Kamis, 14 Mei 2026

Jelan Ramadhan, BPS Minta Pemerintah Antisipasi Kenaikan Inflasi

Penulis : Arnoldus Kristianus
13 Mar 2023 | 12:17 WIB
BAGIKAN
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers secara hibrida di Kantor BPS pada Rabu (01/03/2023).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers secara hibrida di Kantor BPS pada Rabu (01/03/2023).

JAKARTA, Investor.id - Badan Pusat Statistik (BPS) menghimbau pemerintah untuk mengantisipasi kenaikan inflasi menjelang Ramadan dan Idulfitri. Secara musiman, hari besar keagamaan nasional menjadi salah satu faktor pendorong inflasi.

“Bahan makanan, makanan jadi, serta transportasi akan menjadi kelompok komoditas yang memberikan dampak kepada inflasi di bulan Ramadan dan Idulfitri. Jadi mungkin ini yang perlu kita waspadai bersama,” ucap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah pada Senin (13/03/2023).

Dia mengatakan, perubahan konsumsi makanan/minuman masyarakat terjadi pada 23 hari atau tiga minggu sebelum Idulfitri. Tingkat konsumsi makanan/minuman masyarakat akan mencapai puncak pada H-19 sebelum Idulfitri. Akhir efek Ramdan terlihat sekitar dua hari sebelum Idulfitri beralih ke konsumsi transportasi pulang kampung. Tren kenaikan konsumsi mulai hilang kira-kira 15 hari (2 minggu) setelah Idulfitri.

ADVERTISEMENT

“Pola perubahan harga, bisa kita indikasikan dari fluktuasi harga yang kami ukur menggunakan koefisien variasi harga. Dimana koefisien variasi harga ini menggambarkan fluktuasi harga. Jadi semakin besar koefisien variasinya ini maka semakin besar perubahan harga maka semakin bervariasi harganya,” terang dia.

Jika melihat data dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) ada tiga komoditas yang cenderung meningkat konsumsinya di bulan Ramadan yaitu daging sapi, daging ayam ras, dan cabai merah. Tiga komoditas ini sudah mulai menunjukan peningkatan harga jelang Ramadan.

“Koefisien variasi ini cenderung meningkat, jadi terlihat peningkatan koefisien variasi yang mengindikasikan adanya perubahan harga yang berfluktuasi,” kata Pudji.

Pudji menuturkan, bila melihat historis inflasi maka inflasi tertinggi berada di bulan Ramadan, kecuali di tahun 2020 dan 2021 karena adanya masa pandemi. Berdasarkan historis sebagian besar kota mengalami inflasi pada bulan Ramadhan, dengan inflasi tinggi dominan terjadi di kota luar Pulau Sumatera dan Jawa. “Oleh karena itu pengendalian inflasi pada level daerah harus diupayakan untuk menekan tingkat inflasi nasional,” imbuhnya.

Pada 2019, Ramadan terjadi pada bulan Mei dengan tingkat inflasi bulanan sebesar 0,68%. Dari 90 kota yang dipantau BPS, tercatat 89 kota mengalami inflasi. Lima kota dengan inflasi tertinggi yaitu Tual (2,91%), Manado (2,60%), Manokwari (2,25%), Kendari (1,80%), dan Pangkalpinang (1,78%).

Pada 2020 Ramadan terjadi pada April dengan tingkat inflasi bulanan sebesar 0,08% Dari 90 kota yang dipantau BPS, tercatat 39 kota mengalami inflasi. Lima kota dengan inflasi tertinggi yaitu Baubau (0,88%), Timika (0,72%), Merauke (0,56%), Luwuk (0,54%), dan Kotamobagu (0,51%).

Pada tahun 2021 Ramadan berlangsung pada bulan April dengan tingkat inflasi bulanan sebesar 0,13%. Dari 90 kota yang dipantau BPS ada 72 kota mengalami inflasi. Lima kota dengan inflasi tertinggi yaitu Kotamobagu (1,31%), Timika (1,27%), Manado (0,96%), Parepare (0,92%), dan Kupang (0,91%).

Pada 2022 Ramadan berlangsung pada bulan April dengan tingkat inflasi bulanan sebesar 0,95%. Dari 90 kota yang dipantau BPS tercatat 90 kota mengalami inflasi tanpa ada yang deflasi. Lima kota dengan inflasi tertinggi yaitu Tanjung pandan (2,58%), Jayapura (2,38%), Pangkalpinang (1,82%), Kendari (1,80%), dan Tual (1,74%).

“Di bulan Ramadan 2022 ini andil transportasi juga cukup tinggi, karena sudah dibukanya pembatasan aktivitas masyarakat, sehingga masyarakat mulai melakukan mobilitas cukup tinggi,” kata Pudji.


 

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 28 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 37 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 54 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 1 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia