Jumat, 15 Mei 2026

Bapanas Pastikan Stok Beras Aman Sampai Akhir 2025

Penulis : Muhammad Farhan
24 Aug 2025 | 18:29 WIB
BAGIKAN
Sejumlah pekerja melakukan bongkar muat beras di Pergudangan Cabang Bulog Ternate, Maluku Utara, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Andri Saputra)
Sejumlah pekerja melakukan bongkar muat beras di Pergudangan Cabang Bulog Ternate, Maluku Utara, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Andri Saputra)

JAKARTA, investor.id – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan stok beras nasional akan aman dan mencukupi hingga akhir tahun 2025. Proyeksi ini didasarkan pada perhitungan neraca pangan yang menunjukkan produksi beras nasional akan melebihi konsumsi.

Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi mengatakan bahwa produksi beras diproyeksikan mencapai 31,37 juta ton, sementara konsumsi hanya sekitar 30,97 juta ton. Dengan penambahan stok awal tahun sebesar 8,4 juta ton dan impor beras khusus 532 ribu ton, total ketersediaan beras bisa mencapai 40,31 juta ton. Hal ini menyisakan neraca beras akhir tahun sebesar 9,33 juta ton.

“Neraca beras akhir tahun 2025 dapat sebesar 9,33 juta ton,” kata Arief dikutip dari keterangan persnya, Minggu (24/8/2025). Meski demikian, Arief menekankan bahwa angka produksi tersebut masih bersifat proyeksi dan sangat bergantung pada capaian tanam dan panen hingga akhir tahun.

“Jadi seperti yang disampaikan Bapak Menteri Pertanian (Andi Amran Sulaiman) dalam beberapa kesempatan, apabila kita menanam 1 juta hektare setiap bulannya, maka produksi beras bisa 2,5 sampai 2,6 juta ton per bulan, itu akan tercapai,” ungkap Arief.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, Bapanas mengapresiasi dukungan pemerintah terhadap ketahanan pangan melalui Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026. Menurut Arief, adanya penguatan anggaran dalam RAPBN 2026 akan mempermudah pelaksanaan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di tahun depan.

“Jadi tahun depan itu kita tidak mengajukan-mengajukan lagi, tapi sudah masuk anggarannya dan kita bisa langsung mengeksekusi kapanpun kita perlukan, karena tidak semua daerah itu panen,” jelas Arief.

Dia menambahkan, pengalokasian anggaran ini sangat penting untuk daerah-daerah yang memiliki masa panen tidak menentu, seperti Papua. Total anggaran yang dialokasikan di sektor pangan adalah Rp 164,4 triliun, di mana Rp 6,4 triliun di antaranya untuk konsumsi.

Dengan adanya anggaran yang sudah tersedia di RAPBN 2026, Bapanas tidak lagi harus menunggu transfer anggaran dari Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA BUN) seperti yang terjadi pada tahun ini. Hal itu akan memungkinkan Bapanas untuk bertindak lebih cepat dalam menstabilkan harga dan pasokan, terutama di daerah yang membutuhkan.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia