Jumat, 15 Mei 2026

Dua Alasan Kinerja Kredit Jadi Melandai

Penulis : Rama Sukarta
25 Apr 2025 | 16:29 WIB
BAGIKAN
Pegawai bank sedang mengecek ketersediaan uang tunai. (Foto: Bank Mandiri)
Pegawai bank sedang mengecek ketersediaan uang tunai. (Foto: Bank Mandiri)

JAKARTA, investor.id – Kinerja kredit perbankan tumbuh melambat pada Maret 2025. Beberapa alasannya adalah terjadi normalisasi efek pemilu pada tahun lalu dan adanya kecenderungan pelaku usaha menahan ekspansi.

Mengacu data Bank Indonesia (BI), pertumbuhan kredit hingga Maret 2025 mencapai 9,16% secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Maret 2024 yang sebesar 12,4% yoy maupun dibandingkan perkembangan Februari 2025 sebesar 10,3% yoy.

Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang menjelaskan bahwa penurunan pertumbuhan kredit perbankan ke level single digit bukanlah tanpa alasan. Setidaknya ada dua alasan yang bisa menerangkan kondisi tersebut dari sisi permintaan kredit (credit demand).

ADVERTISEMENT

Pertama, periode awal tahun 2024 lalu terdapat dorongan Pemilu sehingga ikut mengerek pertumbuhan kredit. Permintaan kredit khususnya sebelum Pemilu cukup tinggi, sebagai antisipasi pelaku usaha atas risiko ketidakpastian yang timbul dari pemerintahan baru.

“Dan kita lihat, jadinya saat ini sebenarnya sedang ke arah normalisasi. Jadi kalau tahun lalu tumbuhnya cenderung lebih tinggi, maka di tahun ini seolah-olah tercatat melandai untuk pertumbuhan kreditnya, gitu. Ini yang kita lihat yang pertama adalah dari sisi normalisasi,” ucap Hosianna, Jumat (25/4/2025).

Kedua, kombinasi antara penurunan jumlah kelas menengah dan kondisi terkini dari dunia usaha. Hosiana mengatakan, saat ini banyak perusahaan yang menahan diri untuk melakukan ekspansi.

Dia pun berharap pelambatan kinerja kredit di awal tahun 2025 ini terjadi sementara waktu saja. Sebab, perlu juga dicermati kelanjutan dari kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) ke depan, yang berpotensi memperburuk situasi perekonomian global dan domestik.

“Harapannya adalah nanti selanjutnya di paruh kedua tahun ini pertumbuhan kreditnya bisa kembali normal di double digit,” pungkas Hosianna.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 43 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 45 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia