Jumat, 15 Mei 2026

Fed: Intensitas Laju Suku Bunga AS Bisa Lebih Rendah

Penulis : Grace El Dora
9 Jan 2023 | 10:42 WIB
BAGIKAN
Seorang pejalan kaki melintasi Pennsylvania Avenue saat matahari terbit di atas US Capitol di Washington, Amerika Serikat pada 9 November 2022. (Foto: REUTERS/Tom Brenner/File Foto)
Seorang pejalan kaki melintasi Pennsylvania Avenue saat matahari terbit di atas US Capitol di Washington, Amerika Serikat pada 9 November 2022. (Foto: REUTERS/Tom Brenner/File Foto)

WASHINGTON, investor.id – Presiden Federal Reserve (Fed) Richmond Thomas Barkin mengatakan bank sentral harus terus bekerja untuk menurunkan inflasi, tetapi dapat melakukannya dengan intensitas yang sedikit lebih rendah.

“Kami masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan. Inflasi terlalu tinggi, dan kami harus tetap pada kasus ini sampai secara berkelanjutan kembali ke target 2% kami. Kami telah memperkirakan kenaikan tarif tambahan tahun ini,” kata pejabat bank sentral itu, akhir pekan lalu.

Regulator Fed pada Desember 2022 mengindikasikan pihaknya cenderung menaikkan suku bunga satu poin persentase (100 basis poin/ bps) atau mungkin lebih, sebelum berhenti.

ADVERTISEMENT

Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic pada hari sebelumnya mengatakan bahwa dirinya memperkirakan suku bunga acuan bank sentral naik melewati 5%, dari kisaran target 4,25%-4,5% saat ini.

Barking tidak merinci seberapa tinggi perkiraan suku bunga harus naik. Namun, dia mengatakan The Fed sekarang dapat bergerak lebih hati-hati setelah menaikkan suku bunga secara agresif sebanyak tujuh kali sepanjang 2022.

Saham Wall Street reli karena pertumbuhan upah yang lebih lambat tetapi mengabaikan pesan lain dalam data pekerjaan di Amerika Serikat (AS).

Laporan pekerjaan Desember 2022 menunjukkan ekonomi masih menambahkan pekerjaan pada tingkat yang kuat, namun investor fokus pada fakta bahwa pertumbuhan upah melambat yang menunjukkan inflasi mungkin surut.

Saham AS menguat setelah laporan ketenagakerjaan 8:30 ET menunjukkan ada 223.000 pekerjaan baru pada Desember 2022. Upah per jam rata-rata tumbuh pada laju tahunan sebesar 4,6%, kurang dari 5% yang diharapkan oleh para ekonom.

“Langkah besar adalah fakta bahwa penghasilan per jam rata-rata lebih rendah dari yang diharapkan. Itu menunjukkan investor sangat fokus pada inflasi dan apakah inflasi itu bergerak menuju target Fed,” kata kepala strategi investasi di State Street Global Advisors Michael Arone, Senin (9/1).

Namun dia juga mengingatkan data tersebut bisa bermata dua, karena menunjukkan ekonomi dan lapangan kerja masih kuat. Itu bisa membantu menjaga inflasi tetap tinggi dan membuat Fed mendaki lebih dari yang diharapkan pasar.

Fed selanjutnya akan melakukan pertemuan pada 31 Januari dan 1 Februari 2023. Sementara beberapa ekonom mengantisipasi kenaikan setengah poin persentase atau 50 basis poin (bps) setelah pertemuan itu, trader di pasar berjangka menempatkan peluang lebih besar pada kenaikan 25 bps yang lebih kecil. Adapun basis poin sama dengan 0,01 poin persentase.

“Data seperti hari ini menunjukkan The Fed bisa melakukan 50 basis poin,” kata Arone. Fed yang lebih agresif dapat menciptakan lebih banyak volatilitas pasar.

Bank sentral tersebut telah mencoba untuk memperlambat ekonomi dan pasar tenaga kerja yang panas melalui kenaikan suku bunga, yang telah mengambil kisaran target fed fund rate (FFR) menjadi 4,25% hingga 4,50%.

Chief investment officer di Bleakley Financial Group Peter Boockvar mengatakan ekspektasi pasar tidak berubah setelah laporan pekerjaan AS, sementara kontrak berjangka fed (fed funds futures) untuk Februari 2022 memberi harga kenaikan 32 bps lagi.

“Ini memberi harga peluang 100% dari kenaikan 25 bps, dan peluang 30% untuk tambahan 25. Dana makan puncak masih di 5%” untuk Juli, katanya.

“Pasar masih mengharapkan The Fed naik 60, hampir 70 basis poin lagi,” katanya. Boockvar mengatakan titik akhir untuk kenaikan suku bunga Fed lebih penting daripada jika menaikkan 25 bps atau 50 bps saat pertemuan berikutnya.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 45 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia