Jumat, 15 Mei 2026

LPS: Ekonomi Global Gonjang Ganjing, Likuiditas Perbankan Masih Terjaga

Penulis : Nida Sahara
9 Aug 2022 | 21:55 WIB
BAGIKAN
Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa dalam Economic Outlook 2021 bertajuk Memacu Pertumbuhan di Tengah Pandemi yang diselenggarakan Berita Satu Media Holding, Selasa (24/11).
Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa dalam Economic Outlook 2021 bertajuk Memacu Pertumbuhan di Tengah Pandemi yang diselenggarakan Berita Satu Media Holding, Selasa (24/11).

JAKARTA, investor.id – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai bahwa likuiditas perbankan nasional saat ini tidak tergantung dari dinamika ekonomi global. Dengan demikian, meski terjadi tekanan dari sisi ekonomi global, hal itu tidak berdampak pada likuiditas perbankan yang sampai saat ini masih sangat terjaga.

Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, nasib Indonesia ditentukan oleh Indonesia sendiri. Sebab, sumber pertumbuhan ekonomi nasional mayoritas masih berasal dari domestik, sehingga perbankan tidak terlalu berdampak signifikan jika global mengalami tekanan. “Likuiditas cukup baik, tidak tergantung global. Nasib bank kita di tangan kita sendiri. KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) menemukan cara itu. Walaupun global gonjang ganjing, likuiditas bisa dimitigasi,” ungkap Purbaya dalam program Money Talks CNBC Indonesia, Selasa (9/8/2022).

Menurut dia, tapering off yang dilakukan oleh bank sentral Amerika Serikat sudah terlihat ujungnya. Dana pihak ketiga (DPK) valuta asing (valas) per Juni 2022 tumbuh 4,5% di mana terdapat perpindahan dana dari deposito valas ke giro valas. Hal ini menunjukkan sinyal ekonomi yang terus ekspansi. “Sempat ada kekhawatiran karena bunga acuan tidak naik, dan di luar negeri naik maka uang lari ke luar. Tapi DPK valas naik 4,5%, giro tumbuh 8,9%, tabungan naik 9,8%, deposito valas turun 9,6%. Ada pergeseran dari suku bunga tinggi ke suku bunga rendah, artinya aktivitas ekonomi ini juga menggambarkan yang punya uang siap-siap menggunakan aktivitas ekonomi,” kata Purbaya.

ADVERTISEMENT

Dia menyebut, likuiditas perbankan dikendalikan oleh Bank Indonesia (BI), di mana saat ini likuiditas di pasar cukup memadai yang tercermin dari pertumbuhan uang primer (M0) 28% dengan alat likuid per DPK (AL/DPK) 29,9% dan AL/NCD 133%. Di samping itu, saat ini LPS sangat sedikit ruang menurunkan tingkat bunga penjaminan. Perbankan juga masih menunda menurunkan suku bunga deposito, padahal lebih menguntungkan jika bank memangkas bunga depositonya.

“Kami monitor masih ada ruang penurunan 50 basis poin (bps), tapi sekarang kami lihat peluang kecil, hanya 10 bps. Untuk ruang bunga penjaminan terbatas, LPS terus mencermati dan mengamati pergerakan deposito dan cost of fund di pasar, kami sesuaikan kebijakan,” urai Purbaya.

Sementara itu, SEVP Treasury PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Branko Windoe mengungkapkan, likuiditas valas apabila terjadi penurunan merupakan hal yang wajar. “Pada kuartal II itu permintaan valas cenderung besar, utamanya ada hari raya dan pembayaran schedule pinjaman luar negeri di kuartal II. Dan juga musim dividen, pemilik asing convert dari rupiah ke dolar AS,” kata Branko.

Dia melihat likuiditas valas saat ini masih sangat memadai. Adanya perpindahan simpanan valas dari deposito ke giro maupun tabungan dipengaruhi oleh keputusan nasabah dan juga hal yang normal. Sebab, ada kemungkinan pemilik dana mulai menggunakan dananya untuk konsumsi atau ekspansi usaha. Selain itu, perpindahan dana dari deposito ke giro atau tabungan terjadi karena pemilik dana mengincar suku bunga yang lebih tinggi. “Mereka melihat ada peningkatan suku bunga di lain hari, jadi mereka roll over simpan di tabungan, ketika bunga naik pindah ke deposito lagi. Kalau di-lock di deposito, bunganya nyangkut (tidak ikut naik),” jelas dia.

Branko juga menilai likuiditas setiap bank berbeda, ada yang sangat melimpah dan ada yang pas-pasan. Namun, bagi bank yang membutuhkan likuiditas tentunya akan mencari tambahan likuiditas ke pasar uang antarbank, dan hal ini juga normal.

Editor: Thomas Harefa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 7 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 11 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 49 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 53 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia