Menu
Sign in
@ Contact
Search
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen berbicara tentang keadaan ekonomi AS selama konferensi pers di Departemen Keuangan di Washington, AS pada 28 Juli 2022. (FOTO: SAUL LOEB / AFP)

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen berbicara tentang keadaan ekonomi AS selama konferensi pers di Departemen Keuangan di Washington, AS pada 28 Juli 2022. (FOTO: SAUL LOEB / AFP)

Janet Yellen: Risiko Resesi AS Jelas Ada

Senin, 12 September 2022 | 08:54 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

WASHINGTON, investor.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) menghadapi risiko resesi karena pertempuran Federal Reserve (The Fed) melawan inflasi dapat memperlambat ekonomi negara itu. Tetapi penurunan yang serius masih dapat dihindari, kata Menteri Keuangan Janet Yellen.

“(Resesi Amerika) adalah risiko ketika The Fed memperketat kebijakan moneter untuk mengatasi inflasi,” kata pemimpin Presiden AS Joe Biden terkait kebijakan keuangan, ekonomi, dan pajak kepada CNN, Minggu (11/9). Ia mengacu pada Federal Reserve AS.

Baca juga: Perangi Inflasi, ECB Ikut Naikkan Suku Bunga 75 Basis Poin

“Jadi tentu saja risiko yang kami pantau (tetapi) kami memiliki pasar tenaga kerja yang kuat dan bagus, dan saya yakin itu mungkin untuk dipertahankan,” tambah Yellen, dilansir dari AFP Senin (12/9).

Ekonomi AS dihadapkan dengan inflasi yang melonjak, mencapai level tertinggi dalam 40 tahun pada Juni 2022 di level 9,1% sebelum turun tipis sebulan setelahnya. Bank sentral secara bertahap menaikkan suku bunga utamanya untuk mengurangi tekanan pada indeks harga konsumen (CPI), sambil berharap langkah tersebut tidak menggagalkan ekonomi terbesar di dunia itu.

Bank komersial menggunakan suku bunga utama Fed untuk menetapkan ketentuan suku bunga yang mereka tawarkan kepada klien individu dan korporat mereka. Tarif yang lebih tinggi akan mengurangi konsumsi dan investasi.

Baca juga: Pasar Bersiap untuk 75 Bps Lagi dari The Fed

Tantangan bagi regulator adalah untuk memadamkan inflasi sebelum menjadi berbahaya, tetapi tanpa mengirim ekonomi AS ke dalam resesi yang akan bergema di seluruh dunia.

“Inflasi terlalu tinggi, dan penting bagi kita untuk menurunkannya,” kata Yellen.

The Fed bertujuan untuk “pendaratan lunak”, membawa inflasi kembali ke tujuannya 2% tanpa resesi. Namun langkah ini dapat menyebabkan pengangguran melonjak.

“Saya percaya ada jalan untuk mencapai itu (target suku bunga). Dalam jangka panjang, kita tidak bisa memiliki pasar tenaga kerja yang kuat tanpa inflasi terkendali,” kata Yellen.

Sementara produk domestik bruto (PDB) Amerika mengalami kontraksi pada dua kuartal pertama tahun ini, sesuai dengan definisi klasik dari resesi, Yellen kembali menekankan bahwa ini tidak terjadi.

“Kita tidak dalam resesi. Pasar tenaga kerja sangat kuat ... Ada hampir dua lowongan pekerjaan untuk setiap pekerja yang mencari pekerjaan,” tekannya.

Baca juga: Penyesuaian Tarif BBM Naikkan Inflasi Tahun Ini 1,8-2,2%

Angka pekerjaan memang tetap ketat, dengan kekurangan tenaga kerja yang signifikan.

Pengangguran sedikit meningkat pada Agustus 2022 menjadi 3,7%. Sebagian karena lebih banyak orang yang berpartisipasi dalam angkatan kerja, yang menjadi sebuah tanda bahwa banyak orang yang tidak bekerja karena pandemi Covid-19 kembali memukul pasar tenaga kerja.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : AFP

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com