Teknologi Padi dari China Belum Tentu Jadi Solusi Pertanian RI
Di sisi lain, Khudori, menyitir penyataan Menko Luhut, menyatakan, introduksi teknologi padi bakal dilakukan di Kalteng, dimulai 100 hektare, baru nanti terus bertambah. “Saya tidak tahu apakah lokasi di Kalteng itu eks Pembukaan Lahan Gambut Sejuta Hektare era Orde Baru tahun 1995 atau 1996? Jika ya, sebenarnya sudah ada hasil kajian sejumlah ahli bahwa dari sejuta ha itu paling banyak yang bisa dikembangkan untuk pertanian tanpa memerlukan teknologi reklamasi dan ameliorasi rumit tidak lebih dari 20%. Jadi yang cocok tak luas juga,” papar Khudori.
Jika diterapkan teknologi reklamasi dan ameliorasi yang rumit maka kawasan pengembangan bisa diperluas sebanyak-banyaknya 30%. Artinya, total kemungkinan bisa dikembangkan di 50% dari kawasan. “Tapi yang terakhir ini pun untuk bisa mendapatkan hasil yang mantap dan stabil butuh waktu 10-15 tahun. Biayanya pun pasti mahal,” kata dia.
Saatnya Berbenah
Lebih jauh Khudori menuturkan, rencana introduksi teknologi padi dari China harus melecut semua pihak untuk berbenah. Karenanya, inisiatif-inisiatif lokal, baik oleh para ahli, petani, maupun yang lain untuk terus memperbaiki pertanian padi sebaiknya terus didorong.
Terkait benih, penting bagi pemerintah untuk membangun ekosistem yang memungkinkan tumbuh-kembangnya benih yang baik. Salah satunya adalah penetapan harga yang rasional. Benih yang baik pasti harganya mahal. Kalau penetapan harganya tidak rasional seperti sekarang, yang terjadi adalah benih yang tak terjamin alias abal-abal dan petanilah yang dirugikan.
Di luar itu, inisiatif para pengembang benih (breeder) padi lokal yang merakit benih tahan genangan 21 hari dengan survival rate 90% atau benih dengan kelebihan-kelebihan lain adalah penting dan jauh lebih berguna. Sebab, benih itu memang dirakit untuk menjawab masalah yang ada dan riil di masyarakat petani.
Wapres Jusuf Kalla pada 2007 pernah ke China dan kepincut benih hibrida negara itu. China memang tersohor soal itu karena di negara tersebut ada pengembangan/penemu benih hibrida yang termasyhur di dunia yakni Yuang Longping. Produktivitas padi diklaim bisa 16 ton per hektare. Bahkan, saat itu, ada kerja sama antara perusahaan China dengan Indonesia di bidang perbenihan.
Belakangan diketahui, setelah benih padi hibrida yang diimpor dan dibagikan sebagai bagian dari bantuan benih kepada petani, hasilnya tidak menggembirakan. Di beberapa tempat, padi hibrida yang ditanam petani terserang penyakit. Ini menandakan bahwa tidak mudah mengintroduksi sistem usaha tani, benih salah satunya. “Pasti butuh inovasi tambahan. Inovasi ketahanan penyakit misalnya,” tandas Khudori.
Editor: Tri Listiyarini
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Tag Terpopuler
Terpopuler


