Hipmi: Bunga Kredit Harus Diturunkan, terutama Kredit Produktif
JAKARTA, investor.id – Ketua Umum Hipmi, Akbar Himawan Buchari menuturkan, tren kenaikan suku bunga acuan The Fed yang agresif belakangan ini membuat bank sentral dari berbagai negara ikut menaikkan suku bunga acuan, termasuk Bank Indonesia (BI).
Jika The Fed masih akan kembali menaikkan suku bunga acuan beberapa kali tahun ini, lanjut dia, kemungkinan BI akan mengikuti dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25-50 bps. Indonesia, lanjut dia, memiliki hubungan perdagangan dan investasi yang signifikan dengan Amerika Serikat.
“Namun demikian, tingkat bunga kredit di Indonesia memang masih harus diturunkan terutama kredit produktif guna mendorong serta mempertahankan momentum dalam rangka pemulihan ekonomi nasional,” kata Akbar kepada Investor Daily, baru-baru ini.
Di sisi lain, kata dia, perlu diingat bahwa suku bunga yang rendah juga dapat berdampak pada meningkatnya risiko kredit dan perbankan. “Karena itu, harus ada tindak lanjut kerja sama dengan pengusaha di daerah untuk menjaga iklim investasi, inflasi tetap rendah, dan stabilitas nilai tukar rupiah,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP REI Paulus Totok Lusida menyatakan, bunga kredit bank seharusnya dapat diturunkan. Untuk itu, kalangan pengusaha bisa duduk bersama dengan perbankan.
“Seharusnya suku bunga dapat diturunkan dari sekitar 11-12% untuk kredit konstruksi misalnya, menjadi maksimal 9%. Memang ekonomi makro kita bagus, tapi mikro banyak yang parah, seperti di sektor properti yang high-rise building, juga perhotelan belum sepenuhnya pulih,” ucap Paulus kepada Investor Daily.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






