Kamis, 14 Mei 2026

Peran Strategis Satelit Pacu Layanan Digital Nasional

Penulis : Emanuel Kure
12 Mei 2026 | 21:00 WIB
BAGIKAN
Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) menyelenggarakan Asia Pacific Satellite Conference (APSAT) 2026 di Jakarta, pada 12-13 Mei 2026. (FOTO: IST)
Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) menyelenggarakan Asia Pacific Satellite Conference (APSAT) 2026 di Jakarta, pada 12-13 Mei 2026. (FOTO: IST)

JAKARTA,investor.id-Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) menyoroti peran strategis satelit internet dalam mendukung konektivitas dan ekosistem digital nasional. Asosiasi juga menilai, kehadiran satelit tidak hanya melengkapi infrastruktur terestrial, tetapi juga turut mendukung ketahanan jaringan dan keberlanjutan layanan digital nasional.

"Industri satelit terus berkembang seiring kebutuhan konektivitas yang semakin beragam. Saat ini, peran satelit tidak hanya melengkapi infrastruktur terestrial, tetapi juga turut mendukung ketahanan jaringan dan keberlanjutan layanan digital nasional secara lebih luas,” kata Ketua Umum ASSI Risdianto Yuli Hermansyah dalam keterangan persnya, Selasa (12/5/2026).

Risdianto menuturkan, kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan populasi lebih dari 270 juta jiwa, memberikan ruang yang luas bagi pemanfaatan teknologi satelit.

ADVERTISEMENT

Dengan pengalaman panjang industri satelit nasional dan ekosistem yang terus berkembang, Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat kontribusinya dalam industri satelit di kawasan Asia Pasifik.

"Indonesia memiliki modal yang cukup baik, mulai dari kebutuhan pasar, sumber daya manusia, hingga pengalaman pelaku industri. Tugas kita bersama adalah bagaimana mengintegrasikan industri, riset, talenta, dan kebijakan dalam satu strategi yang berkelanjutan," tambah Risdianto.

Tantangan Industri

Risdianto juga menyampaikan bahwa industri satelit tengah menghadapi sejumlah dinamika yang perlu disikapi dengan cermat, antara lain perkembangan konstelasi satelit yang semakin beragam, konvergensi jaringan satelit dan terestrial, isu keamanan siber, serta aspek keberlanjutan pemanfaatan ruang angkasa.

Dalam konteks geopolitik dan geoekonomi yang terus berkembang, isu kedaulatan digital menjadi salah satu pertimbangan penting bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Setiap negara memiliki konteks dan pendekatan yang berbeda. Bagi Indonesia, hal yang perlu dijaga adalah bagaimana kita dapat membangun kapasitas nasional yang memadai, baik dari sisi teknologi, regulasi, maupun sumber daya manusia, sehingga industri satelit kita tumbuh secara sehat dan berkelanjutan," tutur Risdianto.

Ia menambahkan bahwa ke depan, AI, cloud, IoT, fixed broadband, jaringan seluler, dan satelit akan semakin terintegrasi dalam satu ekosistem digital yang saling melengkapi.

“Integrasi ini membuka peluang baru, sekaligus menuntut kesiapan infrastruktur, kerangka regulasi, talenta, dan investasi yang adaptif terhadap perubahan,” ungkap Risdianto.

Untuk mensiasati tantangan dan dimanika tersebut, ASSI pun menyelenggarakan Asia Pacific Satellite Conference (APSAT) 2026 di Jakarta, pada 12–13 Mei 2026. Konferensi internasional ini mengangkat tema "The Future of Satellite Ecosystems: Importance of Sovereignty, AI, Innovation and Technological Integration".

Tema ini mengangkat refleksi perkembangan industri satelit global yang semakin menempatkan kedaulatan digital, kecerdasan buatan (AI), dan integrasi teknologi sebagai bagian penting dalam pembangunan ekosistem digital nasional dan regional.

“Kami berharap APSAT dapat menjadi ruang pertemuan yang konstruktif bagi seluruh pemangku kepentingan. Melalui forum ini, kami ingin mendorong dialog yang sehat dan kolaborasi yang berkelanjutan dalam pengembangan riset, teknologi, investasi, dan ekosistem satelit di tingkat nasional maupun regional," ucap Risdianto.

Editor: Emanuel

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 24 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 54 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia