Jumat, 15 Mei 2026

Ekspor Naik Terus, Neraca Dagang Pertanian Selalu Surplus

Penulis : Ridho Syukra / Tri Listiyarini
13 Jul 2023 | 09:02 WIB
BAGIKAN
Para petani di Purwakarta, Jawa Barat, yang memasuki masa panen, Selasa (21/2/2023).
Para petani di Purwakarta, Jawa Barat, yang memasuki masa panen, Selasa (21/2/2023).

JAKARTA, investor.id–Nilai ekspor pertanian terus menunjukkan tren kenaikan seiring langkah-langkah akselerasi yang dijalankan Kementerian Pertanian (Kementan). Pada 2022 misalnya, ekspor pertanian untuk produk segar dan olahan mencapai Rp 658,18 triliun, naik 72,05% dibanding 2019 yang hanya Rp 382,56 triliun. Seirama dengan tren peningkatan nilai ekspor, neraca perdagangan pertanian juga selalu surplus, pada 2019 sebesar Rp 123,69 triliun dan pada 2022 menjadi Rp 275,15 triliun.

Menurut Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, nilai ekspor pertanian, dengan tanpa memperhitungkan sektor kehutanan dan perikanan, mengalami peningkatan sejak 2019. Hal ini berkat kerja keras semua pihak, terutama para petani yang tidak lelah bekerja meski Indonesia menghadapi berbagai turbulensi, mulai dari pandemi Covid-19 hingga ancaman perubahan iklim, termasuk fenomena El Nino. “Jadi, kalau mau impor ya impor saja, tapi faktanya ekspor pertanian naik terus. Ekspor pertanian kita pada 2022 itu mencapai Rp 658,18 triliun, bahkan pada 2020 itu naiknya hampir 16%,” ungkap Mentan.

Berdasarkan data Kementan yang dipaparkan Mentan, ekspor pertanian pada 2022 mencapai Rp 658,18 triliun, pada 2021 sebesar Rp 616,35 triliun, pada 2020 sekitar Rp 442,94 triliun, dan pada 2019 hanya Rp 382,56 triliun. Sementara itu, impor pertanian pada 2022 sebesar Rp 383,03 triliun, pada 2021 mencapai Rp 321,59 triliun, pada 2020 sekitar Rp 256,03 triliun, dan pada 2019 masih Rp 258,87 triliun. Dengan angka ekspor-impor tersebut, neraca perdagangan pertanian pada 2019-2022 selalu surplus, pada 2019 sebesar Rp 123,69 triliun, pada 2020 sekitar Rp 186,91 triliun, pada 2021 mencapai Rp 294,76 triliun, dan pada 2022 menjadi Rp 275,15 triliun. Pada Januari-Mei 2023, surplus neraca perdagangan pertanian menembus Rp 54,2 triliun, karena ekspor mencapai Rp 209,36 triliun dan impor hanya Rp 155,16 triliun.

25.600 Ha Lahan Pertanian Disiapkan untuk Pangan di IKN25.600 Ha Lahan Pertanian Disiapkan untuk Pangan di IKN

ADVERTISEMENT

Dalam menggenjot ekspor pertanian, Kementan memiliki program Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks), seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) bersatu membangun pertanian hulu-hilir, termasuk meningkatkan ekspor. Daerah diminta mengembangkan komoditas unggulan potensial ekspor. Di sisi lain, Kementan melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) misalnya, terus memperbaiki dan memperkuat sistem perkarantinaan sehingga bisa mempermudah pelaku usaha melakukan ekspor. “Dengan berbagai upaya yang kami lakukan, neraca perdagangan pertanian Indonesia pun selalu positif. Ekspor pada 2022 mencapai Rp 658 triliun, impornya hanya Rp 383 triliun, sehingga surplusnya Rp 275 triliun,” papar Sekjen Kementan Kasdi Subagyono saat mendampingi Mentan membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian Nasional (Musrenbangtannas) 2023 yang dipantau Investor Daily, Rabu (12/07/2023).

Kasdi juga mengatakan, dari 12 komoditas pangan strategis pada periode 2019-2022, hanya empat yang belum swasembada, yakni kedelai, bawang putih, daging sapi/kerbau, dan tebu (gula kristal putih). Sementara, delapan komoditas lainnya, yakni padi/beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, bawang merah, daging ayam, telur, dan sawit, Indonesia telah berswasembada. Telur misalnya, produksinya mengalami peningkatan 5,77% tiap tahunnya. “Status swasembada tersebut mengacu pada standar Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), yakni produksi mencapai 90% dari total kebutuhan nasional,” tandas Kasdi.

Produksi Beras

Dalam kesempatan itu, Mentan Syahrul juga menyatakan, Kementan siap menggenjot produksi beras dengan menyiapkan lahan percepatan tanam seluas 500 ribu hektare (ha). Lahan itu disiapkan sebagai skenario terburuk dalam upaya menghadapi fenomena El Nino yang puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus-September 2023. “Kementan sudah membuat prediksi terjelek, jadi kami harus exercise (lakukan) di kurang lebih 500 ribu ha,” jelas Mentan. Produksi yang digenjot pada lahan 500 ribu ha tersebut diprediksi bisa menghasilkan 3 juta ton gabah kering giling (GKG) yang setara dengan kurang lebih 1,5 juta ton beras.

Krisis Pangan Mengancam, Cadangan Beras-Jagung Diperkuat

Kementan juga memetakan potensi produksi pangan guna untuk menentukan strategi yang tepat dalam menghadapi kondisi perubahan iklim, termasuk El Nino. Daerah-daerah itu terbagi menjadi daerah hijau yang memiliki air dan pasokan pangan cukup, daerah kuning yang dinilai punya pasokan air maupun pangan yang pas-pasan sehingga perlu mendapatkan intervensi, serta daerah merah yang sangat minus secara produksi. “Kalau untuk ketersediaan 12 komoditas pangan pokok, kami pastikan masih akan terpenuhi hingga akhir 2023 ini. Kami upayakan persiapan tetap harus dilakukan, terlebih di tengah gejolak perubahan iklim dan krisis pangan yang melanda dunia. Apakah ada El Nino atau tidak, apakah ada La Nina, kami upayakan untuk terus menanam,” ujar Mentan.

Editor: Tri Listiyarini

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 8 menit yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 18 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 1 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 1 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia