LPS: Ekonomi Global Gonjang Ganjing, Likuiditas Perbankan Masih Terjaga
JAKARTA, investor.id – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai bahwa likuiditas perbankan nasional saat ini tidak tergantung dari dinamika ekonomi global. Dengan demikian, meski terjadi tekanan dari sisi ekonomi global, hal itu tidak berdampak pada likuiditas perbankan yang sampai saat ini masih sangat terjaga.
Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, nasib Indonesia ditentukan oleh Indonesia sendiri. Sebab, sumber pertumbuhan ekonomi nasional mayoritas masih berasal dari domestik, sehingga perbankan tidak terlalu berdampak signifikan jika global mengalami tekanan. “Likuiditas cukup baik, tidak tergantung global. Nasib bank kita di tangan kita sendiri. KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) menemukan cara itu. Walaupun global gonjang ganjing, likuiditas bisa dimitigasi,” ungkap Purbaya dalam program Money Talks CNBC Indonesia, Selasa (9/8/2022).
Menurut dia, tapering off yang dilakukan oleh bank sentral Amerika Serikat sudah terlihat ujungnya. Dana pihak ketiga (DPK) valuta asing (valas) per Juni 2022 tumbuh 4,5% di mana terdapat perpindahan dana dari deposito valas ke giro valas. Hal ini menunjukkan sinyal ekonomi yang terus ekspansi. “Sempat ada kekhawatiran karena bunga acuan tidak naik, dan di luar negeri naik maka uang lari ke luar. Tapi DPK valas naik 4,5%, giro tumbuh 8,9%, tabungan naik 9,8%, deposito valas turun 9,6%. Ada pergeseran dari suku bunga tinggi ke suku bunga rendah, artinya aktivitas ekonomi ini juga menggambarkan yang punya uang siap-siap menggunakan aktivitas ekonomi,” kata Purbaya.
Dia menyebut, likuiditas perbankan dikendalikan oleh Bank Indonesia (BI), di mana saat ini likuiditas di pasar cukup memadai yang tercermin dari pertumbuhan uang primer (M0) 28% dengan alat likuid per DPK (AL/DPK) 29,9% dan AL/NCD 133%. Di samping itu, saat ini LPS sangat sedikit ruang menurunkan tingkat bunga penjaminan. Perbankan juga masih menunda menurunkan suku bunga deposito, padahal lebih menguntungkan jika bank memangkas bunga depositonya.
“Kami monitor masih ada ruang penurunan 50 basis poin (bps), tapi sekarang kami lihat peluang kecil, hanya 10 bps. Untuk ruang bunga penjaminan terbatas, LPS terus mencermati dan mengamati pergerakan deposito dan cost of fund di pasar, kami sesuaikan kebijakan,” urai Purbaya.
Sementara itu, SEVP Treasury PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Branko Windoe mengungkapkan, likuiditas valas apabila terjadi penurunan merupakan hal yang wajar. “Pada kuartal II itu permintaan valas cenderung besar, utamanya ada hari raya dan pembayaran schedule pinjaman luar negeri di kuartal II. Dan juga musim dividen, pemilik asing convert dari rupiah ke dolar AS,” kata Branko.
Dia melihat likuiditas valas saat ini masih sangat memadai. Adanya perpindahan simpanan valas dari deposito ke giro maupun tabungan dipengaruhi oleh keputusan nasabah dan juga hal yang normal. Sebab, ada kemungkinan pemilik dana mulai menggunakan dananya untuk konsumsi atau ekspansi usaha. Selain itu, perpindahan dana dari deposito ke giro atau tabungan terjadi karena pemilik dana mengincar suku bunga yang lebih tinggi. “Mereka melihat ada peningkatan suku bunga di lain hari, jadi mereka roll over simpan di tabungan, ketika bunga naik pindah ke deposito lagi. Kalau di-lock di deposito, bunganya nyangkut (tidak ikut naik),” jelas dia.
Branko juga menilai likuiditas setiap bank berbeda, ada yang sangat melimpah dan ada yang pas-pasan. Namun, bagi bank yang membutuhkan likuiditas tentunya akan mencari tambahan likuiditas ke pasar uang antarbank, dan hal ini juga normal.
Editor: Thomas Harefa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






