Stabilkan Pasar Energi, AS Beri Izin Impor Minyak Rusia yang Terjebak di Laut
WASHINGTON, investor.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) secara resmi memberikan izin sementara untuk pembelian minyak mentah asal Rusia yang saat ini sedang tertahan di tengah laut. Langkah mendadak ini diambil sebagai upaya darurat untuk menstabilkan pasar energi global yang sedang bergejolak.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent, melalui unggahannya di platform X, menegaskan kebijakan ini merupakan langkah jangka pendek yang sangat terbatas. Izin ini hanya berlaku bagi muatan minyak yang sudah dalam proses pengiriman (transit), bukan untuk kontrak pembelian baru.
Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat sekitar 124 juta barel minyak asal Rusia yang tersebar di 30 lokasi perairan global per 12 Maret. Jumlah ini setara dengan kebutuhan pasokan dunia untuk lima hingga enam hari ke depan.
"Kenaikan harga minyak saat ini adalah gangguan jangka pendek. Kebijakan ini akan memberikan manfaat besar bagi negara dan ekonomi kita dalam jangka panjang," ujar Bessent seperti dikutip CNBC internasional, Jumat (13/3/2026).
Pasar minyak dunia memang sedang mengalami guncangan hebat sejak pecahnya perang Iran. Harga minyak sempat menyentuh angka US$ 120 per barel pada Senin (9/3/2026).
Meskipun sempat turun, harga patokan global Brent ditutup di level US$ 100 per barel pada Kamis setelah pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, bersumpah untuk tetap menutup Selat Hormuz.
Tetap Menekan Pendapatan Rusia
Meski memberikan kelonggaran, Bessent menjamin bahwa kebijakan ini tidak akan memberikan "keuntungan finansial yang signifikan" bagi pemerintah Rusia. Hal ini dikarenakan sebagian besar pendapatan energi Moskow berasal dari pajak yang dipungut pada titik ekstraksi (saat minyak keluar dari tanah), bukan saat penjualan di tengah laut.
Kementerian Keuangan AS menjelaskan bahwa pengecualian ini mencakup produk minyak mentah Rusia yang telah dimuat ke kapal pada atau sebelum 12 Maret 2026 pukul 00.01 waktu setempat. Adapun tenggat waktu pembelian diberikan hingga 11 April 2026.
Langkah ini diambil di tengah sanksi ketat G7 dan Uni Eropa terhadap Rusia akibat invasi ke Ukraina pada 2022, yang membatasi harga minyak Rusia di level US$ 44,1 per barel.
Langkah Amerika Serikat ini tidak lepas dari tekanan ganda yang menghimpit pasar energi dunia. Pertama, konflik berkepanjangan di Ukraina yang memicu sanksi Barat terhadap sektor energi Rusia sejak 2022. Pada saat itu, Presiden Joe Biden secara resmi melarang impor minyak, gas alam cair (LNG), dan batu bara Rusia ke AS sebagai bentuk sanksi ekonomi.
Kedua, situasi diperburuk oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran. Penutupan Selat Hormuz, sebagai jalur perdagangan minyak paling vital di dunia, telah memutus arus distribusi energi global secara drastis.
Dengan cadangan global yang menipis dan harga yang melambung tinggi, AS terpaksa mengambil langkah pragmatis dengan "mencairkan" stok minyak Rusia yang sudah telanjur berada di perairan internasional guna mencegah resesi ekonomi yang lebih dalam akibat kelangkaan bahan bakar.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






