Investor Asing Percaya Sektor Properti Indonesia Masih Menarik
JAKARTA, investor.id - Para investor asing dinilai masih percaya Indonesia sebagai pilihan investasi menarik untuk bisnis properti. Karena itu, laju penanaman modal asing (PMA) masih berlanjut hingga akhir 2023.
Data Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memerlihatkan bahwa realisasi PMA berkontribusi sekitar Rp 11 triliun untuk periode tiga bulan pertama 2023 atau sekitar 30% dari total investasi.
Dalam rentang waktu itu, penanaman modal dalam negeri (PMDN) masih menjadi motor penggerak dengan realisasi sekitar Rp 25 triliun atau sekitar 70%.
Realisasi PMDN kuartal I-2023 naik 11%, yaitu dari Rp 22,5 triliun menjadi Rp 25 triliun, sedangkan PMA tumbuh 19% dari Rp 9,7 triliun menjadi Rp 11,5 triliun.
“Pertumbuhan PMA yang hampir 20% itu, salah satunya disebabkan optimisme investor asing terhadap pemulihan perekonomian Indonesia sejak dua tahun lalu hingga saat ini,” kata pengamat bisnis properti, Panangian Simanungkalit kepada Investor Daily, baru-baru ini.
Sepanjang kuartal I-2023, PMA menyumbang Rp 177 triliun atau sekitar 53,8%, sedangkan PMDN Rp 151,9 triliun (46,2%) dari total realisasi investasi yang sebesar Rp 328,9 triliun.
Data Kementerian Investasi/BKPM memerlihatkan bahwa Singapura menjadi negara terbesar yang berinvestasi di Indonesia sepanjang tiga bulan pertama 2023, yakni US$ 4,3 miliar. Lalu, di posisi kedua dan ketiga adalah Hong Kong (US$ 1,5 miliar) dan Cina (US$ 1,2 miliar).
Selain itu, di posisi keempat dan kelima adalah Jepang (US$ 1 miliar) dan Amerika Serikat (US$ 0,8 miliar).
Baca juga: “Asing percaya bahwa Indonesia adalah salah satu negara di kawasan Asia yang memiliki prospek pertumbuhan ekonomi tinggi di tengah ketidakpastian perekonomian global beberapa tahun terakhir,” tegas Panangian.
Terkait pertumbuhan PMDN yang mencapai sebesar 11% per akhir Maret 2023 dibandingkan dengan periode sama 2022, Panangian menilai, itu menunjukan dua kali lebih tinggi dari pertumbuhan PDB tahun 2022 yang sebesar 5,3%. “Ini menggambarkan bahwa bisnis propeti dengan politik itu sudah terpisah (decoupling) sejak reformasi telah melewati empat kali pemilu sampai dengan sekarang,” ujar Panangian.
Sementara itu, Marine Novita, country manager Rumah.com, mengatakan, menekankan pentingnya pelaku bisnis properti untuk melihat peluang dari pangsa luar negeri.
Belum lama ini, jelas dia, pemerintah Singapura menaikkan bea pembelian properti bagi asing hingga 60%, dari tarif sebelumnya sebesar 30%. Kenaikan additional buyer's stamp duty (ABSD) pembelian properti di Singapura harus disambut positif sebagai peluang industri properti tanah air untuk menjadi tujuan alternatif investasi properti.
"Dinamika perubahan tarif bea properti di luar negeri merupakan kesempatan besar bagi Indonesia menggaet pembeli asing,” ujar Marine dalam keterangan tertulis yang diterima Investor Daily, baru-baru ini.
Dia menegaskan, pemerintah bisa lebih aktif mensosialisasikan kemudahan dan kepastian hukum bagi investor properti dari luar negeri yang merupakan turunan dari UU Cipta Kerja. “Geliat pembangunan infrastuktur juga membuka berbagai peluang baru dalam bidang properti,” tutur Marine.
Peluang Investasi
Sementara itu, kajian Cushman Wakefield membeberkan bahwa dalam menghadapi perlambatan global dan tekanan inflasi, Bank Indonesia memerkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di rentang 4,5-5,3% pada 2023.
Ekspansi ini terutama didorong oleh peningkatan pengeluaran konsumen, peningkatan aktivitas bisnis, dan peningkatan mobilitas sebagai akibat dari berkurangnya pembatasan Covid-19. Namun, menyusul inflasi tinggi yang mendorong kenaikan harga pada 2022, serta rencana pemilu 2024, rupiah masih diperkirakan akan terdepresiasi sampai batas tertentu antara tahun 2023 dan 2024.
Sekalipun demikian, konsultan properti itu merinci tentang tiga peluang investasi di sektor properti.
Pertama, peluang investasi di rumah tapak. Setelah pandemi Covid-19, kepercayaan pasar terhadap rumah tanah terus meningkat dengan sebagian besar permintaan ada di segmen menengah dan atas. Hal ini didorong oleh primer kebutuhan penduduk Indonesia yang besar, peningkatan daya beli umum pascapandemi, dan fakta bahwa sebagian besar permintaan berasal dari pengguna akhir yang membeli rumah pertama mereka.
“Permintaan perumahan tapak diproyeksikan untuk terus relatif stabil pada 2023,meskipun ada kekhawatiran ekonomi global,” bunyi riset Cushman Wakefield yang diperoleh Investor Daily, baru-baru ini.
Kedua, sector industry dan gudang. Ketersediaan lahan industri yang menguntungkan daerah menjadi lebih terbatas. Di bagian lain, masih tetap ada permintaan dari industri teknologi tinggi seperti pusat data dan kendaraan listrik tetap ada. Rendahnya tingkat kekosongan gudang dan pertumbuhan sektor logistik, dan ada peningkatan permintaan dari sektor lain seperti manufaktur, bahan baku, dan otomotif memengaruhi harga sewa.
“Sewa diperkirakan stabil karena untuk persaingan pasar yang tinggi, dan masuk persediaan baru, yang menunjukkan pasar gudang masih dianggap menarik untuk investor,” ujar Cushman Wakefield.
Ketiga, subsektor ritel. Cushman Wakefield menilai, meskipun pertumbuhan ekonomi dipercepat selama kuartal terakhir tahun 2022, harga konsumen yang terus meningkat, inflasi, dan kenaikan suku bunga diharapkan menyeimbangkan pengeluaran rumah tangga pada tahun berikutnya. Penyerapan bersih positif dari ruang ritel diperkirakan berlanjut pada 2023 seiring dengan kembalinya traffic pengunjung ke level sebelum pandemi.
“Tarif sewa dan biaya layanan diperkirakan tetap stabil pada 2023, pemilik Gedung ritel akan melanjutkan upaya mereka untuk mempertahankan dan menarik pengecer baru,” urai Cushman Wakefield.
Mengutip data Kementerian Investasi/BKPM, realisasi investasi di subsektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran tercatat tumbuh 12% per akhir Maret 2023 dibandingkan periode sama 2022, yaitu dari Rp 25 triliun menjadi Rp 28 triliun.
“Pertumbuhan ketiga subsektor properti itu tidak terganggu oleh kenaikan tingkat inflasi dan BI 7DRR belakangan ini, sebab pertumbuhan itu ditopang oleh stabil dan kuatnya pertumbuhan PDB sejak tahun lalu hingga tahun ini yang berada di angka 5,3%,” ujar Panangian.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






