Jumat, 15 Mei 2026

Perang Melawan Inflasi Belum Berakhir

Penulis : Happy Amanda Amalia
19 Apr 2023 | 16:16 WIB
BAGIKAN
Bank Sentral Eropa (ECB) di sungai Main di Frankfurt, Jerman pada 6 Oktober 2021. (Foto: AP/Michael Probst, file)
Bank Sentral Eropa (ECB) di sungai Main di Frankfurt, Jerman pada 6 Oktober 2021. (Foto: AP/Michael Probst, file)

WASHINGTON, investor.id Bank-bank sentral utama di dunia masih terus menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi tinggi. Akhir dari pertempuran ini belum diketahui, karena kenaikan harga-harga terbukti lebih sulit untuk diredam.

Para analis mengingatkan pasar keuangan masih dapat mengalami gejolak di tengah prosesnya.

Seperti diberitakan, Federal Reserve (Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), dan bank sentral Inggris (BoE) masih menaikkan suku bunga.

Regulator di tiga bank sentral itu terang-terangan menyatakan ketidakpastian besar menggelayuti proyeksi mereka soal inflasi. Risikonya bahkan harus menaikkan suku bunga lebih banyak dari yang diharapkan.

ADVERTISEMENT

Namun tiga bank sentral utama dunia itu juga merasa makin dekat dengan puncak suku bunga pada putaran pengetatan kebijakan moneter ini.

Ketiga bank sentral masih berpegang teguh pada proyeksi bahwa inflasi bakal melambat stabil selama satu atau dua tahun ke depan, tanpa menghambat aktivitas ekonomi.

Akan tetapi, pandangan tersebut menuai respons skeptis dari regulator dan analis global terkemuka. Mereka melihat adanya kekurangan tenaga kerja yang terus-menerus di dunia, kesenjangan pasokan global, dan pasar keuangan yang goyah.

Hal ini dapat memaksa membuat pilihan antara inflasi lebih tinggi dan lebih lama, atau resesi mendalam untuk memperbaikinya.

“Dalam ekonomi global yang lebih terkotak-kotak, yang muncul dari pandemi Covid-19, kita akan dihantam oleh lebih banyak guncangan pasokan, dan kebijakan moneter menghadapi pengorbanan yang jauh lebih serius,” ujar Wakil Direktur Pelaksana Pertama Dana Moneter Internasional (IMF) Gita Gopinath, dilansir Reuters pada Rabu (19/4).

Komentar Gopinath pun telah digaungkan oleh pihak-pihak lain yang merasa narasi yang disampaikan tiga bank sentral terkemuka mengenai disinflasi, yang relatif bebas biaya, berada di landasan yang goyah.

Hal tersebut, tentu tidak sesuai dengan masa lalu. Gopinath mengatakan tidak ada preseden historis untuk inflasi tinggi yang dapat diredam tanpa meningkatkan pengangguran.

Perlambatan atau Resesi

Lebih lanjut lagi, argumen bahwa kali ini akan berbeda sepertinya bertumpu pada harapan bersama bahwa inflasi di dunia pasca pandemi bakal berperilaku sama seperti sebelumnya. Dengan kata lain, berlabuh di level yang lebih rendah dan bukan lebih tinggi, dengan sedikit kebutuhan akan output di bawah standar atau meningkatnya pengangguran untuk mengendalikannya.

Itu adalah pandangan yang, meskipun tidak secara langsung, masih menganggap serangan inflasi saat ini setidaknya agak sementara. Produk dari penyesuaian yang sedang berlangsung terhadap guncangan sekali dalam satu abad dari pandemi, dan tekanan tambahan pada harga komoditas dari invasi Rusia ke Ukraina.

Alasan penaikan suku bunga ditujukan menjaga permintaan yang cukup guna mengurangi tekanan harga, dan menjaga ekspektasi inflasi publik tetap terkendali ketika distorsi tersebut berlalu dan tren inflasi sebelumnya muncul kembali.

Khususnya, setelah salah satu gangguan paling keras terhadap ekonomi global, yakni ketegangan geopolitik makin meningkat, dan diperburuk oleh perang yang belum terselesaikan di Eropa. Juga estimasi rerata para pembuat kebijakan The Fed tentang suku bunga kebijakan jangka panjang yang konsisten dengan inflasi tetap stabil di kisaran 2,5%.

Kondisi ini sama seperti yang telah terjadi, sejak Juni 2019 di tengah momen puncak kepercayaan diri dari para pembuat kebijakan terhadap dunia yang sebagian besar mengalami deflasi.

Prospek inflasi yang turun itu pun seiring dengan kembalinya kondisi sebelum pandemi secara bertahap, yang tersirat pada bagaimana bank sentral menyusun langkah ke depan.

Sebagai informasi, di antara The Fed, ECB dan BoE hanya bank sentral Inggris yang memproyeksikan resesi diperlukan untuk memperlambat inflasi hanya sebagai resesi ringan.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia