Jumat, 15 Mei 2026

Laba Bersih Himbara Mencapai Rp 107 T

Penulis : Nida Sahara
21 Feb 2023 | 05:00 WIB
BAGIKAN
Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara)
Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara)

JAKARTA, investor.id – Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) berhasil membukukan laba bersih secara individual sebesar Rp 107,09 triliun sepanjang 2022, melesat 51,51% dibandingkan dengan Rp 70,68 triliun pada 2021. Dari empat bank pelat merah, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) masih menjadi bank dengan laba terbesar, baik di Himbara maupun secara nasional.

Apabila dirinci, secara bank only laba bersih BRI yang diatribusikan ke pemilik mencapai Rp 47,83 triliun pada 2022, tumbuh 48,49% secara year on year (yoy). Posisi kedua adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan laba bersih Rp 37,69 triliun, meningkat 48,33% dibandingkan Rp 25,41 triliun pada 2021.

Di posisi ketiga, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang mengantongi laba bersih secara bank only Rp 18,53 triliun pada 2022, tumbuh 73,34% (yoy). Kemudian, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) berada di urutan keempat, dengan laba bersih sepanjang 2022 sebesar Rp 3,04 triliun, meningkat 28,27% dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar Rp 2,37 triliun.

ADVERTISEMENT

Kuartet bank pelat merah tersebut mencatatkan pertumbuhan laba yang signifikan. Namun, untuk tahun ini diperkirakan tidak akan setinggi pencapaian tahun 2022. “Tahun ini (laba Himbara) melambat lah melambat, tidak setinggi tahun (2022). Meningkat tajam, tapi tidak setinggi tahun ini (2022),” kata Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo ditemui Investor Daily, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Tahun ini, BRI memproyeksikan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) berada di level 7,7% hingga 7,9%, dengan pertumbuhan kredit 10-12% (yoy). Biaya kredit (cost of credit) dijaga pada level 2,2-2,4% di 2023. Direktur Utama BRI Sunarso memastikan bahwa laba BRI tidak hanya dikontribusikan dari NIM saja Di samping efisiensi yang dilakukan, berdasarkan data historis BRI, tidak ditemukan korelasi positif antara besaran NIM dengan pencapaian laba BRI.

“Namun, faktor utama yang mempengaruhi laba BRI adalah pertumbuhan volume kredit dan juga peningkatan jumlah nasabah yang dilayani, terutama nasabah mikro,” ujar Sunarso.

Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi juga menyebut, pencapaian laba turut didukung oleh fungsi intermediasi yang semakin positif. Hal ini menunjang laba bersih yang mengalami perbaikan dari tahun ke tahun kendati diterpa ketidakpastian ekonomi global. “Laba tersebut tentunya semakin memperkuat permodalan Bank Mandiri sebagai faktor utama untuk memiliki kemampuan dalam melakukan ekspansi bisnis, terutama mendukung fungsi intermediasi dalam menyalurkan kredit,” imbuh Darmawan.

Tahun ini Bank Mandiri mengincar kredit tumbuh 10-12% (yoy). Dengan NIM di kisaran 5,3-5,6% dan credit cost di level 1,3-1,5% pada akhir 2022.

Terpisah, Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengatakan, hasil kinerja yang positif berdampak pada pre-provisioning operating profit (PPOP) yang dibukukan sebesar Rp 34,4 triliun atau tumbuh 10,8% (yoy). Tahun ini BNI mengincar kredit tumbuh 7-9% dengan NIM berkisar 4,5-4,7%. “Laba bersih ini adalah tertinggi sepanjang sejarah dan berada di atas ekspektasi pasar,” ungkap Royke.

Berikutnya, BTN juga memasang target pertumbuhan laba tahun ini skitar 10-11% (yoy), sejalan dengan target pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang juga 10-11% (yoy). “Tumbuh sejalan dengan ekspansi, ya kalau tumbuh 11%. Mudah-mudahan (laba) bisa lebih dari itu,” ujar Direktur Utama BTN Haru Koesmahargyo.

Konsolidasian

Kemudian, apabila dilihat secara konsolidasian, laba bersih Himbara yang diatribusi kepada pemilik mencapai Rp 113,69 triliun per akhir 2022, meningkat 57,09% dari tahun sebelumnya Rp 72,37 triliun. BRI masih menjadi jawara bank dengan cuan paling besar, yakni Rp 51,17 triliun melesat 64,69% dibandingkan Rp 31,07 triliun pada 2021.

Diikuti oleh Bank Mandiri pada posisi runner up dengan laba bersih konsolidasi tahun buku 2022 sebesar Rp 41,17 triliun, meningkat 46,88% dibandingkan Rp 28,03 triliun pada 2021. Posisi ketiga adalah laba bersih konsolidasi BNI yang mencapai Rp 18,31 triliun, tumbuh paling tinggi di antara bank BUMN lainnya, yakni 67,98% dibandingkan posisi 2021 yang senilai Rp 10,9 triliun. Terakhir, BTN dengan laba bersih sebesar Rp 3,04 triliun, meningkat dari posisi laba bersih 2021 sebesar Rp 2,37 triliun.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia