Jumat, 15 Mei 2026

Terus Melandai, Outstanding Restrukturisasi Kredit Perbankan Rp 770,76 Triliun

Penulis : Herman
7 Okt 2021 | 17:12 WIB
BAGIKAN
Sekar Putih Djarot,  Juru Bicara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam diskusi Zooming with Primus - Kredit Bertumbuh, UMKM Bangkit, live di Beritasatu TV, Kamis (7/10/2021). Sumber: BSTV
Sekar Putih Djarot, Juru Bicara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam diskusi Zooming with Primus - Kredit Bertumbuh, UMKM Bangkit, live di Beritasatu TV, Kamis (7/10/2021). Sumber: BSTV

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tren restrukturisasi kredit terus melandai hingga melewati pertengahan tahun ini. Sampai dengan 31 Agustus 2021, total outstanding restrukturisasi kredit perbankan sebesar Rp 770,76 triliun dengan jumlah debitur sebanyak 4,81 juta.

Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 282,19 triliun berasal dari UMKM dengan jumlah debitur 3,46 juta, sedangkan non UMKM mencapai Rp 488,57 triliun dengan total 1,35 juta debitur. Sebelumnya, di Desember 2020, posisi restrukturisasi kredit perbankan sebesar Rp 829,71 triliun.

Sementara itu, untuk total outstanding restrukturisasi kredit perusahaan pembiayaan, per 6 September 2021 jumlahnya sebesar Rp 212,22 triliun dengan total debitur sebanyak 5,16 juta.

“Restrukturisasi kredit menunjukkan tren yang melandai. Ini mengindikasikan pelaku usaha sudah mulai beradaptasi terhadap pandemi Covid-19. Dengan meningkatnya mobilitas, demand juga meningkat,” kata Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot dalam program Zooming with Primus bertajuk “Kredit Bertumbuh, UMKM Bangkit” yang disiarkan langsung Beritasatu TV, Kamis (7/10/2021).

ADVERTISEMENT

Sekar menambahkan, pada Agustus 2021, kredit UMKM dan ritel juga masih mencatatkan pertumbuhan positif masing-masing 2,70% dan 2,84%. Sementara untuk kredit korporasi mulai kembali tumbuh secara month to month, meskipun masih berada di zona kontraksi.

“Porsi kredit UMKM sudah mencapai 19,9% dari total kredit. Dapat dilihat juga sebelum pandemi, pertumbuhan kredit UMKM pada 2019 sudah berada di level 7,75% secara year on year, lebih tinggi dibandingkan yang non UMKM. Tetapi memang di 2020 terjadi kontraksi akibat pandemi. Namun seiring dengan perbaikan mobilitas, pada Juli 2021 mulai tumbuh positif, meskipun belum tumbuh kuat,” kata Sekar.


 

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 39 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 41 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia