Penurunan Permintaan Berlanjut, Industri Manufaktur di Ambang Kontraksi
6 Jun 2023 | 05:00 WIB
JAKARTA, investor.id - Industri manufaktur terancam meninggalkan fase ekspansi dan mengarah ke kontraksi, seiring berlanjutnya penurunan permintaan dari pasar domestik dan ekspor. Indeks manajer pembelian (Purchasing Manager Index/PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan, industri manufaktur nasional berada di posisi 50,3 pada bulan Mei 2023, turun dari bulan sebelumnya 52,7.
PMI di atas 50 menunjukkan manufaktur tengah ekspansif, sedangkan di bawah 50 menandakan kontraksi. Indeks yang dirilis setiap bulan tersebut, memberikan gambaran tentang kinerja industri pengolahan pada suatu negara, yang berasal dari pertanyaan seputar jumlah produksi, permintaan baru, ketenagakerjaan, inventori, dan waktu pengiriman.
Dari hasil survei S&P Global yang dirilis Senin (05/06/2023), PMI Indonesia pada bulan Mei 2023 masih di atas PMI Amerika Serikat yang sudah masuk fase kontraksi di level 48,4 dan Eropa di posisi 44,8. PMI dunia pada bulan Mei 2023 juga telah masuk fase kontraksi di level 49,6.
“PMI Indonesia kemungkinan mengarah ke kontraksi juga, walaupun kondisinya tidak akan separah di Amerika maupun Eropa. Faktor pendorongnya karena pelemahan permintaan dari dalam maupun luar negeri,” kata Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Mohammad Faisal kepada Investor Daily, Senin (05/06/2023).
Faisal melihat, penurunan permintaan terutama berasal dari luar negeri. Sementara di dalam negeri, walaupun terjadi penurunan order, masih sedikit lebih baik dibanding dari pasar global.
“Jadi, karena permasalahannya dari sisi order, kebijakan yang harus dilakukan pemerintah adalah mendorong agar permintaan terus tumbuh,” tutur dia.
Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bobby Gafur Umar melihat, industri manufaktur sudah berada pada fase dengan kehati-hatian tinggi saat ini. “Dengan penurunan PMI sebanyak 2,4, walaupun masih di level 50,3, ini sudah mepet. Penurunan ini menjadi lampu kuning agar kita waspada bahwa pasar dalam negeri juga menurun,” kata Bobby melalui sambungan telepon kepada Investor Daily, Jakarta, Senin (05/06/2023).
Meski demikian, dia meyakini, Indonesia tidak akan masuk jurang resesi karena pertumbuhan ekonomi dalam negeri masih cukup solid. “Pemerintah harus terus menggenjot pertumbuhan ekonomi, selain dari progam yang sudah ada. Kalau Bank Indonesia memberi sinyal penurunan suku bunga sekitar 25 basis poin atau bahkan 50 basis poin, ini akan bagus, karena inflasi kita cukup bagus. Ini yang harus dipikirkan pemerintah,” kata Bobby.
Terseok-seok
Senada dengan Bobby, Direktur Eksekutif Insitute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad melihat, penurunan PMI Manufaktur dan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKI) bulan Mei merupakan kode bahwa industri manufaktur masih akan terseok-seok pada tahun ini. “Industri ini masih berat. Beberapa kebijakan pemerintah masih belum berpengaruh,” kata dia.
Tauhid menilai, penurunan impor bahan baku menunjukkan berkurangnya utilitas industri manufaktur, terutama pada sektor yang berorientasi ekspor. Hal ini masih akan berlanjut mengikuti gejala penurunan ekspor sampai akhir tahun ini.
“Ini baru gejala awalnya, masih akan berlanjut dan belum ada pemulihan. Belum ada pendorong yang cukup kuat untuk bisa membuat comeback di semester II. Belum ada momentum,” kata Tauhid.
Tingkat Kepercayaan Menurun
Sementara itu Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence Jingyi Pan mengatakan, penurunan PMI manufaktur Indonesia terutama disebabkan melemahnya permintaan yang dipengaruhi kondisi ekonomi domestik dan global. “Sangat penting untuk memonitor seberapa tangguh penurunan permintaan terkini, karena hal ini akan memengaruhi perkiraan pertumbuhan jangka pendek,” kata Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence Jingyi Pan dalam keterangan resminya, Senin (05/06/2023).
Menurut Jingyi Pan, kondisi permintaan yang lebih lemah menyebabkan tekanan harga bagi produsen Indonesia semakin berkurang, yang artinya inflasi harga jual yang lebih lunak di sektor produksi barang, sehingga mencerminkan upaya Bank Indonesia dalam menurunkan tekanan inflasi melalui pengetatan kebijakan moneter.
“Namun demikian, sangat mengkhawatirkan melihat bahwa sentimen bisnis tetap suram, dengan tingkat kepercayaan semakin turun di bawah rata-rata pada bulan Mei, mencerminkan kekhawatiran yang masih ada terhadap perkiraan pada tahun yang akan datang,” ujar dia.
Survei S&P Global menunjukkan, laju ekspansi merupakan yang terendah sejak bulan November 2022 dan hanya sedikit. Pusat penurunan headline angka PMI adalah kemerosotan pada permintaan baru. Volume pekerjaan baru turun untuk pertama kalinya sejak bulan Agustus 2021, setelah naik dengan laju tercepat dalam tujuh bulan pada bulan April.
Menurut peserta survei, permintaan asing juga berkurang, dengan permintaan baru dari luar negeri turun selama dua belas bulan berturut-turut, baik permintaan domestik maupun internasional terpengaruh oleh kondisi pasar yang lebih lemah.
11 Subsektor Kontraksi
Selain PMI dari S&P Global, perlambatan kinerja manufaktur juga terlihat dari hasil survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dirilis Kementerian Perindustrian (Kemenperin). IKI bulan Mei 2023 mengalami penurunan 0,48 poin ke posisi 50,9 dibanding bulan April 2023 yang di level 51,38.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, perlambatan IKI bulan Mei dipengaruhi oleh penurunan IKI 11 subsektor industri. Hal tersebut antara lain terjadi pada subsektor Industri Pengolahan Tembakau, Industri Kertas dan Barang dari Kertas, Industri Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman, Industri Farmasi, Obat Kimia, dan Tradisional, dan Industri Logam Dasar.
Akibatnya, share subsektor ekspansi terhadap PDB Industri Pengolahan Nonmigas kuartal pertama tahun ini menurun menjadi 70,6%. Share tersebut berasal dari 12 subsektor yang mengalami ekspansi.
Febri menjelaskan, penurunan IKI disebabkan oleh kontraksi beberapa subsektor yang memiliki share PDB cukup besar, setelah sebelumnya mengalami ekspansi, misalnya seperti Industri Logam Dasar dan Industri Pengolahan Tembakau. Kedua, melandainya ekspor karena penurunan harga komoditas dan melemahnya nilai tukar rupiah. “Ketiga, masih terdapatnya stok persediaan dari bulan April karena terjadinya penurunan daya beli masyarakat selama Lebaran, tidak seperti pada tahun sebelumnya,” ujar Febri.
Meskipun demikian, beberapa subsektor dengan share PDB terbesar masih mengalami ekspansi, yaitu Industri Makanan, Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia dan Industri Kendaraan Bermotor, Trailer dan Semi Trailer. “Untuk Juni 2023, Kemenperin optimistis IKI akan naik kembali,” kata dia.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






