rp 15.482 dan cadangan devisa terkuras untuk menahan gejolak dinamika di pasar keuangan. Ini menunjukkan bahwa pada sisi finansial mengalami tekanan dampak gejolak global, namun masih relatif moderat dibandingkan depresiasi mata uang di banyak negara lain," tegasnya dalam diskusi Prospek Ekonomi Indonesia 2023, Rabu (11/1/2023).

ADVERTISEMENT

Kemudian, sisi perdagangan dinilainya masih relatif baik hingga kuartal I 2023, Indonesia masih mendapatkan imbas positif naiknya harga komoditas seiring permintaan yang meningkat. Terlebih, beberapa negara seperti Eropa yang dulunya cukup ketat terhadap batu bara Indonesia, saat ini justru membutuhkan pasokan batu bara seiring adanya gejolak konflik geopolitik Rusia-Ukraina.

"Kita masih diuntungkan hingga akhir 2022, bahkan kuartal I 2023, kemungkinan tekanan muncul kuartal II ketika pertumbuuhan negara ekonomi maju rendah. Alhasil, pendapatan ekspor mulai turun pada kuartal II-2023 dan memberi tekanan ke ekonomi," tuturnya.

Dengan demikian, Prasetyantoko memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan terpengaruh dari melambatnya pertumbuhan ekonomi global. Sehingga pertumbuhan ekonomi akan terkoreksi menjadi 4,8% atau lebih rendah dari proyeksi pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi 2022 sebesar 5,2%.

"Maka, di 2023 akan terkoreksi sedikit ke bawah 4,8%. Karena itu, tahun 2023 secara umum lebih buruk dari 2022. Seberapa buruk? Tidak lebih banyak. Jika secara global ada resesi, kita tidak akan masuk ke skenario stagflasi dan resesi, tapi ada koreksi pertumbuhan ekonomi. Itu salah satu tantangan yang harus dijawab, energi dan pangan jadi tekanan," ucapnya.

Senada dengan Prasetyantoko, ekonom BCA David Sumual juga optimistis terhadap kinerja ekonomi tahun ini, sehingga Indonesia akan jauh dari resesi. Namun, dampak dari resesi global bakal turut dirasakan Indonesia.

"Banyak masyarakat, termasuk pengusaha, salah kaprah. Resesi kemungkinan terjadi di global, namun di dalam negeri saya sepakat terjadi perlambatan ekonomi, bukan resesi. Indonesia pernah menghadapi tiga kali krisis di antaranya tahun 1997, 1998, kemudian tahun 2020. Itu kita anggap resesi," jelasnya.

Ia menegaskan, tahun ini prospek pemulihan ekonomi di dalam negeri masih terjadi, namun sedikit melambat. Hal itu dinilai wajar karena kondisi ini tidak terlepas dari tantangan kondisi global.

Menurut David, laju ekonomi Indonesia tidak terlalu mengandalkan negara lain, karena komponen penyokong PDB terbesar berasal dari ekonomi domestik. Bahkan untuk nilai perdagangan Indonesia, khususnya ekspor, hanya 13% terhadap PDB atau lebih rendah dibandingkan Malaysia 59% dan Thailand 46% terhadap PDB.

"Sedikit perlambatan wajar karena di kondisi global penuh tantangan, tapi seberapa besar? Kita bentengi ekonomi domestik dengan kebijakan dan fundamental ekonomi. Mudah-mudahan angin datang ke kita sepay sepoy," ujarnya.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia