Kamis, 14 Mei 2026

Kinerja Moncer, Bank INA (BINA) Optimistis Tapi Tetap Prudent

Penulis : Nida Sahara
14 Mei 2026 | 10:06 WIB
BAGIKAN
(kiri-kanan) Direktur Manajemen Risiko dan Kepatuhan Bank INA Adhiputra Tanoyo, Direktur Utama Bank INA Henry Koenaifi, Wakil Direktur Utama Bank INA Yulius Purnama Junaedi, dan Direktur Keuangan Bank INA Kiung Hui Ngo pada konferensi pers Public Expose 2026, di Jakarta, Rabu (13/5/2026). (Investor Daily/Nida Sahara).
(kiri-kanan) Direktur Manajemen Risiko dan Kepatuhan Bank INA Adhiputra Tanoyo, Direktur Utama Bank INA Henry Koenaifi, Wakil Direktur Utama Bank INA Yulius Purnama Junaedi, dan Direktur Keuangan Bank INA Kiung Hui Ngo pada konferensi pers Public Expose 2026, di Jakarta, Rabu (13/5/2026). (Investor Daily/Nida Sahara).

JAKARTA, investor.id - PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) membukukan kinerja keuangan positif pada kuartal I-2026. Perseroan melihat kinerja tahun ini dengan optimistis, namun dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Pada posisi akhir Maret 2026, bank yang merupakan bagian dari Grup Salim ini membukukan laba bersih Rp52,98 miliar, melonjak 268% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut didukung oleh pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang tumbuh 8,39% (yoy) menjadi Rp172,53 miliar. Kemudian pendapatan operasional selain bunga melonjak 600,76% (yoy) menjadi Rp 104,11 miliar.

Dari sisi intermediasi, BINA menyalurkan kredit sebesar Rp14,78 triliun, tumbuh 10,35% (yoy), lebih tinggi dari industri yang tumbuh 9,49% (yoy) pada Maret 2026. Pertumbuhan kredit Bank INA didukung oleh penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang sebesar Rp23,03 triliun, melesat 21,51% (yoy). 

ADVERTISEMENT

Peningkatan DPK yang tinggi utamanya didorong oleh dana murah (current account saving account/CASA) yang meningkatkan 71,93% (yoy) menjadi Rp10,03 triliun pada kuartal I-2026. Sementara itu, total aset perseroan tercatat Rp31,29 triliun, tumbuh 26,69% (yoy).

Direktur Utama Bank INA Henry Koenaifi mengatakan, memasuki tahun 2026, perseroan terus melangkah maju dengan optimisme tinggi untuk menjadi solusi perbankan sesuai kebutuhan nasabah.

"Kami akan fokus menyempurnakan strategi hybrid banking karena kami yakin bahwa perpaduan antara layanan digital dan kehadiran kantor fisik yang mudah dijangkau adalah kunci untuk memberikan solusi keuangan yang aman, cepat, dan nyaman bagi seluruh segmen nasabah, mulai dari individual hingga korporasi," ungkap Henry dalam konferensi pers, Rabu (13/5/2026).

Perseroan memiliki likuiditas yang sangat longgar, terlihat dari loan to deposit ratio (LDR) sebesar 59,03% per Maret 2026, lebih rendah dari periode Maret 2025 sebesar 64,96%. Hal ini menunjukkan perseroan masih memiliki ruang untuk ekspansi ke depannya dengan tetap memperhatikan kondisi ekonomi.

Sementara itu, Wakil Direktur Utama Bank INA Yulius Purnama Junaedi menjelaskan bahwa perseroan dalam posisi optimis tapi juga berhati-hati. "Prinsip kami adalah memberikan kredit dengan hati-hati," jelas dia.

Menurut dia, menurunnya LDR menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap Bank INA, yang terlihat dari lonjakan pertumbuhan DPK pada Maret 2026 sebesar 21%. Hal ini yang membuat rasio LDR cenderung menurun, namun pertumbuhan kredit juga masih tumbuh dua digit.

"Jadi kami sangat bersyukur dengan kepercayaan datang dari masyarakat, sehingga mereka mau simpan dana di Bank INA. Karena untuk kredit kami tetap optimis tapi juga hati-hati, dan kami menunjukkan dengan peningkatan yang cukup baik," ungkap Yulius.

Jaga Kualitas

Editor: Nida Sahara

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 13 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 24 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 53 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia