Menu
Sign in
@ Contact
Search
Federal Reserve berkomitmen untuk terus menaikkan suku bunga guna menurunkan inflasi yang melonjak di Amerika Serikat. (FOTO: AFP/Jim Watson)

Federal Reserve berkomitmen untuk terus menaikkan suku bunga guna menurunkan inflasi yang melonjak di Amerika Serikat. (FOTO: AFP/Jim Watson)

Kenaikan Suku Bunga Fed Masih akan Tetap Agresif

Kamis, 22 Sep 2022 | 19:02 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

WASHINGTON, investor.id – Federal Reserve (Fed) pada menaikkan suku bunga acuan sebesar tiga perempat poin persentase atau 75 basis poin (bps). Bank sentral tersebut mengindikasikan kenaikan suku bunga masih akan terus agresif, mendaki jauh di atas level saat ini.

Seiring dengan kenaikan suku bunga besar-besaran, pejabat Fed mengisyaratkan niat untuk terus menaikkan sampai tingkat dana mencapai apa yang disebutnya tingkat terminal, atau titik akhir, sebesar 4,6% pada 2023. Itu menyiratkan kenaikan suku bunga seperempat poin persentase atau 25 bps tahun depan, tetapi tidak ada penurunan.

Ini menjadi upaya Fed untuk menurunkan inflasi yang mendekati level tertinggi sejak awal 1980-an. Hingga hari ini, bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut menaikkan suku bunga dana federal dari kisaran 2,25%-2,50% menjadi kisaran 3,0%-3,25% atau level tertinggi sejak awal 2008, menyusul kenaikan 75 bps ketiga berturut-turut.

Baca juga: Inilah 4 Hal yang Lebih Mahal di AS Jika Suku Bunga Naik

Advertisement

Pasar saham naik turun setelah pengumuman tersebut. Indeks Dow Jones Industrial Average baru-baru ini turun sedikit. Pasar bergerak mixed ketika Gubernur Fed Jerome Powell membahas prospek suku bunga dan ekonomi.

Trader khawatir bahwa Fed tetap bersikap hawkish lebih lama dari yang diantisipasi beberapa orang. Proyeksi dari pertemuan tersebut menunjukkan bahwa The Fed akan menaikkan suku setidaknya 1,25 poin persentase atau 125 bps dalam dua pertemuan tersisa tahun ini.

Pesan Utama Tidak Berubah

“Pesan utama saya tidak berubah sejak (simposium) Jackson Hole,” kata Powell, setelah pertemuan beberapa waktu lalu. Ia merujuk pada pidato kebijakannya di tengah simposium tahunan The Fed pada Agustus 2022 di Wyoming, AS.

“FOMC sangat bertekad untuk menurunkan inflasi menjadi 2% dan kami akan terus melakukannya sampai pekerjaan selesai,” tuturnya.

Kenaikan suku bunga yang dimulai pada Maret 2022, dari titik mendekati nol, menandai pengetatan Fed paling agresif sejak mulai menggunakan overnight funds rate sebagai alat kebijakan utamanya pada 1990. Satu-satunya perbandingan adalah pada 1994, ketika Fed menaikkan suku bunga hingga total 2,25 poin persentase atau 225 bps.

Baca juga: Suku Bunga Naik Bisa Picu Krisis Likuiditas dan Penurunan Harga Saham Global

Tanpa Penurunan

Plot dari ekspektasi anggota individu tidak mengarah pada penurunan suku bunga hingga 2024. Powell dan rekan-rekannya telah menekankan dalam beberapa pekan terakhir bahwa penurunan suku bunga tidak mungkin terjadi tahun depan, karena pasar telah menetapkan harga.

Anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengindikasikan bahwa mereka mengharapkan kenaikan suku bunga memiliki konsekuensi.

Dalam pembaruan triwulanan perkiraan untuk tingkat bunga dan data ekonomi, para pejabat bersatu di sekitar ekspektasi untuk tingkat pengangguran naik menjadi 4,4% pada tahun depan dari 3,7% saat ini. Peningkatan sebesar itu kerap disertai dengan resesi.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : CNBC

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com