Kamis, 14 Mei 2026

Teknologi Padi dari China Belum Tentu Jadi Solusi Pertanian RI

Penulis : Tri Listiyarini
24 Apr 2024 | 09:20 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi seorang petani sedang menanam padi di sawah. (Foto: Freepik)
Ilustrasi seorang petani sedang menanam padi di sawah. (Foto: Freepik)

JAKARTA, investor.id–Rencana pemerintah mengintroduksi teknologi padi dari China belum tentu menjadi solusi terbaik bagi penyelesaian masalah pertanian di Indonesia. Sebab, problem pertanian padi di Indonesia saat ini menyangkut biaya usaha tani yang mahal, terutama untuk sewa lahan dan tenaga kerja.

Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengatakan, produktivitas padi di China memang tinggi, bahkan mengalahkan Indonesia. Tapi jangan lupa, produktivitas padi petani Indonesia sesungguhnya jauh meninggalkan Vietnam dan Thailand. Indonesia hanya kalah dari China. Produktivitas di China tinggi karena lebih dari separuh benih yang ditanam jenis padi hibrida. Sebaliknya, benih padi hibrida di Indonesia masih kecil porsinya.

Di sisi lain, problem terbesar pertanian padi di Indonesia adalah biaya usaha tani yang mahal, terutama untuk sewa lahan dan biaya tenaga kerja. “Dua pos itu sekitar 75-80% dari total biaya produksi usaha tani. Ini yang membuat harga padi/beras Indonesia mahal dan tak kompetitif dengan Thailand atau Vietnam. Apakah introduksi teknologi padi dari China bakal bisa menurunkan biaya sewa lahan dan tenaga kerja? Belum tentu,” ungkap Khudori.

Khudori menyatakan hal itu menanggapi rencana China diundang Indonesia untuk mengembangkan padi sawah di Kalimantan Tengah (Kalteng), seperti disampaikan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Ihwal rencana mengundang China untuk mengembangkan pertanian di Kalteng dengan memberikan teknologi padinya, tepatnya mulai Oktober 2024, ramai diberitakan beberapa hari ini.

ADVERTISEMENT

Dalam keterangan yang dikutip Selasa (23/04/2024), Khudori menjelaskan, bisa saja jika teknologi padi introduksi dari China itu diterapkan di lahan hak guna usaha (HGU) dalam luasan tertentu dengan praktik mekanisasi penuh yang membuat biaya sewa lahan dan tenaga kerja menurun. “Tapi ini hanya di wilayah itu (Kalteng). Tidak ada pengaruhnya terhadap biaya sewa lahan dan tenaga kerja di luar wilayah yang memang diusahakan sebagian besar petani kecil dengan lahan sempit,” tutur dia.

Rencana mengintroduksi teknologi padi dari China memang baik. Tetapi, mengintroduksi sistem usaha tani, seperti menghadirkan benih dari negara lain, termasuk China, tidak selalu jadi solusi baik, cespleng, dan langsung applicable. “Pasti butuh adaptasi, baik dari sisi iklim/cuaca, sifat tanah, dan hama penyakit. Proses adaptasi bisa lama bisa pendek dan tak selalu berhasil. Bisa juga mengalami kegagalan,” jelas dia. Lebih dari itu, untuk proses adaptasi seperti itu pasti membutuhkan input dari ahli-ahli lokal agar berhasil. Tanpa keterlibatan ahli-ahli lokal, peluang gagal cukup besar.

Hendaknya jangan pula dilupakan bahwa China itu negara dengan empat musim. Sementara Indonesia negara dengan dua musim. Perbedaan ini bakal memengaruhi karakter budi daya, tanah, perilaku iklim/cuaca juga berbeda. “Ahli di China bisa saja jagoan dalam pertanaman padi di sana, tapi ketika teknologi serupa diterapkan di Indonesia belum tentu berhasil. Hal ini mesti disadari para pengambil kebijakan,” jelas Khudori.

Editor: Tri Listiyarini

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 22 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 52 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 1 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia