Jumat, 15 Mei 2026

Pejabat Fed Lihat Kemungkinan Kenaikan Suku Bunga 50 Bps

Penulis : Grace El Dora
17 Feb 2023 | 10:44 WIB
BAGIKAN
Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis James Bullard. (FOTO: DANIEL ROLAND/AFP/GETTY IMAGES)
Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis James Bullard. (FOTO: DANIEL ROLAND/AFP/GETTY IMAGES)

WASHINGTON, investor.id – Presiden Federal Reserve (Fed) St Louis James Bullard mengatakan dirinya mendorong kenaikan suku bunga yang lebih tinggi pada pertemuan terakhir bank sentral Amerika Serikat (AS). Ia juga mengaku bisa melihat langkah yang lebih agresif ke depan.

Regulator itu mengatakan dirinya menganjurkan kenaikan tarif setengah poin persentase atau 50 basis poin (bps) pada 31 Januari-Februari 2023 dan tidak akan mengesampingkan mendorong untuk satu di sesi Maret 2023.

“Saya adalah pendukung untuk kenaikan 50 bps dan saya berpendapat kita harus mencapai tingkat suku bunga yang dianggap cukup ketat oleh komite secepat mungkin,” kata Bullard dalam pidatonya di Tennessee, dilansir dari Reuters, Jumat (17/2).

ADVERTISEMENT

Presiden Fed Cleveland Loretta Mester juga mengatakan Kamis dirinya menginginkan kenaikan yang lebih tinggi dari seperempat poin persentase atau 25 bps yang disetujui oleh Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Baik Mester maupun Bullard tidak memberikan suara tahun ini di FOMC.

Bullard menambahkan dirinya melihat tren ekonomi yang lebih besar bergerak menuju disinflasi, terlepas dari pembacaan inflasi yang tinggi baru-baru ini.

“Sebagian karena kebijakan Fed yang dimuat di depan selama 2022, ukuran ekspektasi inflasi berbasis pasar sekarang relatif rendah,” kata Bullard.

“Kenaikan suku bunga kebijakan yang berkelanjutan dapat membantu mengunci tren disinflasi selama 2023, bahkan dengan pertumbuhan yang sedang berlangsung dan pasar tenaga kerja yang kuat, dengan menjaga ekspektasi inflasi tetap rendah,” tambahnya.

Komentar itu muncul terlepas dari rilis data terpisah minggu ini menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) naik lebih dari yang diperkirakan pada Januari 2023.

Bullard mengakui inflasi masih terlalu tinggi, tetapi suku bunga yang lebih tinggi akan tetap terkendali meskipun pertumbuhan ekonomi terus berlanjut dan pasar tenaga kerja yang kuat.

“Faktor-faktor ini dapat digabungkan untuk menjadikan 2023 sebagai tahun disinflasi,” kata Bullard.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 8 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia