Ekonomi Lesu, iPhone 16 Tetap Diserbu
Ia menambahkan bahwa jika kebijakan tarif benar-benar diberlakukan, maka harga iPhone 16 bisa saja melonjak dan justru melemahkan minat beli konsumen, terlebih mengingat siklus perilisan Apple yang konsisten setiap tahun.
"Kalau harga iPhone 16 dinaikkan sekarang, orang bisa memilih untuk menunggu iPhone 17 Series yang kemungkinan akan dirilis Oktober atau Desember tahun ini. Bisa-bisa penjualan jadi anjlok," ujarnya.
Riky juga menyoroti dinamika penjualan yang tidak sesuai ekspektasi. Biasanya, penjualan gadget melonjak di bulan Ramadan dan menjelang Lebaran, yakni Maret. Namun tahun ini, lonjakan justru terjadi setelah Lebaran, di bulan April.
"Biasanya Maret itu high season karena ada Lebaran. Tapi mungkin karena orang fokus ibadah selama puasa, penjualan malah lebih ramai setelah Lebaran. Bulan April ini justru jadi puncak," ungkapnya.
Meski demikian, respons pasar terhadap iPhone 16 Series cukup menggembirakan. Riky menyebutkan bahwa permintaan pre-order cukup tinggi, bahkan stok ready stock yang terbatas pun langsung diborong konsumen di wilayah Lombok dan sekitarnya.
Walaupun harga iPhone relatif stabil, Riky mengungkapkan bahwa aksesori iPhone seperti case, charger, dan AirPods mengalami kenaikan harga sekitar 5 persen. Hal ini dipengaruhi oleh kenaikan nilai tukar dolar AS serta harga emas global.
Sebagai pelaku usaha, Riky berharap pemerintah global—terutama Amerika Serikat—bisa mengambil kebijakan yang lebih berpihak pada kestabilan ekonomi internasional.
"Harapannya, Donald Trump dan negara-negara besar lainnya bisa lebih bijak mengambil keputusan. Sekarang ini ekonomi dunia sedang sulit. Bahkan di Indonesia juga kita rasakan, uang cash mulai susah," katanya.
Menurutnya, kebijakan tarif harus dievaluasi secara mendalam agar tidak membebani rakyat, dan tetap mendorong perputaran ekonomi.
Riky mengamati bahwa meski kondisi ekonomi sedang berat, konsumen iPhone masih memiliki loyalitas yang tinggi terhadap produk Apple.
"Yang beli iPhone itu biasanya memang sudah pengguna Apple sebelumnya. Mereka tahu kualitasnya, jadi meskipun kondisi ekonomi agak berat, tetap beli juga. Apalagi kalau sudah menunggu seri baru kayak iPhone 16," kata Riky.
Ia juga menyebut bahwa banyak konsumen yang membeli bukan hanya karena kebutuhan, tetapi juga karena prestise dan nilai lifestyle yang melekat pada merek Apple.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






