Jumat, 15 Mei 2026

Credit Suisse Menimbang Pilihan, di Bawah Tekanan Bergabung ke UBS

Penulis : Grace El Dora
18 Mar 2023 | 16:24 WIB
BAGIKAN
Logo bank terbesar kedua di Swiss "Credit Suisse" di kantor pusatnya di Zurich pada 23 Maret 2022. (Foto: Fabrice COFFRINI / AFP)
Logo bank terbesar kedua di Swiss "Credit Suisse" di kantor pusatnya di Zurich pada 23 Maret 2022. (Foto: Fabrice COFFRINI / AFP)

JENEWA, investor.id – Credit Suisse Group AG kini menimbang pilihan, karena regulator mendesaknya untuk mengejar kesepakatan dengan saingan UBS AG Swiss.

CFO Credit Suisse Dixit Joshi dan timnya akan mengadakan pertemuan di akhir pekan ini untuk menilai skenario strategis bank, kata orang-orang yang mengetahui masalah tersebut, dilansir dari Reuters Sabtu (18/3).

Bank berusia 167 tahun itu adalah nama terbesar yang terjerat dalam gejolak pasar akibat runtuhnya pemberi pinjaman Amerika Serikat (AS) Silicon Valley Bank (SVB) dan Signature Bank selama seminggu terakhir, memaksa bank Swiss untuk memanfaatkan US$ 54 miliar dalam pendanaan bank sentral.

ADVERTISEMENT

Regulator Swiss mendorong UBS dan Credit Suisse untuk bergabung tetapi tidak ada bank yang mau melakukannya, kata satu sumber yang dikutip Reuters. Regulator tidak memiliki kekuatan untuk memaksa merger, kata orang tersebut.

Dewan UBS dan Credit Suisse diharapkan bertemu secara terpisah selama akhir pekan ini, menurut laporan Financial Times.

Credit Suisse Menimbang Pilihan, di Bawah Tekanan Bergabung ke UBS
Credit Suisse dan First Republic Bank. (Foto: Reuters)

Saham Credit Suisse melonjak 9% dalam perdagangan setelah pasar setelah laporan FT. Credit Suisse dan UBS menolak berkomentar.

Pada tanda terbaru dari masalah yang memuncak, setidaknya empat bank besar termasuk Societe Generale SA dan Deutsche Bank AG, telah membatasi perdagangan mereka yang melibatkan Credit Suisse atau sekuritasnya, kata lima orang yang mengetahui langsung masalah tersebut kepada Reuters.

“Langkah bank sentral Swiss adalah langkah yang diperlukan untuk menenangkan kondisi, tetapi itu mungkin tidak cukup untuk memulihkan kepercayaan pada Credit Suisse, jadi ada pembicaraan tentang langkah-langkah lebih lanjut,” kata kepala strategis investasi di RBC Wealth Management Frederique Carrier, Sabtu.

Upaya untuk menopang Credit Suisse datang ketika regulator termasuk Bank Sentral Eropa (ECB) dan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berusaha meyakinkan investor dan deposan bahwa system perbankan global aman. Namun kekhawatiran akan masalah yang lebih luas di sektor ini tetap ada.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia