Sanksi Minyak Rusia Segera Berlaku, Bisa Sangat Mengganggu Pasar
WASHINGTON, investor.id – Sanksi yang akan datang terhadap minyak Rusia akan benar-benar mengganggu pasar energi, jika negara-negara Eropa gagal menetapkan batas harga, menurut perkiraan analis.
Ke-27 negara Uni Eropa (UE) pada Juni 2022 sepakat untuk melarang pembelian minyak mentah Rusia yang berlaku mulai 5 Desember. Secara praktis, UE bersama dengan Amerika Serikat (AS), Jepang, Kanada, dan Inggris ingin memangkas pendapatan minyak Rusia secara drastis dalam upaya menguras peti perang Kremlin setelah serangannua ke Ukraina.
Namun, kekhawatiran bahwa larangan total akan membuat harga minyak mentah melonjak membuat negara-negara G7 mempertimbangkan untuk menetapkan batas jumlah yang akan dibayarkan untuk minyak Rusia.
Larangan langsung terhadap impor Rusia bisa benar-benar mengganggu pasar, menurut direktur energi, iklim, dan sumber daya di konsultan risiko politik Eurasia Group Henning Gloystein.
Potensi kenaikan harga minyak adalah alasan adanya tekanan dari AS untuk menyepakati batas, kata Gloystein, dilansir dari CNBC pada Jumat (2/12).
Batas harga akan membuat negara-negara G7 membeli minyak Rusia dengan harga lebih rendah, dalam upaya mengurangi pendapatan minyak Rusia tanpa menaikkan harga minyak mentah di seluruh dunia.
Namun, negara-negara UE telah berselisih selama beberapa hari mengenai tingkat yang tepat untuk membatasi harga.
Batasan yang Tepat
Sebuah usulan yang dibahas awal pekan ini menyarankan batas US$ 62 per barel. Tetapi Polandia, Estonia, dan Lituania menolak untuk menyetujuinya dengan alasan angka itu terlalu tinggi untuk mengurangi pendapatan Rusia. Negara-negara ini termasuk yang paling vokal dalam mendorong tindakan terhadap Kremlin atas agresinya di Ukraina.
Menteri energi Belanda mengatakan pembatasan harga minyak Rusia adalah langkah selanjutnya yang sangat penting.
“Jika Anda menginginkan sanksi efektif yang benar-benar merugikan rezim Rusia, maka kami memerlukan mekanisme batas minyak ini. Jadi mudah-mudahan kita bisa menyepakatinya secepat mungkin,” kata Menteri Energi Belanda Rob Jetten.
Pada Kamis (1/12), minyak Rusia diperdagangkan sekitar US$ 66 per barel. Pejabat di Kremlin telah berulang kali mengatakan bahwa batasan harga adalah anti persaingan dan mereka tidak akan menjual minyak mereka ke negara-negara yang telah menerapkan batasan tersebut.
Mereka berharap pembeli besar lainnya seperti India dan Tiongkok tidak akan menyetujui batasan tersebut dan akan terus membeli minyak Rusia.
Tiongkok dan India
Negara-negara G7 setuju untuk memberlakukan batasan pada minyak Rusia pada September dan telah mengerjakan rinciannya sejak saat itu. Pada saat itu, kepala energi UE Kadri Simson mengatakan dirinya berharap Tiongkok dan India juga akan mendukung batas harga tersebut.
Kedua negara meningkatkan pembelian minyak Rusia mereka setelah serangan Rusia ke Ukraina, mendapatkan keuntungan dari potongan harga. Partisipasi mereka dipandang penting jika pembatasan minyak Rusia ingin berhasil.
“Tiongkok dan India sangat penting karena mereka membeli sebagian besar minyak Rusia,” kata Jacob Kirkegaard, rekan senior di Peterson Institute For International Economics.
“Namun, mereka tidak akan berkomitmen karena alasan politik, karena pembatasan itu adalah kebijakan yang disponsori AS dan (untuk) alasan komersial, karena mereka sudah mendapatkan banyak minyak murah dari Rusia, jadi mengapa membahayakan itu? Berpikir bahwa mereka akan bergabung secara sukarela selalu naif, karena Ukraina tidak terlalu penting bagi mereka,” jelasnya.
Menteri perminyakan India Shri Hardeep S Puri pada September sempat mengatakan bahwa dirinya memiliki “kewajiban moral” kepada konsumen negaranya. “Kami akan membeli minyak dari Rusia, kami akan membeli dari mana saja,” tambahnya.
Dengan demikian, ada keraguan yang berkembang tentang dampak sebenarnya dari pembatasan terhadap Rusia.
“Sanksi energi terhadap Rusia datang terlambat dan terlalu malu-malu,” kata Guntram Wolff, direktur Dewan Hubungan Luar Negeri Jerman.
“Ini hanyalah kelanjutan dari serangkaian keputusan malu-malu yang tidak menguntungkan. Semakin lama sanksi datang, semakin mudah bagi Rusia untuk menghindarinya,” pungkasnya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






