Sabtu, 4 April 2026

Fed: Bank-Bank Besar AS Bisa Atasi Penurunan Ekonomi yang Parah

Penulis : Grace El Dora
24 Jun 2022 | 07:21 WIB
BAGIKAN
Logo The Fed pada  Gedung Dewan Federal Reserve di Washington, DC., Amerika Serikat (AS). (Foto: AFP)
Logo The Fed pada Gedung Dewan Federal Reserve di Washington, DC., Amerika Serikat (AS). (Foto: AFP)

WASHINGTON, investor.id – Bank-bank terbesar yang beroperasi di pasar Amerika Serikat (AS) dinilai memiliki sumber daya yang cukup untuk menahan dan mengatasi penurunan ekonomi yang parah. Federal Reserve (Fed) mengatakan bahwa bank-bank tersebut bisa terus memberikan pembiayaan kepada keluarga dan perusahaan Amerika.

The Fed menyebutkan latihan “stress test” tahunan 33 bank AS, untuk mengukur apakah mereka akan mampu menghadapi resesi global yang curam.

Pada krisis hipotetis, pasar keuangan anjlok, real estat komersial maupun pasar utang perusahaan menghadapi tekanan besar, pengangguran AS mencapai 10%, sedangkan ekonomi berkontraksi 3,5%.

Advertisement

“(Hasil) menunjukkan bahwa bank terus memiliki tingkat modal yang kuat, memungkinkan mereka untuk terus memberikan pinjaman kepada rumah tangga dan bisnis selama resesi yang parah,’ kata The Fed, Jumat (24/6).

Skenario untuk pengujian tahun ini bahkan lebih suram daripada yang digunakan tahun lalu, tetapi hasilnya sama. Semuanya menunjukkan bahwa semua bank akan mempertahankan secamam bantalan yang cukup meskipun total kerugian yang diproyeksikan sebesar US$ 612 miliar, menurut laporan itu.

“Meskipun penurunan pasca stres yang lebih besar tahun ini ... rasio modal tetap jauh di atas tingkat minimum yang diperlukan sepanjang proyeksi cakrawala (dari sembilan kuartal),” kata laporan itu.

Stress test, yang diterapkan setelah krisis keuangan global 2008, berlaku untuk bank dengan aset total setidaknya US$ 100 miliar, termasuk bank tingkat atas yang ditetapkan sebagai bank penting secara global.

Bank-bank kecil hanya menjalani stress test setiap dua tahun sekali, sehingga hasilnya tidak berbanding lurus dengan hasil 2021 yang menguji 23 institusi.

Di antara bank-bank yang diperiksa dalam kedua tahun tersebut, ada tambahan kerugian US$ 50 miliar di bawah skenario yang lebih ketat, kata seorang pejabat Fed kepada wartawan. Namun, pejabat tersebut menekankan bahwa kasus mengerikan yang diterapkan hanya hipotetis dan bukan perkiraan.

Dengan hasil di tangan, bank dapat mengumumkan rencana pembayaran dividen dan pembelian kembali (buyback) saham mulai Senin pada 2030 GMT, kata pejabat itu.

The Fed memerintahkan pembatasan distribusi semacam itu pada Juni 2020 karena pandemi virus corona menyebabkan penurunan ekonomi yang tajam, tetapi melonggarkan pembatasan pada Desember 2020 sebelum menghapusnya setelah tes tahun lalu.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 4 menit yang lalu

Operator Transportasi Antisipasi Libur Panjang Paskah

Sejumlah operator transportasi mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat pada libur panjang Hari Raya Paskah 2026.
International 7 menit yang lalu

12 RT dan 4 Ruas Jalan di Jakbar Terendam Banjir

Banjir rendam 12 RT di Jakarta Barat akibat luapan Kali Angke dan Pesanggrahan. BPBD DKI siagakan personel untuk penyedotan genangan air.
Market 16 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Sabtu 4 April 2026: Kokoh

​​​​​​​Harga emas Antam (ANTM) terpantau kokoh pada hari ini, sabtu (4/4/2026). Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 20 menit yang lalu

Masuk Saham Terkonsentrasi Tinggi, Laba Samator (AGII) Merosot

Laba bersih Samator Indo Gas (AGII) merosot 44,37% pada 2025, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
International 28 menit yang lalu

Kadin: Perang Lumpuhkan Ekonomi Timur Tengah, Biaya Kirim Melonjak 3 Kali

Kadin ungkap dampak perang Iran-AS: Biaya logistik naik 3 kali lipat & pengiriman barang molor hingga 2 bulan. Cek dampaknya bagi Indonesia.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Komitmen Investasi Rp574 Triliun dari Jepang dan Korsel

Dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, Indonesia masih menjadi daya tarik bagi para investor dari Jepang maupun Korsel.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia