Jumat, 15 Mei 2026

BRI (BBRI) Raup Laba Bersih Rp 31,4 Triliun pada Juli 2024

Penulis : Prisma Ardianto
1 Sep 2024 | 19:03 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI. (Foto: istimewa)
Ilustrasi PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI. (Foto: istimewa)

JAKARTA, investor.id – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI meraup laba bersih tahun berjalan secara individu mencapai Rp 31,41 triliun pada Juli 2024. Angka itu tumbuh tipis 1,79% secara year on year (yoy).

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, laba bersih BBRI pada Juli 2024 tertekan sejumlah faktor yang antara lain beban bunga dan biaya provisi yang masih melambung tinggi. Sedangkan kredit yang disalurkan hanya tumbuh single digit.

Kredit yang disalurkan BRI sampai dengan Juli 2024 mencapai Rp 1.203,85 triliun. Sebagai perbandingan, kredit dari induk Holding Ultra Mikro (UMi) ini bertumbuh 8,59% (yoy) dari Juli 2023 yang sebesar Rp 1.108,59 triliun.

ADVERTISEMENT

Kendati demikian, pendapatan bunga dari bisnis kredit BRI tersebut meningkat 14,46% (yoy) menjadi Rp 94,60 triliun. Sayangnya, tren beban bunga masih lanjut menekan karena tercatat melonjak 47,46% menjadi Rp 30,23 triliun.

Hasilnya, pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) cuma bergerak sedikit yaitu 3,57% secara tahunan menjadi Rp 64,37 triliun.

Kinerja keuangan BBRI selanjutnya masih pos pendapatan berbasis komisi yang naik 8,48%, dengan nominal mencapai Rp 12,71 triliun. BRI juga mencatat pendapatan lainnya yang naik tinggi 39,49% menjadi Rp 13,41 triliun.

Adapun faktor penekan lainnya adalah pos kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) atau biaya provisi yang melambung hingga 58,54% menjadi Rp 23,02 triliun. Sehingga pada akhirnya laba operasional hanya bisa naik sedikit 2,15% menjadi Rp 39,48 triliun.

Rasio CASA Turun

Terlepas dari sejumlah faktor yang meredam perolehan laba bersih BRI, terdapat tantangan lain yang tengah perseroan hadapi. Persoalan yang dimaksud adalah menurunnya rasio dana murah (current account saving account/CASA). Memang bukan satu-satunya faktor yang bisa menekan sisi profitabilitas, tapi patut menjadi perhatian

Rasio CASA dari BBRI bergerak turun sampai 129 basis points (bps). Sebagai perbandingan, Rasio CASA pada Juli 2023 sebesar 64,66%, kemudian turun menjadi 63,37% pada Juli 2024.

Pengaruh utamanya yaitu kebijakan BRI untuk memacu pendanaan dari deposito, dimana instrumen ini tercatat mencapai Rp 506,64 triliun atau meningkat 16,63%. Sementara total pendanaan yang masuk dalam kategori CASA tumbuh tapi lebih rendah yakni 10,25% menjadi Rp 876,41 triliun.

Jika dirinci, giro BRI memang tumbuh tinggi 25,24% menjadi Rp 357,76 triliun. Namun, dana masyarakat yang ada pada instrumen tabungan di BRI cuma naik 1,84% menjadi Rp 518,64 triliun.

Dengan demikian, total dana pihak ketiga (DPK) BRI masih tumbuh 12,50% menjadi Rp 1.383,05 triliun pada Juli 2024. Peningkatan DPK yang lebih tinggi dari kredit yang disalurkan jadi modal penting untuk ekspansi kredit ke depan.

Sementara itu, total aset BRI pada Juli 2024 mencapai Rp 1.825,41 triliun atau tumbuh 9,30%. Liabilitas naik 10,80% menjadi sebesar Rp 1.529,65 triliun. Sedangkan ekuitas naik sedikit 2,17% menjadi Rp 295,75 triliun.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 26 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia