Fed Naikan Suku Bunga 25 Bps, Buka Opsi Jeda
WASHINGTON, investor.id - Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar seperempat poin persentase atau 25 basis poin (bps) pada Rabu waktu setempat (3/5/2023). The Fed juga mengisyaratkan akan membuka opsi menghentikan kenaikan lebih lanjut, memberikan waktu bagi pejabat untuk menilai dampak dari kegagalan bank baru-baru ini, menunggu resolusi kebijakan politik, kebuntuan atas plafon utang AS, dan memantau perkembangan inflasi.
Dikutip dari Reuters, langkah tersebut menandai tahap baru manajemen bank sentral AS untuk pemulihan dari pandemi Covid-19. Dengan kemungkinan merupakan kenaikan suku bunga terakhir dari siklus pengetatan saat ini dan meningkatkan perhatian terhadap risiko yang dihadapi perekonomian. The Fed kini telah menaikkan suku bunga sebanyak sepuluh kali berturut-turut sejak Maret 2022, mendorong suku bunga acuan overnight ke kisaran 5,00%-5,25%.
Terdapat perubahan secara tersirat, bank sentral tidak lagi mengatakan ‘mengantisipasi’ suku bunga lebih lanjut akan diperlukan, tapi hanya akan mengamati data yang masuk untuk menentukan apakah lebih banyak kenaikan ‘mungkin sesuai’.
Perubahan tersebut mengingatkan dengan pernyataan yang digunakan ketika menghentikan kenaikan suku bunga pada 2006, The Fed mengatakan dalam pernyataan kebijakan hari Rabu bahwa ‘dalam menentukan sejauh mana penguatan kebijakan tambahan mungkin tepat’, pejabat akan mempelajari bagaimana ekonomi, inflasi dan pasar keuangan, berperilaku dalam beberapa minggu dan bulan mendatang.
Namun, pernyataan baru tersebut tidak menjamin Fed akan mempertahankan suku bunga stabil pada pertemuan kebijakan berikutnya pada bulan Juni, dan pernyataan tersebut mencatat bahwa ‘inflasi tetap tinggi’, dan perolehan pekerjaan masih ‘berjalan dengan kecepatan yang kuat’.
Pada konferensi pers setelah rilis pernyataan tersebut, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bank sentral masih memandang inflasi terlalu tinggi dan tetap khawatir dengan tekanan harga yang tinggi.
Karena itu, Powell mengatakan terlalu dini untuk mengatakan bahwa siklus kenaikan suku bunga telah berakhir. "Kami siap untuk berbuat lebih banyak dengan kenaikan suku bunga jika diperlukan, dan pejabat tidak memutuskan pada pertemuan untuk menghentikan kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan bulan Juni, dan apa yang terjadi selanjutnya pada suku bunga adalah keputusan yang akan dibuat oleh para pejabat pada ‘pertemuan demi pertemuan’,” kata Powell.
Tetapi Powell juga mengatakan, dia melihat kebijakan moneter sedekat mungkin dengan tempat yang mungkin perlu diistirahatkan. "Jika Anda menambahkan semua pengetatan yang terjadi melalui berbagai saluran, kami merasa seperti semakin dekat atau bahkan mungkin ada pada kebijakan moneter. ‘Kebijakan ketat’ dan itu memungkinkan bank sentral melakukan cukup banyak suku bunga,” tambah Powell.
Dia juga mendorong kembali ekspektasi pasar tentang penurunan suku bunga tahun ini dan mengatakan itu sangat tidak mungkin terjadi. "Kami di komite berpandangan bahwa inflasi akan turun tidak secepat itu, itu akan memakan waktu. Di dunia itu, jika ramalan itu benar secara luas, tidak tepat untuk memangkas suku bunga pada tahun ini,” ucapnya.
Soft Landing
Tingkat kebijakan Fed sekarang kira-kira sama seperti krisis ketidakstabilan keuangan pada 16 tahun yang lalu, dan berada pada tingkat yang diproyeksikan oleh mayoritas pejabat Fed pada bulan Maret sebenarnya akan ‘cukup membatasi’ untuk mengembalikan inflasi ke target. Inflasi saat ini masih lebih dari dua kali lipat dari target level 2%.
“Pertumbuhan ekonomi tetap moderat, tetapi perkembangan terakhir cenderung menghasilkan kondisi kredit yang lebih ketat untuk rumah tangga dan bisnis dan membebani aktivitas ekonomi, perekrutan dan inflasi," kata Fed.
Powell juga mencatat bahwa dia masih bertahan untuk ‘soft landing’, dengan mengatakan kasus menghindari resesi dalam pandangannya lebih mungkin daripada mengalami resesi. Soft landing adalah skenario di mana pengetatan moneter memperlambat ekonomi, dan inflasi, tanpa memicu resesi.
Risiko seputar kegagalan beberapa bank AS baru-baru ini dan kebuntuan batas utang antara Partai Republik di Kongres dan Presiden Demokrat Joe Biden telah menambah kewaspadaan Fed untuk mencoba memperketat kondisi keuangan lebih lanjut.
Pergeseran ini tercermin dalam harga berjangka suku bunga AS, yang menunjukkan ekspektasi luas untuk tidak ada kenaikan di salah satu dari dua pertemuan Fed berikutnya.
Pasar saham AS awalnya mempertahankan kenaikan, tetapi kemudian jatuh pada sore hari dan ditutup lebih rendah pada Rabu (3/5/2024). Imbal hasil obligasi turun tajam, sementara dolar melemah terhadap sekeranjang mata uang lainnya.
"Bagi saya kuncinya adalah perubahan satu kata, mengatakan bahwa mereka akan menentukan apakah kenaikan suku bunga di masa depan diperlukan. Sedangkan sebelumnya mereka mengantisipasi bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut akan diperlukan," kata Sam Stovall, kepala strategi investasi di CFRA Research di New York.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






