Tarif Trump Sulut Risiko Penurunan Premi hingga Peningkatan Klaim Asuransi
JAKARTA, investor.id – IFG Progress dalam riset terbarunya menyatakan bahwa penetapan tarif tinggi oleh Presiden Amerika (AS) Donald Trump ke banyak negara menimbulkan ketidakpastian sehingga meningkatkan risiko bagi sektor perasuransian. Asuransi akan menghadapi risiko penurunan premi, peningkatan klaim, dan tekanan pada hasil investasi.
Riset yang dimaksud dituangkan oleh Tim IFG Progress yaitu Ibrahim Kholilul Rohman, Ezra Pradipta Hafidh, Rosi Melati, Nada Serpina, dan Kleovan Nathanael Gunawan dengan judul Mapping Trump’s Tariff Policy Impact on Indonesia’s Insurance Sector. Menurut IFG Progress, rencana kebijakan tarif tinggi yang akan diterapkan oleh Trump telah memicu ketidakpastian ekonomi global dan menekan ekspor utama Indonesia.
“Kondisi ini berpotensi berdampak pada industri asuransi,” ungkap IFG Progress seperti dikutip pada Kamis (29/5/2025).
Terdapat sejumlah sektor dengan hubungan langsung dengan jasa asuransi diperkirakan kena tekanan signifikan atas risiko tarif tinggi tersebut, yaitu
Selanjutnya, tarif tinggi Trump diperkirakan memberi tekanan signifikan ke sejumlah sektor yang berhubungan dengan jasa asuransi, seperti: perbankan; perdagangan besar dan eceran – reparasi mobil dan motor; industri pengolahan; pertambangan dan penggalian; informasi dan komunikasi; real estate; serta transportasi dan pergudangan.
Tekanan ke sejumlah sektor itu yang selanjutnya akan berpotensi menekan kinerja lini bisnis asuransi. Misalnya, tekanan pada sektor perbankan berdampak pada lini bisnis asuransi kredit melalui penurunan premi dan kenaikan potensi klaim gagal bayar.
Sektor perdagangan kendaraan bermotor dan industri pengolahan menurunkan permintaan terhadap asuransi kendaraan bermotor dan marine cargo. Tekanan ke sektor pertambangan yang mengurangi aktivitas operasional termasuk utilisasi alat berat. Lalu akan berimplikasi pada pendapatan asuransi rekayasa dan asuransi kendaraan, serta meningkatkan risiko klaim.
Kemudian pada sektor informasi dan komunikasi juga berpotensi akan terdampak, terutama melalui penundaan proyek infrastruktur dan peluncuran satelit. Pada gilirannya, dapat menyebabkan penurunan permintaan terhadap asuransi properti dan satelit.
Sektor real estate, transportasi dan pergudangan juga mengalami tekanan yang akan berdampak pada lini bisnis properti, suretyship, liability, dan marine cargo. Dari sisi asuransi jiwa, tekanan daya beli dan volatilitas pasar keuangan dapat menurunkan premi dan hasil investasi.
“Secara keseluruhan, industri asuransi menghadapi risiko penurunan premi, peningkatan klaim, dan tekanan pada hasil investasi akibat ketidakpastian yang ditimbulkan oleh kebijakan tarif Trump tersebut,” jelas IFG Progress.
Kebijakan tarif AS memang tidak memberi dampak langsung ke industri perasuransian Indonesia, apalagi pasar asuransi domestik punya tingkat penetrasi yang relatif rendah. Namun demikian, tekanan eksternal seperti kebijakan tarif itu patut untuk tetap diwaspadai.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






